WAWASAN ASIS

Anak Malas Belajar: Cara Mengatasinya sesuai Usia

Anak malas belajar biasanya punya penyebab yang bisa dicari. Kenali tandanya, cara mendampingi dari TK sampai SMA, dan kapan perlu bantuan guru atau ahli.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Orang Tua

Anak malas belajar jarang benar-benar malas. Di balik sikap menunda, mengeluh, atau menolak membuka buku, biasanya ada penyebab yang bisa dicari: lelah, kesulitan memahami pelajaran, terlalu banyak gawai, masalah dengan teman, atau tidak melihat gunanya belajar. Karena itu, langkah pertama bukan memarahi atau menambah les, melainkan mengamati dan bertanya. Setelah penyebabnya terlihat, cara mendampinginya pun perlu disesuaikan dengan usia, karena anak TK, anak SD, dan remaja SMA punya kebutuhan yang sangat berbeda. Artikel ini membahas penyebab umum, cara mendampingi per kelompok usia, dan tanda kapan orang tua perlu meminta bantuan guru atau ahli.

Jika kesulitannya khusus di matematika, baca juga "Anak Kesulitan Matematika? Cara Membantunya di Rumah". Untuk minat baca, lihat "Cara Meningkatkan Minat Baca Murid yang Malas Membaca".

Cari penyebabnya dulu

Amati anak selama sekitar dua minggu. Catat kapan ia paling menolak belajar, pelajaran apa, dan apa yang terjadi sebelumnya.

Penyebab Tanda yang sering terlihat Langkah awal
Lelah atau kurang tidur Mengantuk, mudah marah sore hari Atur jam tidur dan istirahat setelah sekolah
Kesulitan memahami materi Menghindari mapel tertentu, berkata "aku bodoh" Tanyakan bagian yang sulit, bicarakan dengan guru
Gawai berlebihan Sulit lepas dari ponsel, belajar terburu-buru Atur waktu layar bersama
Masalah emosi atau pertemanan Murung, tidak mau sekolah, nilai turun tiba-tiba Ajak bicara tenang, hubungi wali kelas
Tidak melihat manfaat "Buat apa belajar ini?" Hubungkan pelajaran dengan minat dan kehidupan nyata
Lingkungan belajar tidak nyaman Belajar di depan TV, sering terganggu Siapkan tempat belajar yang tenang

Satu anak malas belajar bisa punya lebih dari satu penyebab. Catatan sederhana membantu orang tua tidak menebak-nebak.

Cara bertanya tanpa menuduh

Kalimat "Kenapa sih kamu malas sekali?" hampir selalu membuat anak menutup diri. Coba ganti dengan:

  • "Ibu lihat kamu kelihatan capek akhir-akhir ini. Ada yang bikin berat?"
  • "Pelajaran apa yang paling bikin kamu pusing minggu ini?"
  • "Kalau boleh memilih, kamu mau belajar jam berapa?"

Dengarkan sampai selesai. Jangan langsung menasihati.

Mendampingi sesuai usia

Usia 4–6 tahun (PAUD dan TK)

Pada usia ini, anak belajar lewat bermain. Jika anak menolak "belajar", mungkin yang ditolak adalah kegiatan duduk menulis yang belum sesuai usianya.

  • Ganti latihan menulis dengan bermain yang melatih motorik halus, seperti meronce, menggunting, atau bermain plastisin.
  • Bacakan buku cerita setiap malam.
  • Ingat bahwa tes calistung tidak boleh menjadi syarat masuk SD (Permendikdasmen 3/2025), jadi tidak perlu memaksa anak bisa membaca sebelum waktunya.
  • Batasi layar: WHO menganjurkan anak usia 2–4 tahun maksimal satu jam per hari.

Usia 7–9 tahun (SD kelas rendah)

Anak mulai menghadapi tuntutan akademik, tetapi rentang perhatiannya masih pendek.

  • Belajar 15–20 menit, lalu istirahat sebentar.
  • Gunakan benda nyata: menghitung dengan kancing, membaca label kemasan di dapur.
  • Beri pujian untuk usaha, bukan hanya hasil: "Kamu tadi sabar sekali mengerjakan soal ini."
  • Duduk di dekat anak saat belajar, tetapi biarkan ia mencoba sendiri dulu.

Usia 10–12 tahun (SD kelas atas)

Anak mulai membandingkan diri dengan teman dan bisa merasa tidak mampu.

  • Bantu anak menyusun jadwal mingguan sederhana yang ia buat sendiri.
  • Pecah tugas besar menjadi langkah kecil yang bisa dicentang.
  • Perhatikan pelajaran yang terus dihindari; bisa jadi ada kesulitan yang perlu dibicarakan dengan guru.
  • Sepakati aturan gawai bersama, termasuk jam ponsel disimpan.

Contoh dari seorang ayah di Kota Surabaya: anaknya yang kelas 5 selalu menunda PR matematika. Setelah ditanya, ternyata ia tidak paham pecahan sejak kelas 4. Wali kelas memberi latihan dasar tambahan, dan dalam sebulan anak itu tidak lagi menunda PR.

