WAWASAN ASIS

Kokurikuler SMP: Contoh Kegiatan Fase D dan Pengaturannya

Kokurikuler SMP fase D: tiga contoh kegiatan kelas VII–IX, pilihan pola jadwal blok atau reguler, pembagian peran guru, format rencana, dan checklist.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Kurikulum & Pembelajaran

Kokurikuler SMP adalah kegiatan pendamping intrakurikuler yang menguatkan delapan dimensi profil lulusan melalui pengalaman belajar lintas disiplin, pembiasaan, atau bentuk lain yang dipilih sekolah, sebagaimana diatur Permendikdasmen 13/2025 yang menggantikan P5. Di SMP, tantangannya bukan kekurangan ide, melainkan pengaturan: guru mapel yang banyak, jadwal yang padat, dan murid remaja yang cepat bosan bila kegiatan terasa seperti tugas tambahan.

Panduan ini memberi tiga contoh kegiatan untuk kelas VII, VIII, dan IX, pilihan pola jadwal, pembagian peran guru, format rencana, dan checklist. Untuk ide bentuk kegiatan yang lebih luas, baca "Bentuk Kegiatan Kokurikuler yang Bisa Dipilih Sekolah", dan untuk menyusun keterkaitan antarmapel, baca "Kokurikuler Lintas Mata Pelajaran: Cara Menyusunnya".

Karakter murid SMP yang perlu diperhitungkan

Murid fase D sedang membangun identitas. Mereka ingin didengar, senang bekerja dengan teman, tetapi belum stabil dalam mengatur waktu. Kegiatan kokurikuler yang berhasil di SMP biasanya:

  • memberi pilihan, misalnya memilih subtema atau peran dalam kelompok,
  • punya produk yang dilihat orang lain, bukan hanya dikumpulkan ke guru,
  • terbagi menjadi target mingguan yang jelas,
  • menyentuh isu nyata di sekitar mereka: gawai, sampah, jajanan, perundungan, lingkungan sekolah.

Tiga contoh kegiatan per jenjang kelas

Kelas VII: "Sekolahku, Rumah Keduaku"

  • Dimensi: kewargaan, kolaborasi, komunikasi.
  • Pertanyaan pemantik: "Apa yang membuat sekolah nyaman untuk semua orang?"
  • Alur: murid baru memetakan sudut sekolah, mewawancarai satpam, petugas kebersihan, dan pengelola kantin, lalu menyusun "peta ramah" berisi saran perbaikan kecil.
  • Mapel terkait: Bahasa Indonesia (wawancara), IPS (pemetaan ruang), Seni Rupa (desain peta).
  • Produk: peta sekolah bergambar dan daftar usulan yang diserahkan ke OSIS.

Kelas VIII: "Gawai Bijak di Rumah Kita"

  • Dimensi: kesehatan, penalaran kritis, kemandirian.
  • Pertanyaan pemantik: "Berapa jam sebenarnya kita memakai gawai setiap hari?"
  • Alur: murid mencatat waktu layar selama satu minggu, mengolah data kelas, membaca informasi kesehatan tentang tidur dan layar, lalu membuat kesepakatan pribadi dan kampanye singkat untuk keluarga.
  • Mapel terkait: Matematika (statistika), IPA (sistem saraf dan tidur), Informatika (data dan dampak sosial), Bahasa Indonesia (teks persuasi).
  • Produk: infografis data kelas dan lembar kesepakatan keluarga.

Kelas IX: "Usaha Kecil, Belajar Besar"

  • Dimensi: kreativitas, kolaborasi, kemandirian, komunikasi.
  • Pertanyaan pemantik: "Bagaimana membuat produk yang dibutuhkan teman-teman kita?"
  • Alur: kelompok melakukan survei kebutuhan, merancang produk sederhana, menghitung modal dan harga, berjualan di hari gelar karya, lalu menyusun laporan laba-rugi dan refleksi.
  • Mapel terkait: Matematika (aritmetika sosial), IPS (kegiatan ekonomi), Prakarya.
  • Produk: produk, poster promosi, dan laporan keuangan kelompok.

Sesuaikan capaian dan materi dengan CP resmi terbaru dan panduan kokurikuler yang berlaku.

Pilihan pola jadwal

Pola Cara kerja Kelebihan Tantangan
Blok 1–2 minggu penuh untuk kokurikuler Murid fokus, mudah mendatangkan narasumber Intrakurikuler berhenti sementara
Reguler 2–3 JP setiap minggu sepanjang semester Tidak mengganggu jadwal mapel Momentum mudah hilang
Campuran Reguler mingguan, ditutup blok 2–3 hari Seimbang, ada puncak kegiatan Perlu koordinasi lebih rapi

Banyak SMP memilih pola campuran: kegiatan berjalan mingguan, lalu ditutup dengan dua hari gelar karya menjelang akhir semester. Alokasi waktu tetap mengikuti struktur kurikulum yang berlaku di sekolah.

