WAWASAN ASIS

Hak Bahasa Isyarat Anak Tuli, Bukan Pilihan Terakhir

Hak bahasa isyarat anak Tuli sering dianggap jalan terakhir setelah terapi bicara gagal. Padahal bahasa isyarat adalah fondasi bahasa dan belajar sejak dini.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Wawasan

Banyak orang tua anak Tuli pernah mendengar saran yang sama: "Jangan ajari bahasa isyarat dulu, nanti anaknya malas bicara." Bahasa isyarat lalu ditempatkan sebagai pilihan terakhir, baru dipakai jika terapi bicara dianggap gagal.

Peluncuran Program Pendidikan Bilingual untuk murid Tuli oleh Kemendikdasmen pada Juni 2026 adalah kesempatan untuk meluruskan cara pandang ini. Hak bahasa isyarat anak Tuli bukan hadiah, dan bukan pula jalan terakhir. Bahasa isyarat adalah hak.

Bahasa adalah kebutuhan dasar

Setiap anak membutuhkan bahasa untuk berpikir, bertanya, mengungkapkan perasaan, dan memahami dunia. Anak dengar mendapatkannya hampir tanpa usaha, dari percakapan di sekitarnya sejak lahir.

Anak Tuli tidak bisa menyerap bahasa lisan dengan cara yang sama. Jika selama bertahun-tahun ia hanya diberi akses lewat bunyi yang tidak bisa ia dengar, ia kehilangan masa paling penting untuk membangun bahasa. Kehilangan ini tidak mudah dikejar.

Bahasa isyarat bersifat visual sehingga bisa diakses sepenuhnya oleh anak Tuli. Memenuhi hak bahasa isyarat anak Tuli sejak dini berarti memberikan fondasi bahasa yang utuh.

Mitos yang perlu diluruskan

"Bahasa isyarat membuat anak malas bicara"

Bahasa isyarat dan bahasa lisan tidak saling meniadakan. Anak yang punya fondasi bahasa yang kuat justru lebih siap mempelajari bahasa kedua, termasuk bahasa Indonesia tulis dan lisan. Itulah dasar pendekatan bilingual.

"Bahasa isyarat hanya gerakan tangan"

BISINDO adalah bahasa yang utuh, dengan kosakata, tata bahasa, dan variasi daerah. Ekspresi wajah dan gerak tubuh juga bagian dari tata bahasanya.

"Kalau pakai isyarat, anak tidak bisa bergaul dengan orang dengar"

Anak yang percaya diri dalam bahasanya justru lebih berani berkomunikasi, termasuk lewat tulisan dengan orang dengar. Yang membuat anak terasing adalah ketika ia tidak punya bahasa sama sekali.

Peran orang tua

  • Belajar BISINDO bersama anak. Kosakata sederhana di rumah sudah sangat berarti.
  • Kenalkan anak dengan komunitas Tuli. Anak perlu melihat orang dewasa Tuli yang berhasil dan percaya diri.
  • Tanyakan pendekatan bahasa di sekolah. Apakah guru memakai BISINDO? Apakah instruksi penting dituliskan?
  • Hargai semua cara anak berkomunikasi. Isyarat, tulisan, gambar, dan suara sama-sama sah.

Peran sekolah

Sekolah yang menghormati hak bahasa isyarat bisa dikenali dari hal-hal sederhana: ada guru yang mengerti BISINDO, instruksi penting dituliskan, teman sekelas belajar beberapa isyarat dasar, dan penilaian tidak menghukum murid karena cara bicaranya.

ASIS: rumah dan sekolah di tim yang sama

Hak anak Tuli hanya terpenuhi jika rumah dan sekolah bergerak bersama. Sayangnya, kabar dari sekolah sering baru sampai ke orang tua saat rapor dibagikan. ASIS dibangun untuk mengatasi masalah ini, dengan visi agar orang tua tidak lagi menjadi penonton dalam pendidikan anaknya.

Lewat ASIS Mobile, orang tua dapat membaca catatan perkembangan dari guru, pengumuman, presensi, dan nilai anak dalam bentuk tulisan yang mudah diakses, termasuk oleh keluarga Tuli. Guru pun bisa mencatat kemajuan kecil yang tidak tercermin di nilai ulangan, seperti bertambahnya kosakata atau keberanian bertanya.

ASIS gratis untuk semua sekolah. Jika anak Anda belajar di pesantren, madrasah diniyah, atau TPQ, ada Basmalah yang juga gratis untuk menghubungkan kabar santri dengan keluarga. Ajak sekolah anak Anda bergabung di asis.id.

Latar: Kompas – Kolaborasi Pendidikan Bilingual untuk Tuli, Menjadikan Bahasa Isyarat Hak.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.