WAWASAN ASIS

Kesepakatan Kelas: Cara Menyusunnya Bersama Murid

Cara menyusun kesepakatan kelas bersama murid di awal semester: langkah diskusi, contoh per jenjang, konsekuensi logis, dan cara merawatnya.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Administrasi Sekolah

Kesepakatan kelas adalah sekumpulan aturan perilaku yang dirumuskan guru bersama murid, ditulis dalam kalimat positif, dan disetujui semua pihak di awal semester. Bedanya dengan tata tertib biasa: murid ikut memikirkan alasannya, sehingga mereka merasa memiliki aturan itu. Cara menyusunnya cukup satu sampai dua jam pelajaran: ajak murid membayangkan kelas yang nyaman, kumpulkan usulan, kelompokkan, rumuskan ulang menjadi kalimat positif, lalu sepakati konsekuensinya.

Panduan ini membahas langkah demi langkah, contoh untuk SD, SMP, dan SMA, cara menentukan konsekuensi yang adil, serta cara menjaga agar aturan tidak hanya menjadi poster yang menguning di dinding.

Mengapa aturan perlu disusun bersama murid

Aturan yang dibuat sepihak oleh guru sering dipatuhi hanya ketika guru ada di ruangan. Begitu guru keluar, kelas kembali gaduh. Murid tidak merasa aturan itu milik mereka.

Ketika murid ikut merumuskan, ada tiga hal yang berubah:

  • Rasa memiliki. Murid lebih mudah mengingatkan temannya karena aturan itu hasil keputusan bersama.
  • Pemahaman alasan. Diskusi memaksa murid berpikir mengapa sebuah perilaku penting, bukan sekadar menghafal larangan.
  • Latihan bermusyawarah. Proses menyusun aturan adalah latihan demokrasi kecil yang nyata, sejalan dengan dimensi kewargaan dan kolaborasi dalam profil lulusan.

Pendekatan ini juga menjadi pintu masuk disiplin positif, yang menekankan tanggung jawab dan pemulihan alih-alih hukuman.

Persiapan guru sebelum sesi

Jangan datang ke kelas dengan tangan kosong. Siapkan:

  1. Nilai inti yang tidak bisa ditawar. Misalnya keselamatan, saling menghormati, dan kejujuran. Guru boleh menyampaikan bahwa usulan murid harus sejalan dengan nilai ini dan dengan tata tertib sekolah.
  2. Bahan. Kertas tempel atau potongan kertas, spidol, kertas plano, dan selotip.
  3. Waktu. Satu sampai dua jam pelajaran di minggu pertama. Jangan ditunda sampai minggu ketiga, karena kebiasaan kelas sudah terbentuk.
  4. Tata tertib sekolah. Pastikan Bapak/Ibu tahu isinya agar hasil diskusi tidak bertentangan.

Langkah menyusun kesepakatan kelas

1. Bayangkan kelas impian

Buka dengan pertanyaan sederhana: "Kelas seperti apa yang membuat kalian betah belajar?" dan "Apa yang membuat kalian tidak nyaman di kelas?" Minta murid menulis jawaban di kertas tempel, satu ide per kertas. Untuk kelas rendah SD, guru bisa menuliskan jawaban yang diucapkan murid.

2. Kumpulkan dan kelompokkan usulan

Tempel semua kertas di papan. Bersama murid, kelompokkan ide yang mirip. Biasanya muncul kelompok seperti: cara berbicara, menjaga barang, kebersihan, waktu, dan saling membantu.

3. Ubah larangan menjadi kalimat positif

Usulan murid sering berbentuk larangan: "Jangan ribut", "Jangan menyontek". Ajak mereka mengubahnya menjadi perilaku yang diharapkan.

Usulan awal Rumusan positif
Jangan ribut saat guru menjelaskan Kami mendengarkan saat orang lain berbicara
Jangan mengambil barang teman Kami meminta izin sebelum memakai barang orang lain
Jangan buang sampah sembarangan Kami menjaga kelas tetap bersih
Jangan telat Kami datang tepat waktu dan siap belajar
Jangan mengejek Kami berbicara dengan sopan dan menghargai perbedaan

Kalimat positif memberi tahu apa yang harus dilakukan, bukan hanya apa yang dilarang.

4. Pangkas menjadi lima sampai tujuh butir

Daftar yang terlalu panjang tidak akan diingat. Lakukan pemungutan suara sederhana atau gabungkan butir yang tumpang tindih. Lima sampai tujuh butir sudah cukup untuk satu kelas.

5. Sepakati konsekuensi

Tanyakan: "Kalau ada yang lupa, apa yang sebaiknya terjadi?" Arahkan agar konsekuensi bersifat logis dan memulihkan, bukan mempermalukan (bagian berikutnya membahas ini lebih rinci).

6. Tanda tangani dan pajang

Tulis hasil akhir di kertas plano dengan rapi. Semua murid dan guru membubuhkan tanda tangan atau cap jari. Pajang di tempat yang terlihat. Simpan juga fotonya sebagai dokumentasi wali kelas.

Konsekuensi logis, bukan hukuman

Konsekuensi yang baik punya tiga ciri: berkaitan langsung dengan perilakunya, wajar beratnya, dan menghormati martabat murid.

