SIM MA: Modul Penting dan Prioritas Penerapan di Aliyah
SIM MA adalah sistem informasi manajemen madrasah aliyah. Kenali modul pentingnya, cara menentukan prioritas, dan urutan penerapan per semester.
Panduan pemberian obat cacing sekolah: dasar aturan, sasaran usia, jadwal, peran guru dan UKS, persetujuan orang tua, serta edukasi kebersihan diri murid.
Pemberian obat cacing sekolah adalah bagian dari program pemerintah untuk menurunkan angka cacingan pada anak, yang diatur dalam Permenkes Nomor 15 Tahun 2017 tentang Penanggulangan Cacingan. Di sekolah, program ini dijalankan bersama puskesmas: anak usia sekolah dasar menerima obat dosis tunggal, diminum di depan petugas, satu atau dua kali setahun sesuai tingkat cacingan di daerah. Obat saja tidak cukup. Tanpa kebiasaan cuci tangan pakai sabun dan jamban yang bersih, anak bisa kembali terinfeksi. Panduan ini menjelaskan alur program, peran guru dan UKS, serta materi edukasi kebersihan diri yang bisa langsung dipakai.
Cacingan sering tidak bergejala jelas, sehingga dianggap sepele. Padahal infeksi yang berlangsung lama dapat mengganggu penyerapan gizi, membuat anak lesu, sulit berkonsentrasi, dan berisiko anemia. Anak usia sekolah termasuk kelompok yang rentan karena sering bermain di tanah dan belum konsisten menjaga kebersihan tangan.
| Aspek | Ketentuan |
|---|---|
| Sasaran pemberian obat massal | Anak balita, prasekolah, dan usia sekolah dasar |
| Frekuensi | Dua kali setahun di daerah prevalensi tinggi, satu kali setahun di daerah prevalensi sedang |
| Daerah prevalensi rendah | Pengobatan selektif, bukan massal |
| Obat | Albendazol atau mebendazol dosis tunggal |
| Cara minum | Diminum di depan petugas, tidak dibawa pulang |
| Integrasi | Dipadukan dengan UKS, PHBS, dan program gizi anak sekolah |
| Target | Prevalensi cacingan di bawah 10 persen di setiap kabupaten/kota |
Jadwal pasti ditentukan dinas kesehatan dan puskesmas setempat. Sekolah tidak menyediakan atau membeli obat sendiri untuk pemberian massal.
Kepala Sekolah atau pembina UKS berkoordinasi dengan puskesmas untuk menetapkan tanggal, jumlah sasaran per kelas, dan petugas yang hadir. Pastikan data jumlah murid per kelas akurat agar obat cukup.
Kirim informasi beberapa hari sebelumnya: tujuan program, nama obat, cara minum, kemungkinan efek ringan, dan permintaan agar anak sarapan sebelum berangkat. Sediakan jalur bagi orang tua yang ingin bertanya atau memberi tahu kondisi khusus anak.
Petugas kesehatan memberikan obat, umumnya tablet kunyah untuk anak usia sekolah. Guru membantu menertibkan antrean dan memastikan setiap anak benar-benar menelan obat di tempat.
Catat murid yang sudah minum, yang tidak hadir, dan yang ditunda karena sakit. Pantau keluhan ringan seperti mual atau sakit perut. Murid yang tidak hadir dikoordinasikan dengan puskesmas untuk pemberian susulan.
| Pihak | Peran |
|---|---|
| Kepala Sekolah | Menyetujui jadwal, memastikan koordinasi |
| Pembina UKS | Menyiapkan data, berkomunikasi dengan puskesmas, mencatat hasil |
| Wali kelas | Memberi tahu orang tua, mendampingi di kelas |
| Dokter kecil atau kader kesehatan | Membantu edukasi dan ketertiban |
| Petugas puskesmas | Memberikan obat dan menangani keluhan |
| Orang tua | Memastikan anak sarapan, menyampaikan kondisi khusus |
Obat membunuh cacing yang ada, tetapi kebiasaan bersih mencegah infeksi ulang. Jadikan hari pemberian obat sebagai momen edukasi.
