WAWASAN ASIS

Asesmen Formatif: 12 Teknik Praktis dan Contoh Instrumen

Asesmen formatif dalam praktik: 12 teknik cepat di kelas, contoh instrumen tiket keluar dan daftar cek, cara mencatat, serta tindak lanjut hasilnya.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Kurikulum & Pembelajaran

Asesmen formatif adalah penilaian yang dilakukan selama proses belajar untuk mengetahui sejauh mana murid memahami materi, lalu dipakai guru untuk menyesuaikan pembelajaran dan memberi umpan balik. Tujuannya memperbaiki, bukan memberi nilai akhir. Asesmen formatif yang baik bisa berlangsung dua menit di akhir pelajaran, tidak harus berupa ulangan.

Artikel ini fokus pada praktik: 12 teknik yang bisa dipakai besok pagi, contoh instrumen siap pakai, cara mencatat tanpa repot, dan cara menindaklanjuti hasilnya. Untuk perbedaan formatif dan sumatif secara konseptual, baca "Asesmen Formatif dan Sumatif: Perbedaan dan Contohnya".

Tiga pertanyaan inti

Setiap teknik formatif sebenarnya menjawab tiga pertanyaan:

  1. Murid sedang menuju ke mana? Tujuan pembelajaran hari ini.
  2. Murid sekarang ada di mana? Bukti pemahaman yang dikumpulkan.
  3. Apa langkah berikutnya? Umpan balik dan penyesuaian.

Bila salah satu tidak terjawab, asesmen hanya menjadi kegiatan mengumpulkan data tanpa manfaat.

12 teknik asesmen formatif yang praktis

Teknik di awal pelajaran

1. Pertanyaan pemantik terbuka. "Menurut kalian, mengapa es batu mencair lebih cepat di tangan daripada di meja?" Dengarkan jawaban untuk menemukan miskonsepsi.

2. Peta konsep cepat. Murid menulis semua yang ia ketahui tentang topik dalam tiga menit. Guru melihat titik awal kelas.

3. Kartu tahu-ingin tahu. Murid menulis satu hal yang sudah ia ketahui dan satu hal yang ingin ia ketahui.

Teknik di tengah pelajaran

4. Jempol naik, datar, turun. Murid menunjukkan tingkat pemahaman setelah penjelasan. Cepat, tetapi gabungkan dengan teknik lain karena murid kadang ikut-ikutan.

5. Papan tulis mini. Murid menulis jawaban di papan kecil atau kertas, lalu mengangkatnya bersamaan. Guru langsung melihat siapa yang keliru.

6. Kartu huruf A-B-C-D. Guru memberi soal pilihan ganda, murid mengangkat kartu. Pengecoh yang dirancang dari miskonsepsi umum sangat membantu.

7. Berpikir-berpasangan-berbagi. Murid berpikir sendiri, berdiskusi berpasangan, lalu berbagi ke kelas. Guru berkeliling mendengarkan.

8. Kuis langsung singkat. Tiga sampai lima soal lewat aplikasi kuis di kelas. Hasil per soal langsung terlihat sehingga guru tahu bagian mana yang perlu diulang.

Teknik di akhir pelajaran

9. Tiket keluar. Murid menjawab satu atau dua pertanyaan di kertas kecil sebelum meninggalkan kelas.

10. Satu kalimat ringkasan. "Tuliskan inti pelajaran hari ini dalam satu kalimat."

11. Lampu lalu lintas. Murid menandai hijau (paham dan bisa menjelaskan), kuning (paham sebagian), atau merah (belum paham) pada daftar tujuan pembelajaran.

12. Penilaian diri dan antarteman. Murid menilai karya sendiri atau teman dengan rubrik sederhana, lalu memperbaikinya.

Contoh instrumen siap pakai

Tiket keluar (IPAS kelas 4, wujud zat)

Pertanyaan Jawaban murid
Sebutkan satu contoh benda yang berubah dari padat menjadi cair.
Mengapa mentega di atas nasi hangat meleleh?
Seberapa yakin kamu dengan jawabanmu? (1–3)

Daftar cek observasi diskusi kelompok

Nama murid Memberi pendapat Memberi alasan Menanggapi teman Catatan
Ayu Ya Ya Belum Perlu dilatih menanggapi
Bima Ya Belum Ya Alasan masih "pokoknya"
Citra Belum Belum Belum Pendiam, coba berpasangan

Nama di atas fiktif. Daftar cek cukup diisi untuk satu kelompok per pertemuan agar tidak membebani.

