WAWASAN ASIS

Kokurikuler Lintas Mata Pelajaran: Cara Menyusunnya

Cara menyusun kokurikuler lintas mata pelajaran sesuai Permendikdasmen 13/2025: pilih tema, petakan tujuan tiap mapel, bagi peran guru, dan asesmen.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Panduan

Kokurikuler lintas mata pelajaran adalah kegiatan bertema yang menggabungkan tujuan pembelajaran dari dua atau lebih mata pelajaran untuk menjawab satu masalah nyata. Cara menyusunnya: pilih tema yang dekat dengan kehidupan murid, petakan tujuan pembelajaran setiap mata pelajaran yang relevan, susun alur kegiatan dengan satu produk akhir, bagi peran guru, lalu rancang asesmen bersama. Bentuk ini sejalan dengan Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 yang menyebut kokurikuler dapat dilaksanakan melalui pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu.

Panduan ini membahas langkah perancangan, contoh terisi untuk tiga jenjang, dan cara menghindari kegiatan yang sekadar ramai tanpa makna.

Apa yang berubah dengan Permendikdasmen 13/2025

Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 mengubah Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang kurikulum. Pasal 18 menyebut kokurikuler dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dan/atau cara lainnya. Muatannya dituangkan dalam tema yang dikembangkan sekolah sesuai konteks sosial budaya dan karakteristik murid.

Aturan ini juga merumuskan delapan dimensi yang menjadi arah pengembangan murid: keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Kegiatan kokurikuler yang baik menyasar beberapa dimensi ini secara sadar, bukan kebetulan.

Bagi guru, artinya sekolah punya keleluasaan lebih besar. Tidak ada daftar tema wajib. Yang dinilai adalah kebermaknaan kegiatan bagi murid. Di sinilah kokurikuler lintas mata pelajaran menjadi pilihan menarik, karena murid melihat bahwa ilmu dari berbagai pelajaran saling terhubung saat dipakai memecahkan masalah sungguhan.

Langkah 1: Mulai dari masalah nyata, bukan dari mata pelajaran

Kesalahan paling umum adalah memulai dengan pertanyaan "mata pelajaran apa saja yang bisa digabung?" Hasilnya sering terasa dipaksakan. Mulailah dari masalah yang dekat dengan murid.

Contoh sumber tema:

  • Sampah plastik di kantin sekolah.
  • Banjir atau kekeringan musiman di lingkungan sekitar.
  • Kebiasaan sarapan murid yang kurang sehat.
  • Usaha kecil keluarga di sekitar sekolah yang kesulitan pemasaran.
  • Tradisi lokal yang mulai jarang dikenal anak muda.

Uji tema dengan tiga pertanyaan: apakah murid peduli, apakah bisa diamati langsung, dan apakah murid bisa berbuat sesuatu?

Langkah 2: Petakan tujuan pembelajaran setiap mata pelajaran

Setelah tema terpilih, setiap guru membuka ATP mata pelajarannya dan mencari tujuan pembelajaran yang benar-benar relevan. Satu mata pelajaran cukup menyumbang satu atau dua tujuan.

Contoh pemetaan untuk tema "Sampah plastik di kantin" di SMP kelas 8:

Mata pelajaran Kontribusi tujuan Kegiatan
IPA Menjelaskan dampak pencemaran terhadap ekosistem Mengamati dan mencatat jenis sampah
Matematika Mengolah dan menyajikan data statistik Menghitung volume sampah harian, membuat diagram
Bahasa Indonesia Menulis teks persuasif Menulis surat usulan kepada pengelola kantin
IPS Menganalisis peran pelaku ekonomi Wawancara pedagang kantin tentang biaya kemasan
Seni Budaya Membuat karya dari bahan daur ulang Merancang poster atau karya kampanye

Bila satu mata pelajaran tidak punya tujuan yang cocok, jangan dipaksakan masuk. Tiga mata pelajaran yang benar-benar terhubung lebih baik daripada enam yang ditempelkan.

Langkah 3: Susun alur kegiatan dengan satu produk akhir

Alur yang jelas membuat murid tahu ke mana kegiatan bergerak. Pola umum:

  1. Pemantik. Murid mengamati masalah langsung, misalnya memotret tumpukan sampah setelah jam istirahat.
  2. Penyelidikan. Murid mengumpulkan data, mewawancarai, dan membaca sumber.
  3. Perancangan solusi. Kelompok mengusulkan tindakan.
  4. Aksi. Usulan diuji coba dalam skala kecil.
  5. Berbagi. Hasil dipresentasikan kepada warga sekolah atau orang tua.
  6. Refleksi. Murid menuliskan apa yang dipelajari dan apa yang ingin diperbaiki.

Produk akhir sebaiknya satu dan konkret, misalnya rekomendasi tertulis kepada Kepala Sekolah, pameran, atau kampanye. Produk ini menjadi benang merah yang menyatukan kontribusi setiap mata pelajaran.

Langkah 4: Bagi peran guru dan atur waktu

Kegiatan kokurikuler lintas mata pelajaran butuh koordinasi. Tetapkan satu koordinator, biasanya wali kelas atau guru yang mengusulkan tema.

