SIM MA: Modul Penting dan Prioritas Penerapan di Aliyah
SIM MA adalah sistem informasi manajemen madrasah aliyah. Kenali modul pentingnya, cara menentukan prioritas, dan urutan penerapan per semester.
KKTP adalah kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran di Kurikulum Merdeka. Pahami pengertian, beda dengan KKM, dan salah kaprahnya.
KKTP adalah singkatan dari Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran, yaitu ukuran yang dipakai guru untuk menilai apakah murid sudah mencapai satu tujuan pembelajaran tertentu dalam Kurikulum Merdeka. Berbeda dengan KKM yang biasanya berupa satu angka batas untuk satu mata pelajaran, KKTP melekat pada setiap tujuan pembelajaran dan bisa berbentuk deskripsi, rubrik, atau interval nilai. Singkatnya, KKM menjawab "berapa nilai minimal?", sedangkan KKTP menjawab "bukti apa yang menunjukkan murid sudah mampu?".
Artikel ini fokus pada pengertian dan perbedaannya. Untuk langkah teknis menyusun KKTP, Bapak/Ibu bisa membaca cara menentukan KKTP.
Pada kurikulum sebelumnya, sekolah menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk setiap mata pelajaran. Angka seperti 70 atau 75 menjadi patokan. Murid di bawah angka itu harus remedial.
Kurikulum Merdeka menggeser fokus dari angka ke tujuan. Guru menurunkan Capaian Pembelajaran menjadi tujuan pembelajaran, lalu menetapkan kriteria untuk mengetahui apakah tiap tujuan sudah tercapai. Kriteria inilah yang disebut KKTP. Jadi, KKTP adalah jembatan antara tujuan pembelajaran dan asesmen. Karena tujuan pembelajaran disusun guru, KKTP juga ditetapkan oleh guru atau tim guru mata pelajaran di satuan pendidikan.
| Aspek | KKM | KKTP |
|---|---|---|
| Kepanjangan | Kriteria Ketuntasan Minimal | Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran |
| Melekat pada | Mata pelajaran atau kompetensi dasar | Setiap tujuan pembelajaran |
| Bentuk | Umumnya satu angka | Deskripsi, rubrik, atau interval nilai |
| Fokus | Batas lulus | Bukti kemampuan yang diharapkan |
| Penentuan | Sering berdasarkan kompleksitas, daya dukung, intake | Berdasarkan tujuan dan bukti belajar yang diharapkan |
| Penggunaan utama | Menentukan tuntas atau remedial | Umpan balik dan tindak lanjut pembelajaran |
| Pesan ke murid | "Nilaimu kurang dari 75" | "Kamu sudah bisa A, masih perlu berlatih B" |
Perbedaan paling penting ada pada fungsi. KKM sering berhenti sebagai label lulus atau tidak. KKTP dirancang agar guru tahu bagian mana yang belum dikuasai murid, sehingga tindak lanjutnya tepat.
Guru menuliskan indikator yang harus tampak. Murid dianggap mencapai tujuan bila semua atau sebagian besar indikator terpenuhi.
Contoh untuk tujuan "Murid mampu menulis teks deskripsi tentang tempat wisata":
Rubrik memuat beberapa kriteria dengan tingkat capaian, misalnya "perlu bimbingan", "cukup", "baik", dan "sangat baik". Bentuk ini cocok untuk tugas kinerja seperti presentasi, praktik, atau proyek. Contoh lengkapnya ada di artikel contoh rubrik penilaian.
Guru tetap memakai angka, tetapi menafsirkan rentangnya. Contoh:
| Interval | Makna | Tindak lanjut |
|---|---|---|
| 0–40 | Belum mencapai, perlu bimbingan di seluruh bagian | Pembelajaran ulang |
| 41–65 | Belum mencapai, perlu bimbingan di sebagian bagian | Remedial bagian tertentu |
| 66–85 | Sudah mencapai | Penguatan |
| 86–100 | Sudah mencapai, perlu pengayaan | Tantangan lanjutan |
Rentang di atas hanya contoh. Satuan pendidikan dapat menetapkan rentang sendiri yang lebih sesuai.
