Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Absensi RFID sekolah: cara kerja kartu dan pembaca, kelebihan, risiko kartu hilang dan titip absen, perbandingan dengan QR dan wajah, plus checklist.
Absensi RFID sekolah bekerja dengan cara sederhana: murid menempelkan kartu ke alat pembaca di gerbang atau kelas, lalu jam kedatangannya tercatat otomatis. Cepat dan tanpa kertas, tetapi ada hal yang perlu ditimbang sebelum membeli alat: kartu yang hilang, kemungkinan titip absen, dan biaya perangkat. Panduan ini menjelaskan cara kerjanya, kelebihan dan kekurangannya, membandingkannya dengan presensi QR dan pengenalan wajah, lalu menutup dengan daftar cek memilih.
RFID (Radio Frequency Identification) memakai gelombang radio untuk membaca kode unik di dalam kartu. Kartu yang umum dipakai sekolah adalah kartu pasif, tanpa baterai, dan harus didekatkan ke pembaca dalam jarak beberapa sentimeter.
Alurnya:
Bila aplikasinya berjalan di server lokal, pencatatan tetap bisa jalan saat internet putus selama jaringan sekolah dan listrik menyala.
Kartu tertinggal di rumah, tercuci bersama seragam, atau patah. Setiap kartu hilang berarti mencetak dan mendaftarkan kartu baru, dan selama itu murid perlu dicatat manual. Sekolah perlu aturan jelas: siapa yang menanggung biaya kartu pengganti dan berapa lama prosesnya.
Kartu tidak mengenali siapa yang memegangnya. Murid bisa menitipkan kartunya kepada teman, dan sistem tetap mencatatnya hadir. Untuk menekan risiko ini, sekolah biasanya menempatkan petugas atau kamera di dekat pembaca.
Selain kartu, sekolah perlu membeli pembaca, kabel atau modul jaringan, dan kadang komputer khusus. Bila ada beberapa gerbang atau presensi per kelas, jumlah pembaca bertambah. Alat juga butuh perawatan dan cadangan saat rusak.
Pembaca yang mati karena listrik padam atau kabel lepas membuat presensi pagi berantakan. Siapkan cara cadangan, misalnya daftar hadir manual yang diinput belakangan.
| Aspek | Kartu RFID | Pindai QR | Pengenalan wajah |
|---|---|---|---|
| Alat di sekolah | Pembaca RFID khusus | Ponsel/tablet dengan kamera | Ponsel/tablet dengan kamera |
| Kartu fisik | Wajib | Kartu cetak atau QR di ponsel | Tidak perlu |
| Kartu hilang | Perlu cetak dan daftar ulang | Cukup cetak ulang QR | Tidak ada kartu |
| Risiko titip absen | Tinggi tanpa pengawasan | Sedang (QR bisa dipinjam) | Rendah |
| Kecepatan | Sangat cepat | Cepat | Cepat bila cahaya cukup |
| Data pribadi | Kode kartu | Kode QR | Data biometrik, perlu perlindungan ketat |
| Butuh internet | Tergantung aplikasi | Tergantung aplikasi | Tergantung aplikasi |
Pengenalan wajah paling sulit dititipkan, tetapi data wajah tergolong data pribadi yang sensitif. Sekolah wajib meminta persetujuan orang tua dan membatasi siapa yang bisa mengakses datanya. Pembahasan lebih lengkap ada di artikel "Absensi Wajah Sekolah: Kelebihan, Risiko, Perlindungan Data" dan "Aplikasi Absensi Sekolah QR Code: Cara Kerja dan Penerapan".
SD dengan 8 rombel dan satu gerbang. Sekolah memakai tablet di gerbang untuk presensi wajah bagi murid kelas 4–6, dan kartu QR bagi murid kelas 1–3 yang belum terbiasa berdiri di depan kamera. Tidak perlu membeli pembaca khusus.
SMK dengan lab komputer dan server sendiri. Sekolah sudah punya alat RFID dan tenaga IT. Mempertahankan RFID masuk akal, dengan petugas piket di gerbang untuk mencegah titip absen.
Bila setelah menimbang sekolah memutuskan memakai kartu RFID, beberapa kebiasaan berikut membantu sistem berjalan lancar sejak hari pertama.
Bisa. Kartu tidak mengenali pemegangnya, jadi teman bisa menempelkan kartu milik murid lain. Pengawasan di titik presensi atau metode wajah membantu menekan risiko ini.
Hanya bila kartu itu memiliki chip RFID yang cocok dengan pembaca. Kartu cetak biasa tanpa chip tidak bisa dibaca.
Tidak. Presensi di ASIS memakai pindai QR, pengenalan wajah, atau GPS lewat ponsel atau tablet, serta mendukung fingerprint, sehingga sekolah tidak perlu membeli pembaca kartu.
Keduanya mudah bagi murid kecil. QR lebih murah karena cukup memakai tablet yang sudah ada dan kartu bisa dicetak ulang dengan mudah; RFID lebih cepat tetapi butuh alat khusus.
Tidak. Presensi ASIS membutuhkan internet. Mode luring di ASIS saat ini khusus untuk ujian yang dikerjakan murid di HP.
Akar masalah presensi di banyak sekolah bukan pada alatnya, melainkan pada apa yang terjadi setelah murid tercatat. Rekap masih disalin ke Excel, wali kelas menunggu laporan, dan orang tua baru tahu anaknya tidak sampai di sekolah saat sore.
ASIS memakai presensi murid dan pegawai lewat pindai QR, pengenalan wajah, atau GPS, dengan dukungan fingerprint, memakai ponsel atau tablet yang sudah dimiliki sekolah. Data presensi langsung masuk ke rekap wali kelas, profil murid, dan e-Rapor, sesuai prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Wali murid otomatis menerima notifikasi saat anak masuk dan pulang sekolah, gratis tanpa batas, dengan jam tenang. Presensi ASIS butuh internet, jadi pastikan koneksi di titik presensi memadai.
ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.