WAWASAN ASIS

Contoh RPP Satu Lembar yang Ringkas tetapi Tetap Lengkap

Contoh RPP satu lembar untuk SD, SMP, dan SMA: tiga komponen inti, templat siap pakai, contoh terisi, dan tips agar ringkas tetapi tetap bermakna di kelas.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Kurikulum & Pembelajaran

RPP satu lembar adalah rencana pembelajaran ringkas yang memuat tiga komponen inti: tujuan pembelajaran, langkah-langkah kegiatan, dan asesmen. Format ini dikenal luas sejak Surat Edaran Mendikbud 14/2019 tentang penyederhanaan RPP, yang menegaskan bahwa guru bebas memilih dan mengembangkan format asalkan memuat ketiga komponen tersebut. Dalam Kurikulum Merdeka, guru dapat memakai modul ajar atau RPP; RPP satu lembar tetap relevan untuk pertemuan harian karena ringkas, mudah dibawa ke kelas, dan fokus pada apa yang benar-benar terjadi. Artikel ini menyajikan templat, tiga contoh terisi untuk SD, SMP, dan SMA, serta tips agar ringkas tanpa kehilangan makna.

Kapan format ringkas ini cocok dipakai

Situasi Cocok?
Rencana harian untuk satu pertemuan Sangat cocok
Guru sudah memiliki modul ajar per topik dan butuh rencana per pertemuan Sangat cocok
Pembelajaran proyek panjang lintas mapel Kurang cocok, perlu rencana lebih rinci
Bahan observasi kelas oleh Kepala Sekolah Cocok, mudah dibaca
Kebutuhan dokumen lengkap sesuai permintaan sekolah Lengkapi dengan lampiran

Satu lembar bukan berarti asal pendek. Lembar itu harus cukup jelas sehingga guru pengganti pun bisa mengajar dengan membacanya.

Templat RPP satu lembar

Bagian Isi
Identitas Sekolah, mapel, kelas/fase, topik, alokasi waktu, pertemuan ke
Tujuan pembelajaran Satu sampai tiga tujuan yang terukur
Langkah kegiatan Pembuka, inti, penutup, dengan perkiraan waktu
Asesmen Teknik, instrumen, dan kriteria keberhasilan
Diferensiasi Dukungan untuk murid yang perlu bantuan dan tantangan untuk yang cepat
Refleksi Diisi setelah mengajar: apa yang berhasil, apa yang diubah

Bagian diferensiasi dan refleksi bukan syarat formal, tetapi sangat membantu dan tetap muat dalam satu halaman.

Contoh 1: SD kelas 4 Matematika, pecahan senilai

Identitas: Matematika, Kelas 4 (Fase B), Pecahan Senilai, 2 x 35 menit, pertemuan ke-2.

Tujuan pembelajaran:

  1. Murid dapat menunjukkan pecahan senilai menggunakan kertas lipat.
  2. Murid dapat menentukan dua pecahan senilai dari pecahan yang diberikan.

Langkah kegiatan:

  • Pembuka (10 menit): cerita pizza yang dipotong menjadi 2 dan 4 bagian. Pertanyaan: "Siapa yang dapat lebih banyak, yang mengambil 1/2 atau 2/4?"
  • Inti (50 menit): murid melipat kertas menjadi 2, 4, dan 8 bagian, mewarnai separuhnya, lalu membandingkan. Kelompok menuliskan temuan. Guru memandu menemukan pola: pembilang dan penyebut dikali bilangan yang sama.
  • Penutup (10 menit): murid menulis satu pecahan senilai dengan 1/3 di kertas keluar kelas.

Asesmen: kertas keluar kelas. Kriteria: murid dapat menulis minimal satu pecahan senilai yang benar.

Diferensiasi: murid yang kesulitan memakai kertas lipat; murid yang cepat mencari tiga pecahan senilai dengan 2/5.

Refleksi: (diisi setelah mengajar)

Contoh 2: SMP kelas 7 IPA, ciri makhluk hidup

Identitas: IPA, Kelas 7 (Fase D), Ciri Makhluk Hidup, 2 x 40 menit.

Tujuan pembelajaran:

  1. Murid dapat mengidentifikasi ciri makhluk hidup dari pengamatan di lingkungan sekolah.
  2. Murid dapat membedakan benda hidup dan tak hidup dengan alasan berdasarkan ciri.

Langkah kegiatan:

  • Pembuka (10 menit): guru menunjukkan robot mainan yang bisa bergerak. "Apakah robot ini makhluk hidup?"
  • Inti (55 menit): kelompok berkeliling halaman, mencatat lima benda hidup dan lima benda tak hidup di tabel. Kembali ke kelas, kelompok mendiskusikan ciri yang dipakai, lalu membandingkan dengan ciri makhluk hidup di buku.
  • Penutup (15 menit): murid kembali menjawab pertanyaan robot dengan alasan ilmiah.

