WAWASAN ASIS

Profil Peserta Didik: Format Pemetaan Awal untuk Guru

Profil peserta didik untuk pemetaan awal pembelajaran: kesiapan belajar, minat, latar belakang, contoh format terisi, dan cara memakainya di kelas.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Kurikulum & Pembelajaran

Profil peserta didik adalah gambaran ringkas tentang setiap peserta didik yang dipakai guru untuk merancang pembelajaran: kesiapan belajar, minat, cara ia paling nyaman belajar, latar belakang, dan kebutuhan khusus bila ada. Profil ini biasanya disusun di awal tahun atau awal lingkup materi melalui asesmen awal, angket, dan pengamatan. Panduan ini menjelaskan isi profil, cara mengumpulkan datanya, contoh format terisi, cara memakainya untuk membagi kelompok dan memilih strategi, serta perbedaannya dengan istilah lain yang mirip.

Bedakan dengan istilah yang mirip

Istilah ini sering tertukar dengan dua hal lain:

Istilah Maksud Siapa yang memakai
Profil peserta didik (pemetaan) Gambaran kesiapan, minat, dan kebutuhan untuk merancang pembelajaran Guru mapel dan guru kelas
Profil lulusan Delapan dimensi profil lulusan yang menjadi tujuan pendidikan menurut Permendikdasmen 13/2025 Seluruh satuan pendidikan
Data peserta didik Identitas dan data administratif Operator dan wali kelas

Artikel ini membahas yang pertama. Delapan dimensi profil lulusan dibahas di artikel "8 Dimensi Profil Lulusan dan Contoh Penerapannya di Kelas", sedangkan profil yang dikelola wali kelas untuk pembinaan ada di "Profil Siswa: Isi, Format, dan Cara Wali Kelas Mengisinya".

Isi profil yang benar-benar berguna

1. Kesiapan belajar

Seberapa jauh peserta didik menguasai kemampuan prasyarat untuk materi yang akan dipelajari. Ini bagian terpenting dan diperoleh dari asesmen awal (diagnostik kognitif).

2. Minat

Topik, kegiatan, atau hobi yang disukai. Minat membantu guru memilih contoh dan konteks yang menarik.

3. Preferensi belajar

Apakah peserta didik lebih nyaman bekerja sendiri atau berkelompok, lebih suka berdiskusi atau menulis. Catatan ini berguna untuk variasi kegiatan, tetapi jangan memberi label kaku seperti "anak visual" lalu hanya mengajar dengan satu cara.

4. Latar belakang dan kondisi

Bahasa yang dipakai di rumah, akses internet atau gawai, jarak rumah, dan hal lain yang memengaruhi belajar.

5. Kebutuhan khusus

Hambatan penglihatan, pendengaran, kesulitan membaca, atau kebutuhan lain yang memerlukan akomodasi. Bila ada program pembelajaran individual, guru perlu mengetahuinya.

Cara mengumpulkan data

Sumber Contoh Kapan
Asesmen awal kognitif 5–10 soal prasyarat Awal lingkup materi
Angket minat "Kegiatan yang paling kamu sukai di waktu luang?" Awal tahun
Pengamatan Cara peserta didik bekerja dalam kelompok Pekan pertama
Catatan wali kelas dan guru BK Kondisi keluarga, kebutuhan khusus Awal tahun, dengan batas kerahasiaan
Percakapan singkat Tanya jawab lima menit Sepanjang pekan pertama

Contoh angket minat singkat

Angket yang pendek lebih jujur dijawab. Lima pertanyaan berikut cukup untuk awal tahun:

  1. Kegiatan apa yang paling kamu sukai di waktu luang?
  2. Pelajaran apa yang paling kamu sukai, dan mengapa?
  3. Kamu lebih senang belajar sendiri, berpasangan, atau berkelompok?
  4. Apa yang membuatmu sulit berkonsentrasi di kelas?
  5. Apa satu hal yang ingin kamu kuasai tahun ini?

Untuk peserta didik kelas rendah SD, pertanyaan bisa diajukan secara lisan atau dengan pilihan gambar.

Asesmen awal sebaiknya tidak dinilai dan tidak masuk rapor. Tujuannya memetakan, bukan menghakimi.

