WAWASAN ASIS

Modul Ajar Muatan Lokal Bahasa Daerah: Contoh dan Template

Contoh modul ajar muatan lokal bahasa daerah untuk SD: memperkenalkan diri dengan ragam hormat, tiga pertemuan, asesmen, dan template siap diadaptasi.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Kurikulum & Pembelajaran

Contoh modul ajar muatan lokal bahasa daerah ini mengambil topik memperkenalkan diri dengan ragam bahasa hormat untuk kelas 4 SD, memakai Bahasa Jawa sebagai contoh. Strukturnya sengaja dibuat umum: Bapak/Ibu yang mengajar Bahasa Sunda, Bali, Madura, Bugis, Minang, Banjar, atau bahasa daerah lain cukup mengganti ungkapan dan konteks budayanya, sementara tujuan, alur kegiatan, dan asesmennya tetap bisa dipakai.

Muatan lokal ditetapkan oleh pemerintah daerah atau satuan pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk capaian dan alokasi waktunya. Sebelum memakai modul ini, cocokkan dengan kurikulum muatan lokal di daerah Bapak/Ibu.

Identitas modul

Komponen Isi
Muatan lokal Bahasa Jawa (contoh)
Kelas 4 SD/MI
Topik Memperkenalkan diri dengan ragam hormat
Alokasi waktu 3 pertemuan × 2 JP
Sarana Kartu ungkapan, video atau rekaman percakapan, kostum sederhana, lembar kerja
Model Pembelajaran berbasis pengalaman dan bermain peran

Tujuan pembelajaran

Setelah rangkaian pembelajaran, murid mampu:

  1. Menyimak dan menirukan ungkapan memperkenalkan diri dalam ragam hormat.
  2. Menggunakan ungkapan nama, tempat tinggal, kelas, dan hobi dalam dialog sederhana.
  3. Membedakan kapan memakai ragam hormat dan ragam akrab.
  4. Menunjukkan sikap sopan, seperti nada suara dan gestur, saat berbicara dengan orang yang lebih tua.

Pemahaman bermakna dan pertanyaan pemantik

Pemahaman bermakna: bahasa daerah bukan hanya kata-kata, tetapi juga cara menghormati orang lain.

Pertanyaan pemantik:

  • Bagaimana cara kalian menyapa kakek atau nenek di rumah?
  • Apakah cara bicara kepada teman sama dengan cara bicara kepada guru?
  • Mengapa orang tua kita mengajarkan bahasa yang halus?

Contoh ungkapan (Bahasa Jawa ragam krama)

Makna Ungkapan
Selamat pagi Sugeng enjing
Nama saya Bima Nami kula Bima
Saya tinggal di Desa Sukamaju Kula manggen wonten ing Desa Sukamaju
Saya kelas empat Kula kelas sekawan
Hobi saya membaca Kesenengan kula maos
Terima kasih Matur nuwun

Ungkapan krama dapat sedikit berbeda antardaerah, misalnya "Kasenengan kula maos" atau "Remenan kula maos". Ikuti kebiasaan yang dipakai di lingkungan murid.

Bila mengajar bahasa daerah lain, minta bantuan tokoh adat, guru senior, atau kamus resmi balai bahasa setempat untuk memastikan ragam yang tepat.

Kegiatan pembelajaran

Pertemuan 1: Menyimak dan menirukan

Pembuka (10 menit) Guru menyapa dengan "Sugeng enjing" dan menunggu murid menjawab. Diskusi singkat tentang cara menyapa di rumah.

Inti (50 menit)

  1. Murid menyimak rekaman atau peragaan guru tentang seorang anak yang memperkenalkan diri kepada tetua desa.
  2. Guru menempelkan kartu ungkapan dan membacakannya, murid menirukan bersama.
  3. Permainan "gema": guru mengucapkan ungkapan dengan berbagai nada, murid menirukan persis.
  4. Murid berpasangan saling mengucapkan nama dengan ungkapan yang benar.

Penutup (10 menit) Setiap murid menyebut satu ungkapan baru yang paling diingat.

Pertemuan 2: Berlatih dalam dialog

Pembuka (10 menit) Mengulang ungkapan lewat permainan lempar bola: yang menangkap bola menyebut namanya dengan ragam hormat.

Inti (50 menit)

  1. Guru menunjukkan dua situasi: berbicara dengan teman dan berbicara dengan kakek. Murid membandingkan perbedaannya.
  2. Murid mengisi lembar kerja dengan data diri dalam bahasa daerah: nama, tempat tinggal, kelas, hobi.
  3. Kelompok bertiga berlatih dialog: satu murid berperan sebagai tetua, dua murid memperkenalkan diri.
  4. Guru berkeliling membetulkan pelafalan dan sikap tubuh.

Penutup (10 menit) Refleksi: bagian mana yang paling sulit diucapkan?

