Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Harga aplikasi sekolah per murid atau per lembaga? Simak cara menghitung biaya sebenarnya, biaya tersembunyi, dan simulasi anggaran untuk Bendahara.
Harga aplikasi sekolah umumnya dihitung dengan dua cara: per murid (biaya dikali jumlah murid, sering per bulan) atau per lembaga (satu harga untuk satu sekolah per tahun). Untuk sekolah dengan lebih dari seratus murid, skema per lembaga hampir selalu lebih hemat dan lebih mudah dianggarkan. Namun angka di brosur jarang menceritakan semuanya. Artikel ini membantu Bendahara menghitung biaya sebenarnya, termasuk biaya yang baru terasa setelah sistem berjalan.
Penyedia menetapkan tarif untuk setiap murid aktif, misalnya per bulan atau per semester. Skema ini terlihat ringan di awal karena angkanya kecil. Masalahnya, tagihan ikut naik setiap kali murid bertambah, dan sekolah yang sedang tumbuh justru "dihukum" oleh pertumbuhannya sendiri.
Skema ini juga menyulitkan perencanaan. Jumlah murid baru pasti diketahui setelah penerimaan murid baru selesai, padahal anggaran sering harus disusun lebih dulu.
Sekolah membayar satu harga tetap per tahun, berapa pun jumlah murid dan pengguna. Anggarannya mudah ditulis di RKAS atau rencana anggaran yayasan karena angkanya pasti. Kenaikan jumlah murid tidak mengubah biaya.
Kelemahannya, untuk lembaga yang sangat kecil (misalnya kelompok belajar dengan belasan murid), harga tetap bisa terasa mahal bila penyedia tidak punya paket dasar yang terjangkau atau gratis.
Berikut ilustrasi dengan angka contoh. Angka ini bukan harga penyedia tertentu, hanya alat bantu hitung yang bisa Bapak/Ibu ganti dengan penawaran yang diterima.
| Jumlah murid | Per murid (contoh Rp5.000/bulan) | Per lembaga (contoh Rp1.000.000/tahun) |
|---|---|---|
| 80 | Rp4.800.000/tahun | Rp1.000.000/tahun |
| 250 | Rp15.000.000/tahun | Rp1.000.000/tahun |
| 600 | Rp36.000.000/tahun | Rp1.000.000/tahun |
| 1.200 | Rp72.000.000/tahun | Rp1.000.000/tahun |
Rumusnya sederhana: tarif per murid × jumlah murid × 12 bulan. Selisihnya membesar seiring jumlah murid. Pada sekolah dengan 600 murid, selisih di contoh ini cukup untuk membeli beberapa laptop guru atau mendanai kegiatan literasi setahun.
Harga aplikasi sekolah di brosur hanyalah satu komponen. Bendahara perlu menanyakan hal-hal berikut sebelum menandatangani kontrak.
Beberapa sistem memotong biaya untuk setiap pembayaran SPP yang masuk. Potongan kecil per transaksi bisa menjadi besar bila dikalikan ratusan murid dan dua belas bulan. Tanyakan: siapa yang menanggung potongan itu, sekolah atau orang tua?
Paket dasar kadang hanya berisi data murid dan presensi. Rapor, keuangan, atau perpustakaan dijual sebagai tambahan. Minta daftar fitur tertulis per paket.
Ada sistem yang membatasi jumlah notifikasi atau mengenakan biaya per pesan. Pada sekolah yang aktif mengirim pengumuman, biaya ini cepat menumpuk.
Sistem yang harus dipasang di server sendiri membutuhkan biaya perangkat, listrik, internet, dan orang yang merawatnya. Biaya ini jarang tercantum di penawaran, tetapi nyata.
Tanyakan apakah pelatihan operator dan guru sudah termasuk, atau dihitung per sesi.
Bila suatu saat sekolah ingin pindah sistem, apakah data bisa diekspor dengan mudah dan gratis? Sistem yang menahan data membuat sekolah sulit pindah meski harganya naik.