Contoh format terisi

Kelas: VII-C · Mapel: IPA · Lingkup materi: Zat dan perubahannya

Nama (fiktif) Kesiapan (hasil asesmen awal) Minat Preferensi Catatan
Arif Mahir: membedakan wujud zat Memasak Praktik langsung Bisa membantu teman saat praktikum
Bunga Perlu bimbingan: belum membedakan perubahan fisika dan kimia Menggambar Berpasangan Butuh gambar dan contoh konkret
Citra Cukup Sepak bola Diskusi kelompok Akses internet terbatas di rumah
Danu Perlu bimbingan Gim Bekerja sendiri Kesulitan membaca teks panjang, ada PPI

Format ini satu baris per peserta didik. Guru tidak perlu menulis panjang; yang penting informasinya bisa langsung dipakai.

Memakai profil di kelas

Mengelompokkan berdasarkan kesiapan

  • Perlu bimbingan: guru mendampingi dengan contoh konkret.
  • Cukup: latihan terbimbing dengan kartu petunjuk.
  • Mahir: tantangan atau tugas pengayaan.

Memakai minat sebagai pintu masuk

Arif yang suka memasak bisa diberi contoh perubahan zat saat menggoreng telur. Citra yang suka sepak bola bisa diajak mengamati perubahan pada bola yang dipompa.

Menyesuaikan tugas dengan kondisi

Peserta didik dengan akses internet terbatas tidak diberi tugas rumah yang wajib daring. Peserta didik dengan kesulitan membaca diberi teks lebih pendek atau dibacakan.

Variasi menurut jenjang

Di SD kelas rendah, guru kelas lebih banyak mengandalkan pengamatan dan percakapan karena peserta didik belum lancar mengisi angket. Di SMP dan SMA, peserta didik bisa mengisi angket sendiri dan bahkan diajak merefleksikan cara belajarnya. Di SMK, minat terhadap bidang keahlian dan pengalaman praktik menjadi bagian penting.

Memperbarui secara berkala

Profil bukan dokumen sekali jadi. Kesiapan berubah setiap lingkup materi, dan minat bisa berubah sepanjang tahun. Perbarui kolom kesiapan setiap kali asesmen awal baru dilakukan.

Menjaga kerahasiaan

Profil memuat informasi sensitif, seperti kondisi keluarga dan kebutuhan khusus. Simpan di tempat yang hanya bisa diakses guru terkait, jangan ditempel di dinding kelas, dan jangan dibagikan di grup obrolan. Data anak termasuk data pribadi spesifik menurut UU 27/2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.

Kesalahan yang sering terjadi

  • Mengisi profil hanya untuk melengkapi berkas, lalu tidak pernah dipakai.
  • Memberi label permanen yang membatasi peserta didik.
  • Menjadikan asesmen awal sebagai nilai rapor.
  • Menyusun angket terlalu panjang sehingga peserta didik menjawab asal.
  • Tidak berkoordinasi dengan wali kelas dan guru BK, sehingga informasi penting terlewat.

Pertanyaan yang sering diajukan

Kapan profil peserta didik sebaiknya disusun?

Di awal tahun untuk minat dan latar belakang, dan di awal setiap lingkup materi untuk kesiapan belajar.

Apakah setiap guru mapel harus membuat profil sendiri?

Bagian kesiapan belajar memang khas per mapel. Bagian minat, latar belakang, dan kebutuhan khusus bisa diambil dari catatan bersama agar tidak dikumpulkan berulang.

Apakah hasil asesmen awal masuk rapor?

Sebaiknya tidak. Asesmen awal dipakai untuk merancang pembelajaran, bukan untuk menilai.

Bagaimana jika ada peserta didik dengan kebutuhan khusus?

Koordinasikan dengan guru pendamping khusus atau koordinator inklusi, dan sesuaikan akomodasi dengan program pembelajaran individualnya.

Apakah profil boleh diperlihatkan kepada orang tua?

Bagian yang relevan boleh dibahas, misalnya kesiapan dan minat. Catatan sensitif disampaikan dengan hati-hati dan sesuai kebijakan sekolah.

ASIS: Profil Peserta Didik yang Tidak Perlu Dikumpulkan Berulang

Akar masalah profil yang tidak terpakai adalah data yang dikumpulkan berulang oleh setiap guru, disimpan di kertas masing-masing, lalu hilang di tengah semester.

ASIS memegang prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Profil peserta didik di ASIS memuat catatan perkembangan dari wali kelas, guru, dan layanan BK sesuai hak akses masing-masing. Guru bisa menyusun asesmen awal dari bank soal dengan bantuan AI yang tetap ditinjau guru, dan layanan inklusi menyimpan program pembelajaran individual bagi yang membutuhkan. Setiap peran hanya melihat data yang diperlukannya.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.