Perilaku Hukuman yang kurang tepat Konsekuensi logis
Mencoret meja Berdiri di depan kelas Membersihkan meja yang dicoret
Terlambat mengumpulkan tugas Nilai nol tanpa kesempatan Menyelesaikan tugas di jam istirahat bersama guru
Mengejek teman Dimarahi di depan kelas Berbicara empat mata dan meminta maaf secara langsung
Merusak alat praktik Didenda uang Membantu merapikan alat praktik berikutnya

Hindari hukuman fisik, kata-kata yang merendahkan, atau mengumumkan nama di depan teman. Selain tidak efektif, praktik tersebut bertentangan dengan semangat budaya sekolah yang aman dan nyaman.

Contoh hasil per jenjang

SD kelas rendah (1–3)

Gunakan kalimat pendek dan gambar.

  1. Kami mengangkat tangan sebelum berbicara.
  2. Kami berjalan pelan di dalam kelas.
  3. Kami meminjam dengan sopan.
  4. Kami membuang sampah di tempatnya.
  5. Kami saling membantu.

SMP

  1. Kami mendengarkan ketika orang lain berbicara.
  2. Kami menyimpan ponsel di tas kecuali guru mengizinkan.
  3. Kami mengumpulkan tugas sesuai waktu yang disepakati.
  4. Kami menghargai pendapat yang berbeda.
  5. Kami menjaga kebersihan kelas sesuai jadwal piket.
  6. Kami jujur saat mengerjakan tugas dan ujian.

SMA/SMK

  1. Kami hadir tepat waktu dan siap belajar.
  2. Kami memakai perangkat digital untuk keperluan belajar selama jam pelajaran.
  3. Kami menyampaikan kritik dengan sopan dan berdasarkan fakta.
  4. Kami menyelesaikan konflik dengan berbicara langsung, bukan lewat media sosial.
  5. Kami bertanggung jawab atas pekerjaan kelompok.
  6. Kami menjaga keselamatan di ruang praktik sesuai prosedur.

Merawat kesepakatan agar tidak hanya jadi pajangan

Kesepakatan kelas yang baik adalah dokumen hidup. Beberapa kebiasaan yang membantu:

  • Rujuk saat ada masalah. Alih-alih menegur panjang, tunjuk poster dan tanyakan: "Butir nomor berapa yang perlu kita ingat?"
  • Beri pengakuan. Sebutkan perilaku baik secara spesifik, misalnya "Terima kasih, kelompok tiga sudah mendengarkan dengan baik."
  • Tinjau berkala. Setiap akhir bulan atau tengah semester, ajak murid menilai butir mana yang sudah berjalan dan mana yang perlu diperbaiki.
  • Libatkan guru mata pelajaran. Bagikan hasilnya kepada semua guru yang mengajar di kelas itu agar penerapannya konsisten.
  • Catat pola, bukan hanya kejadian. Bila satu murid berulang kali melanggar, ini sinyal untuk berbicara dengan murid, orang tua, atau guru BK.

Kesalahan yang sering terjadi

Guru sudah menyiapkan daftar, murid hanya diminta setuju. Murid cepat menangkap bahwa diskusinya pura-pura. Biarkan kata-kata murid tetap terlihat dalam rumusan akhir.

Terlalu banyak butir. Lima belas aturan sama dengan tidak ada aturan. Pilih yang paling penting.

Konsekuensi tidak diterapkan konsisten. Bila satu murid ditegur dan murid lain dibiarkan, kepercayaan pada kesepakatan runtuh.

Tidak dikomunikasikan ke orang tua. Orang tua yang tahu isi kesepakatan bisa ikut menguatkannya di rumah.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa bedanya kesepakatan kelas dengan tata tertib sekolah?

Tata tertib berlaku untuk seluruh sekolah dan ditetapkan sekolah. Kesepakatan di tingkat kelas disusun bersama murid, lebih spesifik pada kebiasaan di kelas itu, dan tidak boleh bertentangan dengan tata tertib sekolah.

Kapan waktu terbaik menyusunnya?

Di minggu pertama tahun ajaran atau semester baru, sebelum kebiasaan kelas terbentuk. Bila kelas sudah berjalan, tetap bisa disusun ulang dengan memulai dari masalah yang sedang dirasakan.

Apakah murid kelas 1 SD sudah bisa ikut menyusun?

Bisa. Guru menuliskan usulan yang diucapkan murid, lalu melengkapinya dengan gambar. Gunakan maksimal lima butir yang sangat sederhana.

Bagaimana jika ada murid yang terus melanggar?

Ajak berbicara empat mata untuk memahami penyebabnya. Bila berulang, catat polanya dan libatkan orang tua serta guru BK. Hindari mempermalukan murid di depan teman.

Perlukah kesepakatan direvisi?

Perlu. Tinjau setidaknya tengah semester. Butir yang sudah menjadi kebiasaan boleh diganti dengan perilaku lain yang perlu dilatih.

ASIS: Kesepakatan Terjaga, Catatan Perilaku Tidak Tercecer

Kesepakatan sering gagal bukan karena isinya buruk, tetapi karena catatan pelaksanaannya tercecer. Teguran ada di ingatan guru A, pujian di buku guru B, dan wali kelas baru tahu ada masalah ketika sudah membesar. Padahal pola perilaku murid hanya terlihat bila catatannya terkumpul di satu tempat.

ASIS memegang prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Di ASIS, catatan perkembangan masuk ke profil murid yang utuh, sehingga wali kelas dan guru BK melihat gambaran yang sama. Layanan BK membantu menindaklanjuti murid yang perlu pendampingan, dan wali kelas bisa mengabarkan perkembangan ke orang tua lewat notifikasi aplikasi atau kotak masuk aplikasi, lengkap dengan jam tenang. Setiap peran hanya melihat data yang ia perlukan.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.