Pembagian peran guru

Kokurikuler SMP sering macet karena semua guru merasa "ikut", tetapi tidak ada yang benar-benar memegang. Bagi peran secara tertulis:

Peran Tugas utama
Koordinator kokurikuler Menyusun kalender, memantau kemajuan, mengoordinasikan gelar karya
Fasilitator kelas Mendampingi satu rombel, mencatat perkembangan murid
Guru mapel terkait Mengaitkan materi mapel dengan kegiatan di jam reguler
Wali kelas Menghubungi orang tua, membantu murid yang tertinggal
Guru BK Mendampingi dinamika kelompok dan murid yang kesulitan bekerja sama

Format rencana kegiatan

Satu rencana cukup dua halaman. Isi minimal:

  1. Identitas: nama kegiatan, kelas, durasi, pola jadwal.
  2. Dimensi profil lulusan yang dituju, maksimal tiga.
  3. Pertanyaan pemantik dan konteks nyata.
  4. Tahapan mingguan dengan target yang terukur.
  5. Mapel dan guru yang terlibat.
  6. Bukti perkembangan yang dikumpulkan: catatan observasi, jurnal refleksi, produk.
  7. Rubrik singkat per dimensi dengan tiga atau empat tingkat.
  8. Rencana gelar karya atau cara berbagi hasil.

Contoh tahapan mingguan kelas VIII

Minggu Target
1 Pemantik, pembentukan kelompok, mulai mencatat waktu layar
2 Menyelesaikan catatan, mengolah data kelas
3 Membaca sumber, berdiskusi dampak
4 Menyusun kesepakatan pribadi dan rancangan kampanye
5 Membuat infografis dan presentasi
6 Berbagi ke kelas lain, refleksi

Kesalahan umum di SMP

  • Kegiatan diulang persis dari tahun lalu tanpa mendengar minat murid.
  • Produk akhir diutamakan, catatan proses tidak ada.
  • Satu murid mengerjakan semuanya dalam kelompok tanpa terpantau.
  • Guru mapel tidak tahu materinya terkait dengan kegiatan.
  • Penilaian hanya dari presentasi akhir. Cara menilai yang lebih adil dibahas di "Penilaian Kokurikuler: Menyiapkan dan Menilai Projek".

Checklist koordinator

  • Pola jadwal disepakati dan masuk kalender akademik.
  • Peran guru tertulis dan dibagikan.
  • Tiap kegiatan punya rencana dan target mingguan.
  • Bukti perkembangan disimpan di tempat yang bisa diakses fasilitator.
  • Orang tua menerima informasi kegiatan dan perannya.
  • Gelar karya atau bentuk berbagi hasil sudah direncanakan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah kokurikuler SMP harus selalu lintas mata pelajaran?

Tidak harus. Permendikdasmen 13/2025 menyebut pembelajaran kolaboratif lintas disiplin, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, atau cara lain. Lintas mapel adalah pilihan yang paling umum, bukan satu-satunya.

Siapa yang sebaiknya menjadi koordinator?

Biasanya wakasek kurikulum atau guru yang ditunjuk Kepala Sekolah. Yang penting ia punya waktu dan wewenang untuk mengatur jadwal.

Bagaimana bila murid tidak aktif dalam kelompok?

Gunakan pembagian peran yang jelas, jurnal individu, dan penilaian antarteman. Guru BK bisa membantu bila masalahnya menyangkut dinamika sosial.

Apakah kokurikuler SMP dinilai dengan angka?

Umumnya dalam bentuk deskripsi perkembangan dimensi profil lulusan. Ikuti ketentuan rapor yang berlaku dan panduan terbaru dari kementerian.

Berapa lama satu kegiatan idealnya?

Untuk pola reguler, 5–8 minggu sering cukup. Untuk pola blok, 1–2 minggu. Sesuaikan dengan kalender sekolah.

ASIS: Koordinasi Kokurikuler dalam Satu Tempat

Kokurikuler SMP melibatkan banyak guru, banyak rombel, dan banyak bukti. Masalahnya muncul ketika rencana ada di satu grup, foto di HP masing-masing fasilitator, dan catatan perkembangan baru dicari saat rapor.

ASIS membantu sekolah menyatukan itu. Perangkat ajar Kurikulum Merdeka bisa disusun dan dibagikan antarguru, jurnal mengajar mencatat kegiatan tiap sesi, catatan perkembangan masuk ke profil murid, dan portofolio menyimpan produk serta foto proses. Pengumuman gelar karya bisa dikirim ke orang tua lewat aplikasi atau WhatsApp. Ketika rapor disusun, wali kelas membaca jejak yang sudah ada, bukan mengumpulkan dari awal.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah, aplikasi gratis dari ekosistem ASIS, tersedia untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.