Usia 13–15 tahun (SMP)

Remaja awal membutuhkan otonomi. Perintah langsung sering memicu perlawanan.

  • Libatkan anak dalam membuat aturan belajar dan gawai.
  • Tanyakan tujuan yang ia pedulikan, misalnya masuk SMA tertentu atau hobi, lalu hubungkan dengan belajar.
  • Perhatikan perubahan pertemanan dan suasana hati.
  • Hindari membandingkan dengan kakak atau anak tetangga.

Usia 16–18 tahun (SMA dan SMK)

Remaja akhir mulai memikirkan masa depan, tetapi juga bisa merasa tertekan.

  • Bicarakan rencana setelah lulus tanpa memaksakan pilihan.
  • Beri kepercayaan mengatur waktu sendiri, dengan kesepakatan yang jelas.
  • Perhatikan tanda stres berat: sulit tidur, menarik diri, kehilangan minat pada hal yang dulu disukai.
  • Dukung kegiatan di luar akademik yang memberi rasa mampu, misalnya organisasi atau olahraga.

Kebiasaan rumah yang membantu semua usia

  • Jam tidur yang teratur.
  • Tempat belajar yang tenang dan tetap.
  • Waktu tanpa gawai yang disepakati, termasuk untuk orang tua.
  • Makan bersama dan mengobrol tentang hari di sekolah.
  • Orang tua ikut membaca atau bekerja di dekat anak saat jam belajar.

Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang kini menjadi salah satu bentuk kegiatan kokurikuler di sekolah, memuat kebiasaan seperti bangun pagi, berolahraga, gemar belajar, dan tidur cepat. Menyelaraskan kebiasaan di rumah dengan sekolah akan memperkuat hasilnya.

Kapan perlu bantuan guru atau ahli

Bicarakan dengan wali kelas atau guru BK bila:

  • nilai turun tajam dalam waktu singkat,
  • anak menolak pergi ke sekolah,
  • ada tanda perundungan,
  • anak terus kesulitan membaca, menulis, atau berhitung meski sudah didampingi,
  • ada perubahan suasana hati yang menetap.

Bila ada tanda kesulitan belajar spesifik atau masalah emosi yang berat, guru BK dapat membantu merujuk ke psikolog atau tenaga profesional. Penilaian seperti ini sebaiknya dilakukan ahli, bukan disimpulkan sendiri.

Kesalahan yang sering terjadi

  1. Langsung memberi label anak malas belajar. Label ini melekat dan menurunkan rasa percaya diri anak.
  2. Menambah les tanpa tahu penyebabnya. Anak yang lelah justru makin lelah.
  3. Menghukum dengan menyita semua hiburan. Lebih efektif menyepakati aturan bersama.
  4. Membandingkan dengan anak lain.
  5. Tidak bekerja sama dengan sekolah. Guru sering melihat hal yang tidak terlihat di rumah.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah anak malas belajar perlu langsung dileskan?

Tidak selalu. Cari penyebabnya dulu. Les membantu bila masalahnya pemahaman materi, tetapi tidak membantu bila penyebabnya kelelahan atau masalah emosi.

Berapa lama anak SD sebaiknya belajar di rumah?

Tidak ada angka baku. Untuk kelas rendah, sesi pendek 15–20 menit dengan jeda biasanya lebih efektif daripada satu jam tanpa henti.

Bagaimana jika anak hanya mau belajar dengan ponsel?

Manfaatkan aplikasi belajar yang bermutu, tetapi tetap atur waktu dan dampingi. Seimbangkan dengan kegiatan tanpa layar.

Apakah hadiah boleh dipakai untuk memotivasi?

Boleh sesekali, terutama untuk anak kecil, tetapi jangan menjadi satu-satunya alasan belajar. Pujian atas usaha dan rasa mampu lebih tahan lama.

Kapan orang tua perlu khawatir?

Jika penolakan belajar disertai perubahan suasana hati yang menetap, menolak sekolah, atau tanda perundungan. Segera bicarakan dengan wali kelas atau guru BK.

ASIS: Orang Tua dan Guru Melihat Gambaran yang Sama

Sering kali orang tua baru tahu anaknya kesulitan ketika rapor dibagikan. Tugas yang tidak dikumpulkan, ketidakhadiran, dan catatan guru tidak pernah sampai ke rumah tepat waktu.

ASIS menyambungkan sekolah dan rumah. Orang tua bisa melihat presensi, tugas online, nilai, dan catatan perkembangan di profil anak melalui ASIS Mobile, dan menerima kabar dari wali kelas lewat kotak masuk aplikasi atau notifikasi yang gratis tanpa batas dengan jam tenang. Sekolah juga bisa menjalankan layanan BK dan bekerja sama dengan psikolog atau mitra profesional, sehingga tanda kesulitan anak terlihat lebih awal dan ditangani bersama.

ASIS gratis untuk semua sekolah, tanpa iklan, dan data tidak dijual. Untuk santri di pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ, wali bisa memakai Basmalah, aplikasi gratis dari ekosistem ASIS. Kenalkan sekolah anak Anda pada asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.