Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Penjelasan 8 dimensi profil lulusan menurut Permendikdasmen 13/2025, beda dengan profil pelajar Pancasila, dan contoh penerapannya di kelas SD sampai SMA.
8 dimensi profil lulusan adalah gambaran kemampuan dan karakter yang diharapkan dimiliki murid setelah menyelesaikan pendidikan. Sejak Permendikdasmen 13/2025 berlaku pada 15 Juli 2025, delapan dimensi ini menjadi acuan perencanaan pembelajaran, kegiatan kokurikuler, dan asesmen. Kedelapannya adalah keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Artikel ini menjelaskan arti tiap dimensi dengan bahasa sederhana, lalu memberi contoh konkret bagaimana guru bisa menghadirkannya dalam pelajaran sehari-hari, tanpa menambah dokumen baru.
Permendikdasmen 13/2025 mengubah sejumlah ketentuan kurikulum. Dua perubahan yang paling terasa di sekolah adalah:
Artinya, guru tidak perlu membuang semua yang sudah dilakukan selama ini. Banyak kegiatan lama tetap relevan, hanya bahasanya dan cara memetakannya yang menyesuaikan.
Bukan hanya urusan pelajaran agama. Dimensi ini tampak dalam kejujuran, rasa syukur, dan sikap menghormati sesama ciptaan.
Contoh di kelas: Guru IPA kelas V membuka materi siklus air dengan refleksi singkat tentang keteraturan alam, lalu mengajak murid menuliskan satu cara menghemat air di rumah sebagai wujud syukur.
Mencakup kesadaran sebagai warga sekolah, warga masyarakat, dan warga negara, termasuk menghargai keberagaman dan taat aturan bersama.
Contoh: Kelas VIII menyusun kesepakatan kelas secara musyawarah, lalu mengevaluasinya setiap akhir bulan.
Kemampuan menanyakan, menimbang bukti, dan menarik kesimpulan yang masuk akal.
Contoh: Dalam pelajaran Bahasa Indonesia SMA, murid membandingkan dua berita tentang kejadian yang sama dari media berbeda dan menandai mana fakta, mana opini.
Menghasilkan gagasan atau karya baru, termasuk memodifikasi yang sudah ada.
Contoh: Murid kelas III membuat alat musik sederhana dari barang bekas setelah belajar tentang bunyi.
Bekerja sama, berbagi peran, dan menyelesaikan perbedaan pendapat secara sehat.
Contoh: Kelompok kecil di kelas Matematika SMP masing-masing mengukur bagian halaman sekolah untuk menghitung luas total, lalu menggabungkan hasilnya.
Mengatur diri, bertanggung jawab atas belajar sendiri, dan tahu kapan meminta bantuan.
Contoh: Murid SMA menyusun rencana belajar mingguan menjelang asesmen sumatif dan merefleksikannya bersama wali kelas.
Menjaga kesehatan fisik dan mental, termasuk pola makan, tidur, aktivitas fisik, dan mengelola emosi.
Contoh: Guru PJOK kelas IV mengajak murid mencatat aktivitas fisik dan jam tidur selama sepekan, lalu membahas polanya di kelas.
Menyampaikan gagasan dengan jelas, lisan maupun tulisan, serta mendengarkan dengan baik.
Contoh: Murid kelas VI mempresentasikan hasil pengamatan tanaman di depan kelas, dan teman memberi umpan balik dengan format "satu yang bagus, satu saran".
Tabel ini membantu guru memilih dimensi yang paling cocok dengan jenis kegiatan. Satu kegiatan tidak perlu memuat delapan dimensi sekaligus; dua atau tiga yang menonjol sudah cukup.
| Jenis kegiatan | Dimensi yang biasanya menonjol |
|---|---|
| Diskusi kasus atau debat | Penalaran kritis, komunikasi, kewargaan |
| Proyek kelompok membuat produk | Kreativitas, kolaborasi, kemandirian |
| Pengamatan dan eksperimen | Penalaran kritis, kemandirian, keimanan (refleksi) |
| Kegiatan olahraga atau gizi | Kesehatan, kolaborasi |
| Presentasi dan pameran karya | Komunikasi, kreativitas |
| Kerja bakti dan aksi sosial | Kewargaan, kolaborasi, keimanan |
Ambil tujuan pembelajaran yang sudah tertulis di modul ajar. Tanyakan: aktivitas apa yang membuat murid mencapai tujuan ini sambil melatih satu atau dua dimensi? Tuliskan dimensi itu di bagian kegiatan, bukan di dokumen terpisah.
