WAWASAN ASIS

Akomodasi yang Layak Disabilitas: Contoh di Sekolah

Akomodasi yang layak disabilitas di sekolah: pengertian, bedanya dengan aksesibilitas, contoh penerapan per jenis hambatan, saat ujian, dan cara mencatatnya.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Pendidikan Inklusi

Akomodasi yang layak disabilitas adalah penyesuaian dan modifikasi yang tepat dan diperlukan agar murid penyandang disabilitas dapat belajar dan dinilai setara dengan teman-temannya. Penyesuaian ini bersifat individual: murid tunanetra butuh hal yang berbeda dengan murid autisme atau murid dengan hambatan motorik. Yang penting, tujuan belajarnya tetap, sementara cara mengakses, mengerjakan, atau menunjukkan hasil belajar disesuaikan.

Kewajiban ini punya dasar hukum yang jelas. UU 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas menjamin hak pendidikan, dan PP 13/2020 mengatur akomodasi yang layak untuk peserta didik penyandang disabilitas. Artikel ini tidak membahas pasal demi pasal, tetapi fokus pada contoh penerapan di sekolah reguler, sekolah inklusi, dan SLB. Untuk langkah awal menjadi sekolah inklusif, lihat "Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif: 8 Langkah Awal".

Akomodasi, aksesibilitas, dan modifikasi kurikulum

Tiga istilah ini sering tertukar.

Istilah Pengertian singkat Contoh
Aksesibilitas Kemudahan umum yang berlaku untuk semua orang Ramp di pintu masuk, toilet yang lebar
Akomodasi yang layak Penyesuaian untuk kebutuhan individu tertentu Waktu ujian tambahan untuk murid dengan disleksia
Modifikasi kurikulum Perubahan pada tujuan atau materi belajar Target capaian disesuaikan untuk murid hambatan intelektual

Akomodasi yang layak disabilitas tidak menurunkan standar. Murid tetap mengejar tujuan yang sama, hanya caranya yang disesuaikan. Modifikasi dipakai bila tujuan itu sendiri perlu diubah, dan biasanya tertuang dalam program pembelajaran individual.

Contoh penerapan per jenis hambatan

Contoh di bawah bersifat umum. Setiap murid perlu dilihat secara individual, idealnya berdasarkan asesmen dan diskusi dengan orang tua serta guru pendamping khusus.

Hambatan penglihatan

  • Bahan bacaan huruf besar atau Braille.
  • Berkas digital yang bisa dibaca pembaca layar.
  • Tempat duduk dekat papan tulis dan pencahayaan yang cukup.
  • Guru membacakan tulisan di papan atau menjelaskan gambar secara lisan.
  • Ujian lisan atau dengan pendamping pembaca.

Hambatan pendengaran

  • Tempat duduk yang memungkinkan murid melihat wajah guru untuk membaca gerak bibir.
  • Instruksi tertulis selain lisan.
  • Video pembelajaran dengan teks.
  • Juru bahasa isyarat bila tersedia.
  • Mengurangi kebisingan latar di kelas.

Hambatan motorik

  • Meja dan kursi yang disesuaikan, ruang gerak cukup untuk kursi roda.
  • Kelas di lantai dasar.
  • Waktu tambahan untuk menulis, atau boleh mengetik dan menjawab lisan.
  • Penyesuaian kegiatan olahraga.

Kesulitan belajar spesifik (misalnya disleksia)

  • Waktu tambahan untuk membaca dan menulis.
  • Soal dibacakan.
  • Huruf dan jarak baris yang lebih lega.
  • Penilaian lisan sebagai alternatif tulisan.

Autisme

  • Jadwal visual dan pemberitahuan sebelum perubahan rutinitas.
  • Ruang tenang untuk menenangkan diri.
  • Instruksi singkat, satu langkah demi satu langkah.
  • Mengurangi rangsangan berlebihan seperti suara keras dan lampu berkedip.

Hambatan intelektual

  • Materi dipecah menjadi langkah kecil dengan contoh konkret.
  • Pengulangan dan latihan lebih banyak.
  • Bila diperlukan, modifikasi target capaian dalam program individual.

Akomodasi saat ujian dan penilaian

Penilaian sering menjadi titik paling sensitif. Akomodasi yang lazim:

  • Waktu tambahan.
  • Ruang terpisah yang lebih tenang.
  • Soal dibacakan atau dalam format huruf besar dan Braille.
  • Jawaban lisan, diketik, atau dibantu penulis.
  • Istirahat di tengah ujian.

Tuliskan akomodasi ini dalam dokumen sebelum ujian, bukan diputuskan pengawas di ruang. Untuk ujian yang diselenggarakan pihak luar, ikuti ketentuan penyelenggara dan ajukan kebutuhan akomodasi sesuai prosedurnya.