Ini yang paling sering. Sekolah mengganti tulisan KKM 75 menjadi KKTP 75 untuk semua tujuan. Hasilnya, cara berpikirnya tetap sama: angka tanpa makna. Bila memakai interval, pastikan setiap rentang punya arti dan tindak lanjut yang jelas.
Tidak. Tujuan pembelajaran berbeda, maka kriterianya juga berbeda. Tujuan membaca peta dan tujuan memainkan alat musik jelas tidak bisa diukur dengan kriteria yang sama.
KKTP justru sangat berguna dalam asesmen formatif. Guru bisa memeriksa ketercapaian di tengah proses lalu menyesuaikan pembelajaran sebelum terlambat. Lihat bedanya di asesmen formatif dan sumatif.
Tidak perlu. Tiga sampai lima indikator yang jelas sudah cukup untuk satu tujuan. Yang penting murid dan guru memahami apa yang dimaksud.
| Jenjang | Tujuan pembelajaran | Contoh KKTP (deskripsi) |
|---|---|---|
| SD kelas 2 | Mengurutkan bilangan sampai 100 | Mengurutkan 10 bilangan acak dengan benar dan menjelaskan caranya |
| SMP kelas 8 | Menjelaskan sistem pencernaan manusia | Menyebutkan urutan organ, fungsi tiap organ, dan satu gangguan beserta pencegahannya |
| SMA kelas 10 | Menganalisis teks berita | Menemukan unsur 5W+1H, membedakan fakta dan opini, menilai kredibilitas sumber |
| SMK | Melakukan servis berkala sepeda motor | Mengikuti urutan SOP, memakai alat yang tepat, menerapkan K3 |
Bagi sekolah yang baru beralih, perubahan bisa dilakukan bertahap dalam rapat tim mata pelajaran.
Langkah ini tidak perlu sempurna di semester pertama. Perbaiki setiap kali tim guru melihat kriteria yang terlalu longgar atau terlalu ketat.
Hasil asesmen terhadap KKTP diolah menjadi nilai akhir dan deskripsi capaian di rapor. Deskripsi rapor biasanya menyebut tujuan yang sudah dikuasai dengan baik dan tujuan yang masih perlu ditingkatkan. Inilah keuntungan KKTP: deskripsi rapor tidak lagi kalimat umum, melainkan bersumber dari capaian per tujuan yang nyata.
Cara mengolahnya bisa dibaca di artikel mengolah nilai rapor Kurikulum Merdeka.
Dalam praktik Kurikulum Merdeka, ya, KKTP menggantikan peran KKM. Namun cara kerjanya berbeda karena KKTP melekat pada tujuan pembelajaran, bukan pada mata pelajaran.
Guru atau tim guru mata pelajaran di satuan pendidikan, sesuai tujuan pembelajaran yang mereka susun.
Boleh, dalam bentuk interval nilai, asalkan setiap rentang punya makna dan tindak lanjut yang jelas.
Sebaiknya ya. KKTP membantu guru merancang asesmen dan membuat murid tahu sejak awal apa yang diharapkan.
Perlu. Murid yang memahami kriteria keberhasilan lebih mudah menilai diri sendiri dan memperbaiki hasil belajarnya.
Banyak guru sudah menyusun KKTP dengan baik, tetapi hasilnya tercecer di lembar penilaian, file pengolah angka, dan buku catatan. Menjelang rapor, semua harus dipindahkan lagi, dan deskripsi capaian akhirnya ditulis seragam karena waktu habis.
ASIS menyediakan perangkat ajar Kurikulum Merdeka dan e-Rapor Kurikulum Merdeka yang memakai data yang sama, sesuai prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Bank soal dengan bantuan AI membantu guru menyiapkan butir yang selaras dengan tujuan, tetapi setiap butir tetap wajib ditinjau guru sebelum dipakai. Lembar jawaban ber-QR mempermudah pengumpulan hasil, sehingga guru punya lebih banyak waktu untuk tindak lanjut.
ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.
SIM MA adalah sistem informasi manajemen madrasah aliyah. Kenali modul pentingnya, cara menentukan prioritas, dan urutan penerapan per semester.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.