WAWASAN ASIS

Contoh Catatan Anekdot PAUD yang Baik dan Benar

Contoh catatan anekdot PAUD yang objektif untuk tiap elemen capaian, beserta format, cara menulis kejadian tanpa menilai, dan kesalahan yang sering terjadi.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Panduan

Contoh catatan anekdot yang baik selalu memisahkan dua hal: apa yang benar-benar terlihat dan terdengar, lalu apa makna kejadian itu bagi perkembangan anak. Bagian kejadian ditulis objektif, seperti kamera yang merekam, tanpa kata sifat penilaian seperti "pintar", "nakal", atau "malas". Bagian analisis mengaitkan kejadian dengan elemen capaian pembelajaran PAUD dan menentukan tindak lanjut. Di bawah ini ada format yang mudah dipakai, contoh untuk setiap elemen, perbandingan catatan yang kurang tepat dan yang tepat, serta tips agar mencatat tidak mengganggu pendampingan bermain.

Apa itu catatan anekdot

Catatan anekdot adalah catatan singkat tentang peristiwa bermakna yang dialami atau dilakukan anak, ditulis berdasarkan pengamatan langsung. Peristiwa bermakna tidak harus luar biasa. Anak yang untuk pertama kalinya mau berbagi mainan, menghitung tangga sambil berjalan, atau bertanya "kenapa daun ini kuning?" adalah momen yang layak dicatat.

Dalam asesmen PAUD, catatan anekdot dipakai bersama hasil karya dan ceklis untuk menggambarkan perkembangan anak secara utuh. Catatan yang terkumpul selama satu semester menjadi bahan laporan perkembangan kepada orang tua.

Format catatan anekdot

Bagian Isi
Identitas Nama anak (atau inisial), kelompok, tanggal, waktu, tempat
Kejadian Apa yang dilakukan dan diucapkan anak, ditulis apa adanya
Analisis Kaitan kejadian dengan elemen capaian pembelajaran
Tindak lanjut Rencana guru untuk mendukung atau menguatkan

Kurikulum Merdeka PAUD memiliki tiga elemen capaian: Nilai Agama dan Budi Pekerti; Jati Diri; serta Dasar-dasar Literasi, Matematika, Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Seni. Contoh di bawah dikelompokkan berdasarkan elemen tersebut.

Contoh catatan anekdot per elemen

Semua nama anak berikut fiktif.

Elemen Nilai Agama dan Budi Pekerti

Identitas: Aisyah, Kelompok B, Senin 8 September, 07.45, halaman sekolah.

Kejadian: Aisyah melihat temannya, Bima, menjatuhkan bekal di halaman. Aisyah berjalan mendekat, memungut dua potong roti, lalu berkata, "Ini, Bima. Tapi sudah kotor, nanti kita bilang Bu Guru ya." Aisyah menggandeng Bima ke ruang guru.

Analisis: Aisyah menunjukkan kepedulian dan mencari bantuan orang dewasa saat temannya mengalami masalah.

Tindak lanjut: Ceritakan kejadian di lingkaran pagi sebagai contoh saling menolong, tanpa memaksa Aisyah tampil bila ia tidak mau.

Elemen Jati Diri

Identitas: Dimas, Kelompok A, Rabu 10 September, 09.15, area bermain peran.

Kejadian: Dimas ingin memakai topi koki yang sedang dipakai Laras. Dimas berdiri diam selama sekitar satu menit, lalu berkata, "Laras, nanti gantian ya. Aku tunggu." Dimas mengambil celemek dan mulai menata piring sambil sesekali melihat ke arah Laras. Lima menit kemudian Laras menyerahkan topi itu.

Analisis: Dimas mampu mengelola keinginan dan menunggu giliran dengan kata-kata, bukan merebut.

Tindak lanjut: Beri pujian spesifik ("Dimas tadi sabar menunggu giliran"), dan perhatikan apakah kemampuan ini muncul juga di area lain.

Elemen Dasar Literasi

Identitas: Naura, Kelompok B, Kamis 11 September, 10.00, sudut baca.

Kejadian: Naura membuka buku bergambar tentang kucing. Ia menunjuk tulisan di sampul dan berkata, "Ini K, kayak nama Kak Kiki." Naura membalik halaman satu per satu dan menceritakan gambar dengan kalimat sendiri kepada boneka di sebelahnya.

Analisis: Naura mengenali huruf dan mengaitkannya dengan nama yang ia kenal, serta mampu bercerita runtut dari gambar.

Tindak lanjut: Sediakan kartu nama teman di sudut baca dan ajak Naura mencari huruf yang sama.

Elemen Dasar Matematika

Identitas: Farel, Kelompok A, Jumat 12 September, 08.30, area balok.

Kejadian: Farel menyusun balok menjadi dua menara. Ia menunjuk menara kiri dan berkata, "Ini tinggi." Ia menghitung balok menara kanan, "Satu, dua, tiga, empat, lima," lalu menambah dua balok sambil berkata, "Sekarang sama."

Analisis: Farel membandingkan tinggi, menghitung satu per satu, dan mencoba menyamakan jumlah.

