WAWASAN ASIS

Kesalahan EYD Edisi V yang Sering Muncul di Tulisan Murid

Daftar kesalahan EYD edisi V yang sering muncul di tulisan murid: kata depan, huruf kapital, tanda baca, kata ulang, angka, dan cara guru mengoreksinya.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Kurikulum & Pembelajaran

Kesalahan EYD edisi V yang paling sering muncul di tulisan murid sebenarnya berulang pada pola yang sama: kata depan "di" yang disambung, awalan "di-" yang dipisah, huruf kapital yang tidak tepat, tanda koma yang hilang, dan penulisan kata ulang serta angka. Ejaan yang Disempurnakan Edisi V diluncurkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada 2022 dan menjadi acuan ejaan bahasa Indonesia saat ini. Artikel ini merangkum kesalahan yang paling umum beserta contoh salah dan benar, cara menjelaskannya kepada murid, dan strategi koreksi yang tidak membuat murid takut menulis.

Mengapa murid sering salah ejaan

Ada beberapa penyebab yang biasa ditemui guru:

  • murid lebih banyak membaca tulisan informal di media sosial yang tidak mengikuti kaidah,
  • kaidah diajarkan sebagai hafalan, bukan latihan menulis yang berulang,
  • koreksi guru hanya berupa coretan tanpa penjelasan,
  • murid tidak pernah diminta menyunting tulisannya sendiri.

Kabar baiknya, sebagian besar kesalahan berasal dari sedikit kaidah. Menguasai kaidah inti ini akan memperbaiki banyak tulisan sekaligus.

Daftar kesalahan EYD edisi V yang paling sering

1. Kata depan "di", "ke", "dari" disambung

Kata depan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Salah Benar
dirumah di rumah
kesekolah ke sekolah
disana di sana
dimana di mana

2. Awalan "di-" dipisah

Sebaliknya, awalan "di-" yang membentuk kata kerja pasif ditulis serangkai.

Salah Benar
di tulis ditulis
di baca dibaca
di ambil diambil

Cara mengajarkan: minta murid mengganti kata dengan bentuk aktif. Jika bisa menjadi "menulis" atau "membaca", berarti "di-" adalah awalan dan disambung. Jika menunjukkan tempat dan bisa ditanya "di mana?", berarti kata depan dan dipisah.

3. Huruf kapital pada sapaan dan nama

Huruf kapital dipakai untuk sapaan kekerabatan yang digunakan sebagai sapaan langsung, tetapi tidak jika tidak dipakai sebagai sapaan.

Salah Benar
"Kapan ibu pulang?" tanya Rina. "Kapan Ibu pulang?" tanya Rina.
Semua Ibu dan Bapak di kampung datang. Semua ibu dan bapak di kampung datang.
saya tinggal di jawa tengah. Saya tinggal di Jawa Tengah.

4. Huruf kapital pada nama hari, bulan, dan geografi

Nama hari dan bulan diawali huruf kapital, misalnya Senin dan Agustus. Nama geografi juga, misalnya Sungai Musi dan Gunung Merapi. Namun kata seperti "sungai" tidak berhuruf kapital jika tidak menjadi bagian nama, misalnya "mandi di sungai".

5. Tanda koma sebelum "tetapi" dan "sedangkan"

Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung seperti "tetapi", "melainkan", dan "sedangkan" dalam kalimat majemuk setara.

  • Salah: Saya ingin ikut lomba tetapi belum mendaftar.
  • Benar: Saya ingin ikut lomba, tetapi belum mendaftar.

6. Tanda koma setelah keterangan di awal kalimat

Keterangan atau anak kalimat di awal kalimat diikuti tanda koma.

  • Salah: Karena hujan deras kami tidak jadi berangkat.
  • Benar: Karena hujan deras, kami tidak jadi berangkat.

7. Kata ulang

Kata ulang ditulis dengan tanda hubung, bukan angka dua.

Salah Benar
anak2 anak-anak
buku2 buku-buku
bermain main bermain-main

8. Partikel "pun"

Partikel "pun" umumnya ditulis terpisah, misalnya "apa pun", "siapa pun", dan "jika pun". Namun ada bentuk yang sudah padu dan ditulis serangkai, seperti "meskipun", "walaupun", "adapun", dan "bagaimanapun".

9. Penulisan angka

  • Bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf dalam teks, misalnya "tiga ekor kucing".
  • Bilangan di awal kalimat ditulis dengan huruf: "Dua puluh murid ikut lomba", bukan "20 murid ikut lomba."
  • Angka dipakai untuk ukuran, nilai uang, dan data, misalnya "5 kilogram" atau "Rp10.000".

