WAWASAN ASIS

Aplikasi Nilai Sekolah: 10 Fitur Wajib dan Cara Memilih

Aplikasi nilai sekolah yang baik punya 10 fitur wajib. Pelajari cara menguji tiap fitur saat demo, pertanyaan untuk penyedia, dan tanda bahayanya.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Digitalisasi Sekolah

Aplikasi nilai sekolah adalah aplikasi yang dipakai guru untuk menginput hasil asesmen, mengolahnya menjadi nilai rapor, menyusun deskripsi capaian, dan menyajikannya kepada wali kelas, murid, dan orang tua. Memilih aplikasi nilai sekolah tidak cukup dengan melihat brosur, karena masalah biasanya baru muncul ketika ratusan guru menginput nilai menjelang rapor. Artikel ini merangkum 10 fitur wajib, cara menguji setiap fitur saat demo, pertanyaan yang perlu diajukan kepada penyedia, dan tanda bahaya yang sebaiknya dihindari.

Untuk memahami alur data nilai dari input sampai rapor, baca juga "Sistem Nilai Sekolah: Alur Data dari Input sampai Rapor". Artikel ini fokus pada fitur dan cara memilih.

10 fitur wajib aplikasi nilai sekolah

Urutan berikut disusun dari yang paling sering dikeluhkan guru. Setiap fitur disertai cara menguji singkat yang bisa dilakukan dalam sesi demo sekitar satu jam.

1. Input nilai yang cepat

Guru mengajar beberapa rombel dengan 30 sampai 36 murid. Input nilai harus bisa dilakukan per kelas dalam satu layar, bukan membuka profil murid satu per satu.

Cara menguji: minta seorang guru mencoba menginput 30 nilai saat demo. Catat waktunya dan tanyakan kesannya.

2. Bisa diisi dari HP

Banyak guru menginput nilai di sela jam mengajar. Tampilan di HP Android harus nyaman.

Cara menguji: buka aplikasi di HP guru yang paling sederhana di sekolah, bukan HP tim penyedia.

3. Pengaturan bobot dan rumus olah nilai

Sekolah perlu mengatur cara mengolah nilai sumatif dan bobotnya sesuai kesepakatan, lalu menguncinya agar seragam.

Cara menguji: minta penyedia mengubah bobot di depan Bapak/Ibu, lalu lihat apakah nilai akhir ikut berubah dengan benar.

4. Dukungan Kurikulum Merdeka

Ada pengaturan tujuan pembelajaran, KKTP, dan deskripsi capaian. Deskripsi idealnya membantu guru menyusun kalimat capaian tertinggi dan yang perlu ditingkatkan, tetapi tetap bisa diedit.

Cara menguji: buat satu deskripsi contoh dan lihat seberapa mudah diedit.

5. Terhubung dengan asesmen

Nilai dari ujian berbasis komputer atau lembar jawaban sebaiknya masuk tanpa diketik ulang.

Cara menguji: tanyakan alur dari ujian ke nilai, lalu minta diperagakan.

6. Progres input terlihat

Wali kelas dan Wakasek Kurikulum bisa melihat mapel mana yang sudah lengkap dan mana yang belum.

Cara menguji: minta tampilan progres untuk satu rombel.

7. Rapor langsung jadi

Rapor menarik nilai, deskripsi, kehadiran, ekstrakurikuler, dan catatan wali kelas secara otomatis, lalu bisa dicetak atau dibagikan digital.

Cara menguji: minta contoh rapor cetak dan rapor digital dari data demo.

8. Hak akses per peran

Guru hanya mengubah nilai mapel dan kelas yang diajar. Wali kelas melihat semua mapel di rombelnya. Orang tua hanya melihat anaknya.

Cara menguji: masuk sebagai akun guru, lalu coba buka kelas yang tidak diajar.

9. Jejak perubahan

Bila nilai diubah setelah dikunci, tercatat siapa yang mengubah dan kapan.

Cara menguji: tanyakan di mana catatan perubahan itu bisa dilihat.

10. Ekspor dan cadangan data

Nilai bisa diekspor untuk arsip dan kebutuhan lain. Sekolah tidak terkunci di satu penyedia.

Cara menguji: minta ekspor nilai satu rombel ke file lembar kerja.