Rubrik penilaian diri sederhana

Aspek Belum Sebagian Sudah
Aku bisa menjelaskan langkah-langkahnya
Aku bisa memberi contoh sendiri
Aku tahu bagian yang masih sulit

Mencatat tanpa repot

Guru tidak perlu mencatat semua hasil formatif sebagai nilai. Yang perlu dicatat:

  • pola kelas: "60% murid masih keliru membedakan menguap dan mendidih",
  • murid yang perlu perhatian: nama dan kesulitannya,
  • keputusan guru: "besok diulang dengan percobaan sederhana".

Catatan ini bisa ditulis di jurnal mengajar dalam dua atau tiga kalimat setelah pelajaran. Setelah beberapa minggu, catatan pendek seperti ini membentuk gambaran yang sangat berguna saat menyusun asesmen sumatif dan program remedial.

Menindaklanjuti hasil

Hasil formatif Tindak lanjut
Hampir semua murid paham Lanjut ke materi berikutnya, beri pengayaan bagi yang cepat
Sebagian murid keliru di bagian yang sama Ulang bagian itu dengan cara berbeda di awal pertemuan berikutnya
Beberapa murid tertinggal jauh Kelompok kecil atau pendampingan singkat
Banyak miskonsepsi Rancang ulang kegiatan, misalnya dengan percobaan atau benda konkret

Umpan balik kepada murid sebaiknya spesifik dan bisa ditindaklanjuti. "Langkahmu sudah benar sampai baris ketiga. Periksa lagi tanda negatif di baris keempat" lebih berguna daripada "kurang teliti". Pembahasan lebih dalam ada di "Umpan Balik Asesmen yang Membuat Murid Mau Memperbaiki".

Kesalahan umum

  • Menjadikannya ulangan kecil yang selalu dinilai sehingga murid takut salah dan enggan jujur menunjukkan kesulitannya.
  • Mengumpulkan tiket keluar tetapi tidak pernah dibaca.
  • Hanya memakai jempol naik-turun yang mudah ditiru.
  • Umpan balik berupa angka saja.
  • Tidak mengubah apa pun dalam pembelajaran setelah melihat hasil.

Checklist guru

  • Tujuan pembelajaran disampaikan di awal.
  • Minimal satu teknik formatif di setiap pertemuan.
  • Hasil dibaca pada hari yang sama.
  • Pola kelas dan murid yang perlu perhatian dicatat.
  • Ada penyesuaian di pertemuan berikutnya.
  • Umpan balik spesifik diberikan kepada murid.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah hasil asesmen formatif harus masuk rapor?

Umumnya tidak sebagai nilai akhir, karena fungsinya untuk perbaikan. Ikuti kebijakan penilaian sekolah dan panduan terbaru kementerian.

Seberapa sering guru perlu melakukannya?

Idealnya di setiap pertemuan, walau hanya dua menit. Frekuensi lebih penting daripada panjang instrumen.

Apakah penilaian selama proses harus tertulis?

Tidak. Pengamatan, pertanyaan lisan, dan diskusi juga termasuk, selama guru menangkap bukti pemahaman dan menindaklanjutinya.

Bagaimana caranya di kelas besar?

Gunakan teknik serentak seperti papan tulis mini, kartu huruf, atau kuis langsung, dan amati satu kelompok per pertemuan secara bergantian.

Apakah aplikasi kuis cocok untuk asesmen formatif?

Cocok bila hasil per soal dibaca dan ditindaklanjuti, bukan sekadar menjadi permainan kompetisi.

ASIS: Bukti Belajar Harian yang Tidak Hilang

Penilaian harian sebenarnya sering dilakukan guru, tetapi jejaknya hilang: tiket keluar dibuang, catatan di kertas lepas, dan pola kesulitan murid hanya tersimpan di ingatan guru.

ASIS membantu menyimpan jejak itu tanpa menambah beban. Kuis langsung dan flashcard bisa dipakai di kelas dengan hasil per soal yang langsung terlihat, jurnal mengajar menyimpan catatan pola kelas dan keputusan guru, dan catatan perkembangan masuk ke profil murid. Bank soal dengan bantuan AI membantu guru menyiapkan soal latihan, dengan setiap soal tetap ditinjau guru, dan Studio menyediakan aktivitas serta lab interaktif untuk mengulang materi dengan cara berbeda.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah, aplikasi gratis dari ekosistem ASIS, tersedia untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.