Contoh kasus: murid low vision di SMP reguler

Raka (nama fiktif), murid kelas 7 dengan low vision, baru masuk ke SMP negeri reguler. Setelah pertemuan dengan orang tua, wali kelas, guru BK, dan guru pendamping dari unit layanan disabilitas, sekolah menyepakati:

  1. Raka duduk di baris depan, dekat jendela untuk pencahayaan.
  2. Guru mengirim salinan materi digital sehari sebelum pelajaran agar bisa diperbesar di tablet.
  3. Lembar ujian dicetak dengan huruf 18 poin.
  4. Waktu ujian ditambah 25%.
  5. Kesepakatan dievaluasi setiap akhir semester.

Hasilnya, Raka mengikuti pelajaran yang sama dengan teman-temannya. Tidak ada tujuan belajar yang diturunkan, hanya cara aksesnya yang disesuaikan.

Langkah menyusun akomodasi yang layak disabilitas di sekolah

  1. Identifikasi kebutuhan. Lewat asesmen awal, laporan dari sekolah sebelumnya, atau keterangan tenaga profesional.
  2. Diskusikan bersama. Orang tua, wali kelas, guru mapel, guru BK, dan bila ada, guru pendamping khusus.
  3. Tulis kesepakatan. Jenis akomodasi, di mapel apa, oleh siapa, dan kapan dievaluasi.
  4. Sosialisasikan ke semua guru terkait. Akomodasi gagal bila hanya wali kelas yang tahu.
  5. Evaluasi berkala. Kebutuhan murid bisa berubah seiring waktu.

Sekolah juga bisa berkonsultasi dengan unit layanan disabilitas di daerahnya. Lihat "Unit Layanan Disabilitas Pendidikan: Fungsi dan Akses".

Peran Kepala Sekolah

Kepala Sekolah memegang kunci keberhasilan akomodasi. Guru yang mau menyesuaikan cara mengajar tetap butuh dukungan: waktu untuk berkoordinasi, sarana sederhana seperti pencetak huruf besar, dan kepastian bahwa penyesuaian yang mereka lakukan diakui sekolah. Kepala Sekolah juga yang memastikan anggaran kecil untuk kebutuhan akomodasi masuk ke rencana kegiatan dan anggaran sekolah.

Sampaikan pula komitmen sekolah kepada seluruh warga, misalnya dalam rapat awal tahun dan pertemuan orang tua. Pesan yang jelas dari pimpinan mengurangi anggapan bahwa akomodasi adalah perlakuan istimewa.

Kesalahan yang sering terjadi

  1. Menyamakan semua murid disabilitas. Akomodasi harus individual.
  2. Menganggap akomodasi sebagai "keistimewaan". Padahal itu hak, agar murid bisa bersaing setara.
  3. Akomodasi tidak tertulis. Guru baru tidak tahu dan murid kehilangan dukungan.
  4. Menurunkan standar tanpa alasan. Akomodasi berbeda dengan modifikasi.
  5. Tidak melibatkan murid. Murid yang sudah cukup besar bisa ditanya apa yang paling membantunya.

Daftar cek

  • Kebutuhan murid sudah diidentifikasi dan didokumentasikan.
  • Kesepakatan akomodasi tertulis dan disetujui orang tua.
  • Semua guru terkait sudah menerima informasinya.
  • Akomodasi ujian ditetapkan sebelum jadwal ujian.
  • Jadwal evaluasi ditentukan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah akomodasi yang layak disabilitas hanya untuk SLB?

Tidak. Kewajiban akomodasi berlaku di semua satuan pendidikan yang menerima murid penyandang disabilitas, termasuk sekolah reguler.

Apakah akomodasi harus mahal?

Sebagian besar tidak. Tempat duduk, waktu tambahan, huruf lebih besar, dan instruksi tertulis hampir tanpa biaya. Yang dibutuhkan adalah kemauan dan koordinasi.

Siapa yang memutuskan bentuk akomodasi?

Sekolah bersama orang tua, berdasarkan asesmen dan masukan guru serta tenaga profesional. Kepala Sekolah menetapkan dan memastikan pelaksanaannya.

Bagaimana jika murid tidak punya surat diagnosis?

Sekolah tetap bisa memberi dukungan berdasarkan pengamatan dan asesmen guru, sambil mendorong orang tua mendapatkan pemeriksaan profesional.

Apakah teman sekelas perlu tahu?

Tidak perlu mengetahui detail kondisi murid. Namun membangun budaya kelas yang menerima perbedaan sangat membantu agar akomodasi tidak dianggap aneh.

ASIS: Kesepakatan Akomodasi yang Tidak Hilang Saat Guru Berganti

Akar masalah akomodasi di sekolah sering adalah informasi yang tersimpan di kepala satu orang. Saat wali kelas berganti atau guru mapel baru masuk, kesepakatan yang dulu dibuat dengan susah payah terlupakan.

ASIS memiliki modul inklusi serta PPI untuk mencatat kebutuhan murid, program individual, dan catatan perkembangannya di profil murid yang utuh. Guru yang berwenang bisa melihat informasi yang mereka perlukan sesuai peran, tanpa membuka data ke semua orang. Layanan BK dan kerja sama dengan psikolog atau mitra profesional juga tercatat di tempat yang sama.

ASIS gratis untuk semua sekolah, termasuk SLB dan sekolah inklusi. Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.