Asesmen: tabel pengamatan dan jawaban penutup. Kriteria: menyebut minimal tiga ciri makhluk hidup dengan tepat.

Diferensiasi: kartu bantu daftar ciri untuk kelompok yang kesulitan; pertanyaan tambahan tentang virus untuk kelompok yang cepat.

Contoh 3: SMA kelas 10 Bahasa Indonesia, teks laporan hasil observasi

Identitas: Bahasa Indonesia, Kelas 10 (Fase E), Teks Laporan Hasil Observasi, 2 x 45 menit.

Tujuan pembelajaran:

  1. Murid dapat mengidentifikasi struktur teks laporan hasil observasi.
  2. Murid dapat menulis paragraf pernyataan umum dari hasil pengamatan sederhana.

Langkah kegiatan:

  • Pembuka (10 menit): murid mengamati foto kantin sekolah dan menyebutkan apa yang mereka lihat.
  • Inti (65 menit): membaca teks model, menandai bagian pernyataan umum dan deskripsi bagian. Diskusi berpasangan. Setiap murid mengamati satu sudut sekolah selama 10 menit, lalu menulis paragraf pernyataan umum.
  • Penutup (15 menit): tukar paragraf dengan teman, beri satu komentar menggunakan daftar periksa.

Asesmen: paragraf dan daftar periksa teman. Kriteria: paragraf memuat definisi atau klasifikasi objek yang diamati.

Tips agar ringkas tetapi tetap bermakna

  1. Tujuan harus terukur. Gunakan kata kerja yang bisa diamati: menunjukkan, menentukan, membedakan, menulis.
  2. Langkah ditulis sebagai kegiatan murid, bukan hanya "guru menjelaskan".
  3. Asesmen selaras dengan tujuan. Bila tujuannya menulis, asesmennya juga tulisan.
  4. Cantumkan waktu. Membantu guru menjaga tempo dan menyadari bila kegiatan terlalu padat.
  5. Sisakan ruang refleksi. Satu atau dua kalimat setelah mengajar sangat berharga untuk perbaikan.
  6. Hindari menyalin capaian pembelajaran utuh. Cukup tujuan pertemuan itu; rujukan capaian ada di modul ajar atau ATP.

Perbedaan RPP dan modul ajar dibahas di artikel perbedaan modul ajar dan RPP.

Kesalahan umum

Tujuan terlalu banyak. Lima tujuan dalam 70 menit hampir pasti tidak tercapai.

Langkah generik. "Guru menjelaskan materi, murid mengerjakan soal" tidak menggambarkan kegiatan nyata.

Asesmen tidak disebut. Tanpa asesmen, guru tidak tahu apakah tujuan tercapai.

Disalin dari internet tanpa diubah. Konteks kelas berbeda; rencana ringkas justru seharusnya sangat personal.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah RPP satu lembar masih boleh dipakai di Kurikulum Merdeka?

Boleh. Guru dapat memakai modul ajar atau RPP selama memuat komponen minimal: tujuan, langkah, dan asesmen. Ikuti juga kebijakan sekolah.

Apakah RPP satu lembar harus memuat profil lulusan?

Tidak wajib, tetapi boleh dicantumkan singkat bila relevan dengan kegiatan.

Apakah perlu membuat RPP untuk setiap pertemuan?

Banyak guru membuat satu modul ajar per topik dan RPP satu lembar per pertemuan. Sesuaikan dengan kebutuhan dan kebijakan sekolah.

Bagaimana bila Kepala Sekolah meminta dokumen lebih lengkap?

Lampirkan LKPD, rubrik, atau bahan ajar sebagai pelengkap tanpa mengubah lembar utama.

Apakah RPP satu lembar boleh ditulis tangan?

Boleh, yang penting jelas dan dipakai sebagai panduan nyata di kelas.

ASIS: Perencanaan Pembelajaran yang Tersambung sampai Rapor

Guru sering menyusun rencana di satu dokumen, soal di dokumen lain, dan nilai di lembar kerja ketiga. Ketika diminta menunjukkan keterkaitan tujuan, asesmen, dan hasil belajar, semuanya harus dicari dan disusun ulang.

ASIS memegang prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Perangkat ajar Kurikulum Merdeka di ASIS membantu guru menyusun rencana pembelajaran, bank soal dengan bantuan AI membantu menyusun draf soal yang wajib ditinjau guru, dan hasil asesmen tersambung ke e-Rapor. Untuk kegiatan inti yang interaktif, guru dapat memakai 57 lab dan 9 jenis aktivitas di Studio.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.