10. Kata baku yang sering keliru

Tidak baku Baku
praktek praktik
resiko risiko
aktifitas aktivitas
ijin izin
merubah mengubah

Contoh paragraf murid dan hasil suntingan

Berikut paragraf karangan murid kelas 6 (ilustrasi) sebelum disunting:

"Hari minggu kemarin saya pergi kepasar bersama ibu. Disana banyak sekali orang tetapi kami tetap membeli sayur2an. Sayur itu di masak ibu untuk makan siang."

Setelah disunting:

"Hari Minggu kemarin saya pergi ke pasar bersama ibu. Di sana banyak sekali orang, tetapi kami tetap membeli sayur-sayuran. Sayur itu dimasak ibu untuk makan siang."

Dalam tiga kalimat pendek saja ada enam kesalahan EYD edisi V: nama hari, kata depan "ke" dan "di", tanda koma sebelum "tetapi", kata ulang, dan awalan "di-". Contoh seperti ini bagus dijadikan latihan menyunting di awal pelajaran.

Strategi koreksi yang efektif

Fokus pada satu atau dua kaidah per tugas

Jika semua kesalahan dicoret sekaligus, murid kewalahan. Umumkan fokus koreksi, misalnya "Minggu ini kita fokus pada di- dan di." Kesalahan lain cukup ditandai ringan.

Gunakan kode koreksi

Tulis kode di pinggir baris, misalnya "KD" untuk kata depan atau "KP" untuk huruf kapital. Murid mencari dan memperbaiki sendiri. Cara ini melatih kemampuan menyunting.

Latihan menyunting berpasangan

Murid bertukar tulisan dan memeriksa satu kaidah tertentu. Menemukan kesalahan di tulisan teman sering lebih mudah, dan kebiasaan ini terbawa ke tulisan sendiri.

Kumpulkan kesalahan kelas

Catat kesalahan yang paling sering muncul di satu kelas tanpa menyebut nama, lalu jadikan latihan pembuka di pertemuan berikutnya.

Variasi per jenjang

Jenjang Fokus kaidah
SD kelas 3–4 Huruf kapital awal kalimat dan nama, tanda titik, kata depan
SD kelas 5–6 Awalan di-, kata ulang, tanda koma sederhana
SMP Tanda koma dalam kalimat majemuk, angka, kata baku
SMA Partikel, tanda baca dalam kutipan, konsistensi istilah

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa bedanya EYD edisi V dengan PUEBI?

EYD Edisi V adalah pedoman ejaan yang menggantikan PUEBI. Sebagian besar kaidah dasar tetap sama, dengan beberapa penyempurnaan. Rujuk pedoman resmi dari Badan Bahasa untuk rincian perubahannya.

Di mana guru bisa mengecek kaidah ejaan yang benar?

Gunakan laman resmi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa serta KBBI daring. Hindari mengandalkan daftar dari sumber yang tidak jelas.

Haruskah setiap kesalahan EYD edisi V di tulisan murid dicoret?

Tidak harus. Fokus pada kaidah yang sedang dipelajari agar murid tidak takut menulis. Kesalahan lain bisa dibahas bertahap.

Bagaimana membantu murid yang sudah terbiasa menulis gaya chat?

Bedakan konteks: menulis pesan kepada teman boleh santai, tetapi tugas sekolah memakai ragam baku. Latihan mengubah pesan informal menjadi kalimat baku bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Apakah ejaan juga dinilai di mata pelajaran lain?

Idealnya ya. Jika guru mata pelajaran lain juga memperhatikan ejaan dasar, murid akan lebih cepat terbiasa.

ASIS: Bahan Latihan dan Catatan Kemajuan Menulis di Satu Tempat

Mengajarkan ejaan membutuhkan latihan berulang dan pemantauan kemajuan tiap murid. Masalahnya, soal latihan sering dibuat ulang setiap tahun dan catatan kesalahan murid hanya tersimpan di buku guru.

Di ASIS, guru bisa menyusun soal di bank soal dengan bantuan AI yang wajib ditinjau guru, lalu memakainya kembali kapan saja. Aktivitas interaktif di Studio membuat latihan ejaan lebih menarik, dan buku pelajaran Bahasa Indonesia dari pemerintah tersedia di Pustaka. Nilai dan catatan perkembangan masuk ke profil murid serta e-Rapor Kurikulum Merdeka.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.