Tindak lanjut: Ajak Farel membandingkan menara dengan benda lain, misalnya tinggi badan teman.

Elemen Dasar Sains dan Rekayasa

Identitas: Kirana, Kelompok B, Selasa 16 September, 09.40, area pasir dan air.

Kejadian: Kirana menuang air ke saluran pasir buatannya. Air meresap sebelum sampai ujung. Kirana berkata, "Airnya hilang." Ia mengambil potongan plastik bekas, meletakkannya di dasar saluran, lalu menuang air lagi. Air mengalir sampai ujung. Kirana tertawa dan berkata, "Pakai ini airnya jalan!"

Analisis: Kirana mengamati masalah, mencoba solusi, dan menguji hasilnya.

Tindak lanjut: Sediakan bahan lain (daun, kain, kardus) dan ajak Kirana membandingkan mana yang paling baik menahan air.

Elemen Dasar Seni

Identitas: Raka, Kelompok A, Rabu 17 September, 10.20, area menggambar.

Kejadian: Raka mencampur cat biru dan kuning di piring. Ia berkata, "Bu, jadi hijau!" Raka mengoleskan warna hijau di kertas dan menambahkan titik-titik merah sambil berkata, "Ini pohon rambutan."

Analisis: Raka bereksplorasi dengan warna dan mengekspresikan pengalaman melalui karya.

Tindak lanjut: Pajang karya Raka dan ajak ia bercerita tentang pohon rambutan di rumahnya.

Catatan yang kurang tepat dan perbaikannya

Kurang tepat Lebih tepat
"Bima nakal, merebut mainan." "Bima menarik mobil-mobilan dari tangan Sari dan berkata, 'Punyaku!' Sari menangis."
"Naura sudah pintar membaca." "Naura menunjuk huruf K di sampul buku dan berkata, 'Ini K, kayak nama Kak Kiki.'"
"Dimas malas ikut kegiatan." "Dimas duduk di pojok dan tidak bergabung saat kegiatan menari selama 10 menit. Saat ditanya, ia berkata, 'Capek.'"
"Farel bagus dalam berhitung." "Farel menghitung lima balok sambil menunjuk satu per satu."

Kata sifat penilaian menutup kemungkinan penafsiran lain. "Malas" bisa jadi sebenarnya lelah, sakit, atau belum nyaman dengan kegiatannya.

Tips mencatat tanpa mengganggu bermain

  • Kantongi catatan kecil atau gunakan ponsel. Tulis kata kunci dulu, lengkapi saat anak istirahat.
  • Fokus pada beberapa anak per hari, misalnya tiga sampai lima, agar setiap anak tercatat merata dalam sepekan.
  • Kutip ucapan anak sebisa mungkin, karena kalimat anak sangat kaya informasi.
  • Lengkapi dengan foto bila sekolah mengizinkan dan privasi anak terjaga.
  • Jangan menunda terlalu lama. Catatan yang ditulis sore hari dari ingatan pagi sering kehilangan detail.

Contoh perencanaan kegiatan harian yang memberi banyak peluang pengamatan ada di artikel contoh RPPH TK.

Pertanyaan yang sering diajukan

Berapa banyak catatan anekdot yang perlu dibuat?

Tidak ada jumlah baku. Yang penting setiap anak punya catatan yang cukup untuk menggambarkan perkembangannya di setiap elemen selama satu semester.

Apakah catatan anekdot hanya untuk kejadian positif?

Tidak. Kejadian yang menunjukkan tantangan juga dicatat secara objektif agar guru bisa merancang dukungan yang tepat.

Apa beda catatan anekdot dengan ceklis?

Ceklis mencatat ada atau tidaknya perilaku tertentu. Catatan anekdot menceritakan konteks kejadian, sehingga lebih kaya untuk memahami cara anak berpikir dan merasa.

Bagaimana memakai contoh catatan anekdot untuk laporan orang tua?

Pilih beberapa catatan yang paling menggambarkan perkembangan, lalu rangkum dengan bahasa yang hangat dan mudah dipahami, disertai saran kegiatan di rumah.

Bolehkah memakai nama lengkap anak di catatan?

Boleh di dokumen internal sekolah yang aksesnya terbatas. Saat dibagikan sebagai contoh atau dipajang, gunakan inisial atau nama samaran.

ASIS: Catatan Tumbuh Kembang Anak Tersimpan Utuh

Contoh catatan anekdot di atas hanya bermanfaat bila catatannya terkumpul. Di banyak PAUD, catatan tersebar di buku kecil, kertas tempel, dan galeri ponsel guru, lalu sebagian hilang sebelum laporan semester disusun. Guru akhirnya menulis laporan dari ingatan.

ASIS memegang prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Modul PAUD di ASIS menyediakan catatan tumbuh kembang, dan profil murid yang utuh menyimpan catatan perkembangan setiap anak di satu tempat. Saat menyusun laporan, guru tinggal membuka catatan yang sudah ada. Orang tua bisa menerima kabar lewat notifikasi aplikasi dan kotak masuk aplikasi, dan setiap peran hanya melihat data yang ia perlukan.

ASIS gratis untuk semua sekolah, termasuk PAUD dan TK, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.