Praktikkan langkah cuci tangan bersama di wastafel sekolah. Untuk kelas awal, gunakan lagu agar durasi mencuci cukup.
| Jenjang | Kegiatan |
|---|---|
| TK dan SD kelas 1–2 | Lagu cuci tangan, cerita bergambar tentang kuman |
| SD kelas 3–4 | Pemeriksaan kuku bersama, poster kebersihan buatan murid |
| SD kelas 5–6 | Survei kebersihan jamban sekolah oleh dokter kecil, presentasi hasil |
Berikut contoh isi pemberitahuan yang bisa disesuaikan:
"Bapak/Ibu wali murid yang kami hormati, pada hari Selasa pekan depan sekolah bekerja sama dengan puskesmas akan melaksanakan pemberian obat cacing untuk murid kelas 1 sampai 6. Obat diberikan oleh petugas kesehatan dan diminum langsung di sekolah. Mohon pastikan anak sarapan sebelum berangkat. Bila anak sedang sakit atau memiliki kondisi kesehatan khusus, mohon kabari wali kelas sebelum hari pelaksanaan. Terima kasih atas dukungan Bapak/Ibu."
Kalimat yang singkat dan menenangkan membuat orang tua lebih percaya pada program pemberian obat cacing sekolah.
Setelah pelaksanaan, pembina UKS sebaiknya menyusun rekap sederhana: jumlah sasaran, jumlah yang minum obat, jumlah yang ditunda, keluhan yang muncul, dan tindak lanjut. Rekap ini berguna untuk laporan ke puskesmas sekaligus bahan perbaikan sarana, misalnya menambah wastafel atau memperbaiki jamban yang rusak. Bandingkan cakupan setiap tahun agar sekolah tahu apakah program pemberian obat cacing sekolah berjalan semakin baik.
Obat dibawa pulang. Ketentuan menegaskan obat diminum di depan petugas agar cakupan tercatat akurat dan obat tidak terbuang.
Tidak ada pemberitahuan ke orang tua. Orang tua yang tidak tahu bisa cemas bila anak mengeluh sakit perut ringan.
Program berhenti di obat. Tanpa perbaikan sarana cuci tangan dan jamban, angka cacingan sulit turun.
Pencatatan tidak rapi. Murid yang belum minum tidak terlacak dan tidak mendapat pemberian susulan.
Satu atau dua kali setahun, tergantung tingkat cacingan di daerah tersebut sesuai Permenkes 15/2017. Jadwal ditetapkan puskesmas setempat.
Obat diberikan oleh petugas kesehatan dengan dosis sesuai usia. Efek ringan seperti mual bisa terjadi. Bila ada keluhan, segera laporkan ke petugas.
Pemberian obat ditunda dan dikoordinasikan dengan puskesmas untuk pemberian susulan setelah anak sehat.
Orang tua dapat menyampaikan keberatan atau kondisi khusus anak kepada sekolah dan petugas kesehatan untuk dicarikan solusi terbaik.
Sasaran pemberian obat massal dalam Permenkes 15/2017 adalah anak balita hingga usia sekolah dasar. Untuk kelompok usia lain, ikuti arahan puskesmas setempat.
Program kesehatan di sekolah sering tersendat karena pencatatan masih di kertas. Daftar murid yang sudah minum obat ditulis tangan, murid yang absen lupa ditindaklanjuti, dan pemberitahuan ke orang tua bergantung pada surat yang belum tentu sampai.
ASIS menyediakan modul UKS untuk mencatat kegiatan kesehatan dan riwayat kesehatan murid, yang tersimpan di profil murid yang utuh. Data kelas yang sudah tercatat dipakai kembali untuk daftar sasaran, sehingga pembina UKS tidak perlu menyalin ulang. Pemberitahuan jadwal pemberian obat dan pengingat sarapan dikirim lewat notifikasi aplikasi yang gratis tanpa batas, lengkap dengan jam tenang.
ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ, termasuk catatan kesehatan santri untuk wali. Silakan mulai di asis.id.
Sumber: Permenkes Nomor 15 Tahun 2017 tentang Penanggulangan Cacingan, JDIH Kemenkes
SIM MA adalah sistem informasi manajemen madrasah aliyah. Kenali modul pentingnya, cara menentukan prioritas, dan urutan penerapan per semester.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.