Materi pecahan tetap pecahan. Yang berubah adalah caranya: murid membagi kue dalam kelompok (kolaborasi), menjelaskan alasannya (komunikasi), dan menguji apakah pembagiannya adil (penalaran kritis).
Guru tidak perlu menilai setiap dimensi dengan angka. Catatan singkat tentang perilaku yang menonjol, misalnya "Raka mampu menengahi perbedaan pendapat kelompoknya", lebih bermakna dan berguna untuk deskripsi rapor.
Pelajaran IPAS kelas IV tentang gaya dan gerak, 2 x 35 menit. Guru membuka dengan pertanyaan pemantik: mengapa sepeda lebih mudah dikayuh di jalan aspal daripada di jalan berpasir? Murid berkelompok menguji mobil mainan di tiga permukaan berbeda, mencatat jarak tempuh, lalu menyimpulkan pengaruh permukaan terhadap gerak. Setiap kelompok menyampaikan temuannya dalam dua menit.
Dalam satu pertemuan itu, murid melatih penalaran kritis (menguji dan menyimpulkan), kolaborasi (berbagi peran mengukur dan mencatat), dan komunikasi (presentasi singkat). Guru cukup mencatat dua atau tiga murid yang menonjol atau yang perlu dibantu, bukan menilai seluruh kelas di semua dimensi.
| Jenjang | Fokus yang realistis |
|---|---|
| PAUD dan SD kelas awal | Kebiasaan: berdoa, antre, cuci tangan, bercerita, bermain bersama |
| SD kelas atas | Tanggung jawab tugas, bertanya "mengapa", kerja kelompok kecil |
| SMP | Mengelola emosi, berpendapat dengan alasan, proyek lintas mapel sederhana |
| SMA/SMK | Kemandirian belajar, analisis informasi, kolaborasi dengan pihak luar sekolah |
Untuk merancang modul yang memuat dimensi-dimensi ini, Bapak/Ibu bisa membaca panduan modul ajar pembelajaran mendalam.
Keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.
Rumusan profil lulusan kini mengacu pada delapan dimensi sesuai Permendikdasmen 13/2025. Banyak nilai lama tetap terkandung di dalamnya, sehingga praktik baik sebelumnya tetap bisa dilanjutkan.
Tidak. Pilih dua atau tiga dimensi yang paling relevan dengan tujuan dan aktivitas pembelajaran.
Gunakan pengamatan, catatan anekdot, rubrik sederhana, dan refleksi murid. Hasilnya lebih cocok dituangkan sebagai deskripsi daripada skor angka.
Kegiatan kokurikuler adalah salah satu wadah utama untuk melatih dimensi-dimensi tersebut secara lintas mata pelajaran.
Akar masalah penerapan profil lulusan di sekolah adalah catatan yang tercecer. Guru mengamati murid yang mulai berani berpendapat atau mampu memimpin kelompok, tetapi catatan itu tertinggal di buku pribadi dan tidak sampai ke wali kelas saat menulis rapor.
ASIS memegang prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Guru dapat menyusun perangkat ajar Kurikulum Merdeka, lalu mencatat perkembangan murid di profil murid yang utuh, sehingga wali kelas dan guru BK membaca gambaran yang sama sesuai perannya. Catatan itu kemudian menjadi bahan deskripsi di e-Rapor Kurikulum Merdeka. Untuk aktivitas yang melatih penalaran dan kreativitas, Studio menyediakan 9 jenis aktivitas dan 57 lab interaktif.
ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.