Peran Tugas
Koordinator Menyusun jadwal, memantau kemajuan, mengumpulkan asesmen
Guru mata pelajaran Mengajarkan bagian yang relevan, menilai sesuai tujuannya
Wali kelas Memantau kerja kelompok dan dinamika murid
Kepala Sekolah Menyetujui rencana, memfasilitasi sumber daya

Soal waktu, sekolah bisa memilih model blok (beberapa hari penuh), model mingguan (beberapa jam setiap minggu), atau model terintegrasi (dijalankan di dalam jam mata pelajaran masing-masing). Pilih sesuai jadwal dan alokasi waktu kokurikuler yang ditetapkan sekolah.

Langkah 5: Rancang asesmen bersama

Asesmen kegiatan lintas mata pelajaran punya dua lapis.

Lapis mata pelajaran. Setiap guru menilai tujuan pembelajaran yang ia sumbangkan. Guru matematika menilai ketepatan diagram, guru Bahasa Indonesia menilai surat persuasif.

Lapis kokurikuler. Tim menilai perkembangan dimensi yang disasar, misalnya kolaborasi dan penalaran kritis, dengan rubrik sederhana.

Contoh rubrik kolaborasi:

Kriteria Mulai berkembang Berkembang Cakap
Berbagi tugas Menunggu diberi tugas Mengambil tugas bila diminta Menawarkan diri dan membantu teman
Mendengarkan Sering memotong Mendengarkan sebagian Menanggapi ide teman dengan tepat
Menyelesaikan bagian Sering terlambat Selesai dengan pengingat Selesai tepat waktu dan rapi

Contoh singkat untuk jenjang lain

SD kelas 4: "Sarapan sehat di kelasku." IPAS (zat gizi), Matematika (pecahan dalam porsi makanan), Bahasa Indonesia (menulis prosedur resep sederhana), PJOK (hubungan sarapan dan energi bermain). Produk: buku resep sarapan kelas.

SMA kelas 11: "Promosi digital UMKM sekitar sekolah." Ekonomi (strategi pemasaran), Bahasa Inggris (deskripsi produk), Informatika (desain konten), Sosiologi (wawancara pelaku usaha). Produk: materi promosi yang diserahkan kepada pelaku usaha.

Kesalahan umum

Tema terlalu luas. "Lingkungan hidup" sulit ditindaklanjuti. "Sampah plastik di kantin kami" jauh lebih konkret.

Setiap guru berjalan sendiri. Tanpa rapat koordinasi singkat, murid merasa mengerjakan lima tugas terpisah.

Produk akhir terlalu mahal. Kegiatan yang membebani orang tua dengan biaya bahan bertentangan dengan semangat kokurikuler.

Asesmen hanya pada produk. Proses kerja murid sama pentingnya dengan hasil akhir.

Tidak ada refleksi. Tanpa refleksi, murid ingat keramaiannya tetapi lupa pelajarannya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah kokurikuler lintas mata pelajaran sama dengan P5?

Tidak persis. Permendikdasmen 13/2025 menghapus kaitan kokurikuler dengan istilah Profil Pelajar Pancasila dan menyebut bentuk pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu sebagai salah satu pilihan.

Berapa mata pelajaran minimal yang digabung?

Tidak ada ketentuan angka. Dua atau tiga mata pelajaran yang benar-benar terhubung sudah cukup.

Apakah nilai kokurikuler masuk rapor?

Rujuk pedoman asesmen dan rapor terbaru dari kementerian serta kebijakan sekolah. Nilai tujuan mata pelajaran tetap tercatat pada mata pelajaran masing-masing.

Bolehkah tema yang sama dipakai setiap tahun?

Boleh bila masalahnya masih relevan, tetapi perbarui pertanyaan dan aksinya agar murid tidak sekadar mengulang kegiatan kakak kelasnya.

Bagaimana bila jadwal guru sulit disatukan?

Gunakan model terintegrasi, yaitu setiap guru menjalankan bagiannya di jam mata pelajaran sendiri, dengan koordinator yang menjaga alur dan produk akhir.

ASIS: Kolaborasi Guru Tanpa Berkas yang Tercecer

Kegiatan lintas mata pelajaran sering macet karena koordinasi. Rencana kegiatan ada di satu berkas, jadwal di berkas lain, catatan perkembangan murid tersebar di buku setiap guru, dan bahan ajar dicari ulang setiap kali dibutuhkan.

ASIS memegang prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Modul perangkat ajar Kurikulum Merdeka membantu guru menyimpan perencanaan dalam satu tempat yang bisa diakses tim sesuai perannya. Profil murid yang utuh menyimpan catatan perkembangan, sehingga pengamatan guru selama kegiatan tidak hilang. Untuk bahan penyelidikan, murid dan guru dapat memakai buku pelajaran pemerintah di Pustaka serta 57 lab interaktif di Studio.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

Sumber: detikEdu, Permendikdasmen 13 Tahun 2025

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.