Agar perbandingan harga aplikasi sekolah tidak bias oleh angka brosur, gunakan tabel kerja sederhana seperti di bawah. Isi untuk setiap penawaran yang diterima.
| Komponen | Penawaran A | Penawaran B |
|---|---|---|
| Langganan per tahun | ||
| Potongan transaksi per tahun (perkiraan) | ||
| Modul tambahan yang dibutuhkan | ||
| Notifikasi | ||
| Server, internet, perawatan | ||
| Pelatihan | ||
| Total per tahun |
Hitung untuk tiga tahun, bukan satu. Banyak penawaran murah di tahun pertama lalu naik setelah sekolah bergantung pada sistemnya.
Jawaban tertulis atas pertanyaan ini lebih berharga untuk menilai harga aplikasi sekolah daripada demo yang memukau.
Hanya melihat harga per bulan. Angka Rp3.000 per murid terdengar kecil sampai dikalikan jumlah murid dan dua belas bulan.
Memilih yang paling murah tanpa melihat kelengkapan. Bila sekolah tetap harus membeli aplikasi lain untuk rapor atau keuangan, total biayanya bisa lebih mahal.
Melupakan biaya waktu. Sistem yang memaksa TU mengetik ulang data yang sama di beberapa tempat menghabiskan jam kerja, dan jam kerja juga biaya.
Tidak melibatkan pengguna. Bendahara, TU, dan guru perlu mencoba langsung. Sistem yang tidak dipakai adalah biaya tanpa manfaat.
Sekolah kecil dan madrasah di daerah. Prioritaskan biaya tetap yang rendah atau gratis, serta kemudahan dipakai di HP Android karena tidak semua guru punya laptop.
Sekolah menengah dengan ratusan murid. Skema per lembaga biasanya paling hemat. Fokus pada kelengkapan modul keuangan dan rapor.
Yayasan dengan beberapa unit. Tanyakan apakah harga dihitung per unit sekolah dan apakah yayasan bisa melihat ringkasan semua unit dalam satu tempat.
Pesantren dan TPQ. Cari sistem yang memahami kebutuhan khusus seperti hafalan, syahriah, dan izin pulang santri.
Tidak selalu. Untuk lembaga yang sangat kecil, skema per murid bisa lebih murah. Namun semakin banyak murid, semakin besar biayanya, sehingga untuk sekolah menengah ke atas skema per lembaga biasanya lebih hemat.
Pembelian layanan aplikasi umumnya dapat direncanakan dalam anggaran sekolah, tetapi pastikan sesuai komponen yang diizinkan pada juknis dana yang dipakai. Rujuk juknis terbaru dan konsultasikan dengan dinas atau pengawas.
Biaya yang tidak tercantum di harga langganan, misalnya potongan transaksi pembayaran, modul tambahan, biaya notifikasi, server, atau pelatihan.
Jumlahkan semua komponen biaya per tahun, lalu kalikan tiga. Untuk skema per murid, gunakan perkiraan jumlah murid tiap tahun agar hasilnya realistis.
Tidak otomatis. Yang perlu dicek adalah model bisnisnya: apakah penyedia hidup dari iklan atau menjual data. Tanyakan kebijakan data secara tertulis.
Akar masalah biaya aplikasi sekolah sering bukan pada angka langganannya, melainkan pada skema yang membuat biaya ikut membengkak bersama jumlah murid, ditambah potongan transaksi dan modul yang dijual satu per satu. Sekolah yang sedang tumbuh akhirnya membayar lebih justru karena berhasil menarik lebih banyak murid.
ASIS dibangun dengan visi "Teknologinya gratis, kemajuannya kita bangun bersama." Paket ASIS dihitung per tahun per lembaga, bukan per murid. Paket dasar ASIS Rp0 sudah mencakup semua aplikasi: web asis.id, ASIS Mobile untuk Android, Pustaka, dan Studio, lengkap dengan subdomain situs sekolah. Sekolah bisa mengaktifkan modul yang dibutuhkan dari 57 modul yang tersedia. Pembayaran SPP dilakukan orang tua dengan transfer langsung ke rekening sekolah lalu mengunggah bukti bayar untuk diverifikasi Bendahara, tanpa potongan biaya transaksi dari ASIS. Notifikasi aplikasi pun gratis tanpa batas. Paket berbayar seperti ASIS Plus (Rp300 ribu per tahun) atau ASIS Pro (Rp500 ribu per tahun) hanya diperlukan bila sekolah ingin domain sendiri atau layanan tambahan.
ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai dan bandingkan sendiri di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.