Pertemuan 3: Tampil dan refleksi

Pembuka (10 menit) Murid menyiapkan kostum sederhana atau atribut, misalnya ikat kepala atau selendang.

Inti (50 menit)

  1. Setiap kelompok tampil memperagakan perkenalan dalam situasi yang dipilih: bertamu, bertemu guru baru, atau menyambut tamu sekolah.
  2. Kelompok lain memberi apresiasi dengan kalimat "Sae sanget" (bagus sekali) dan satu saran.
  3. Guru mencatat penilaian dengan rubrik.

Penutup (10 menit) Tugas di rumah: murid memperkenalkan diri kepada kakek, nenek, atau tetangga yang lebih tua, lalu menceritakan pengalamannya pada pertemuan berikutnya.

Asesmen

Formatif

  • Pengamatan pelafalan saat permainan gema.
  • Lembar kerja data diri dalam bahasa daerah.

Sumatif: unjuk kerja lisan

Kriteria Perlu bimbingan Cukup Baik Sangat baik
Ketepatan ungkapan Banyak ungkapan keliru Sebagian tepat Hampir semua tepat Semua tepat
Pelafalan Sulit dipahami Cukup jelas Jelas Jelas dan lancar
Pilihan ragam Tertukar Kadang tertukar Tepat Tepat dan konsisten
Sikap sopan Belum tampak Sebagian tampak Tampak Tampak alami

Diferensiasi

  • Murid yang tidak berbahasa daerah di rumah: berikan kartu ungkapan dengan terjemahan dan rekaman untuk diputar ulang.
  • Murid penutur asli: minta menjadi pendamping kelompok dan menambah ungkapan, misalnya cita-cita atau nama orang tua dengan ragam yang tepat.
  • Murid pemalu: boleh tampil berpasangan atau merekam suara terlebih dahulu.

Template modul ajar muatan lokal bahasa daerah

Untuk topik lain, gunakan kerangka ini:

  1. Identitas: bahasa, kelas, topik, alokasi waktu.
  2. Tujuan: menyimak, berbicara, membaca, atau menulis, ditambah sikap budaya.
  3. Pemahaman bermakna: nilai budaya yang terkandung.
  4. Ungkapan atau teks inti: dengan makna dalam Bahasa Indonesia.
  5. Kegiatan: dengar-tiru, latih dalam konteks, tampil atau berkarya.
  6. Asesmen: rubrik unjuk kerja dan lembar kerja.
  7. Diferensiasi: penutur asli dan bukan penutur.
  8. Keterlibatan keluarga: tugas yang melibatkan anggota keluarga.

Contoh topik lain: tembang atau lagu daerah, cerita rakyat setempat, nama-nama hari dan pasaran, aksara daerah, atau kosakata pasar tradisional.

Kesalahan umum

  • Mengajarkan daftar kosakata tanpa situasi pemakaian.
  • Menilai hanya dari tulisan, padahal tujuan utamanya berbicara.
  • Mengabaikan murid yang bukan penutur asli.
  • Memakai ungkapan yang tidak sesuai ragam setempat tanpa memeriksa.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah modul ajar muatan lokal bahasa daerah harus mengikuti CP nasional?

Muatan lokal mengikuti ketentuan pemerintah daerah atau satuan pendidikan. Banyak daerah menerbitkan capaian dan pedoman sendiri, jadi rujuk dokumen daerah masing-masing.

Bagaimana bila guru bukan penutur asli bahasa daerah?

Libatkan penutur asli, seperti guru senior, tokoh masyarakat, atau orang tua murid. Gunakan rekaman agar pelafalan yang ditiru murid tepat.

Bisakah modul ini dipakai untuk kelas lain?

Bisa. Untuk kelas awal, kurangi ungkapan dan perbanyak permainan. Untuk kelas atas, tambahkan teks pendek atau percakapan yang lebih panjang.

Berapa lama satu topik muatan lokal sebaiknya diajarkan?

Dua sampai empat pertemuan per topik biasanya cukup, tergantung alokasi waktu muatan lokal yang ditetapkan sekolah.

ASIS: Bahasa Daerah Diajarkan dengan Perangkat yang Tersimpan dan Dibagi

Guru bahasa daerah sering bekerja sendiri. Modul yang disusun dengan susah payah tersimpan di laptop pribadi, rekaman ungkapan ada di ponsel, dan saat guru pensiun, kekayaan itu ikut hilang dari sekolah.

ASIS menyediakan perangkat ajar Kurikulum Merdeka sehingga modul ajar muatan lokal bahasa daerah dapat disimpan dan dibagikan kepada rekan sejawat. Nilai unjuk kerja tercatat dan mengalir ke e-Rapor Kurikulum Merdeka, sementara catatan perkembangan murid tersimpan di profil murid. Aktivitas pendukung bisa dibuat di Studio (studio.asis.id) yang menyediakan 9 jenis aktivitas, dan guru dapat berbagi pengalaman di forum ASIS.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.