Ringkasan uji demo

Fitur Uji singkat Lulus?
Input cepat Guru input 30 nilai
Dari HP Coba di HP guru
Bobot dan rumus Ubah bobot, cek hasil
Kurikulum Merdeka Buat deskripsi
Terhubung asesmen Peragakan alur ujian ke nilai
Progres input Lihat progres satu rombel
Rapor jadi Cetak contoh rapor
Hak akses Masuk sebagai guru
Jejak perubahan Lihat log perubahan
Ekspor Ekspor satu rombel

Ajak minimal tiga orang ke sesi demo: Wakasek Kurikulum, satu wali kelas, dan satu guru yang paling jarang memakai teknologi. Pendapat guru terakhir ini sering paling jujur.

Pertanyaan untuk penyedia

  1. Bagaimana model biayanya: per lembaga atau per murid? Biaya per murid, misalnya ilustrasi Rp5.000–Rp15.000 per murid per bulan, terasa besar untuk sekolah dengan ratusan murid.
  2. Apakah ada biaya tambahan saat jumlah guru atau murid bertambah?
  3. Apakah data murid bisa diimpor dari file ekspor Dapodik atau EMIS?
  4. Apakah data sekolah dijual atau dipakai untuk iklan?
  5. Apa yang terjadi pada data bila sekolah berhenti berlangganan?
  6. Bagaimana pelatihan dan panduan untuk guru?
  7. Apakah aplikasi nilai terhubung dengan presensi, sehingga kehadiran di rapor tidak diketik ulang?

Tanda bahaya pada aplikasi nilai sekolah

Rumus olah nilai tidak bisa dijelaskan. Sekolah harus memahami bagaimana nilai akhir dihitung.

Semua guru memakai satu akun bersama. Ini menghapus jejak perubahan dan membahayakan data.

Rapor hanya bisa dicetak, tidak bisa dibagikan digital. Orang tua yang jauh atau sibuk akan kesulitan.

Data tidak bisa diekspor. Sekolah bergantung sepenuhnya pada penyedia.

Klaim "AI menilai murid". Penilaian tetap tanggung jawab guru. Bantuan AI boleh, tetapi keputusan ada di tangan guru.

Kebutuhan berbeda per jenjang

  • SD/MI: guru kelas menginput banyak muatan untuk satu rombel; tampilan per rombel lebih penting daripada per mapel.
  • SMP/MTs: banyak guru mapel per rombel; fitur progres input sangat membantu wali kelas.
  • SMA/SMK/MA: mapel pilihan membuat rombel belajar berbeda dengan rombel induk; pastikan aplikasi mendukungnya. SMK juga butuh nilai PKL.
  • Madrasah: perlu mapel khas madrasah dan, bila memakai RDM, pertimbangkan alur pindah datanya. Lihat "Rapor Digital Madrasah RDM: Fitur dan Cara Kerjanya".

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa bedanya aplikasi nilai sekolah dan e-Rapor?

e-Rapor fokus pada keluaran rapor. Aplikasi nilai yang lengkap juga mencakup input asesmen harian, pengolahan, progres, dan analisis.

Apakah guru perlu laptop untuk menginput nilai?

Tidak harus. Aplikasi yang baik bisa dipakai dari HP, meskipun laptop lebih nyaman untuk menyusun deskripsi panjang.

Bagaimana cara melatih guru yang belum terbiasa?

Mulai dengan satu mapel dan satu rombel, beri panduan singkat bergambar, dan tunjuk satu guru pendamping di setiap jenjang.

Apakah orang tua bisa melihat nilai harian?

Bisa bila sekolah membukanya. Banyak sekolah memilih membuka nilai sumatif saja agar orang tua tidak salah memahami nilai formatif.

Kapan waktu terbaik untuk mulai memakai aplikasi baru?

Awal semester, agar semua nilai sejak asesmen pertama tersimpan di aplikasi yang sama.

ASIS: Aplikasi Nilai yang Tersambung dari Soal sampai Rapor

Akar masalah penilaian di sekolah adalah aplikasi yang terpisah-pisah: soal di satu tempat, hasil ujian di tempat lain, rekap di lembar kerja, dan rapor di aplikasi berbeda. Guru menjadi penyalin data.

ASIS menyatukan rantai itu. Bank soal dengan bantuan AI yang wajib ditinjau guru, CBT dan ujian kertas dengan lembar jawaban ber-QR, hingga e-Rapor Kurikulum Merdeka berada dalam satu platform. Kehadiran dan catatan perkembangan dari profil murid ikut masuk rapor tanpa diketik ulang, dan 45 peran pengguna menjaga agar guru, wali kelas, dan orang tua hanya melihat data yang menjadi haknya. Biayanya per lembaga, bukan per murid.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.