Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Penjelasan level kognitif soal L1 pengetahuan, L2 aplikasi, L3 penalaran: ciri, contoh per mapel, kaitan dengan Bloom, dan cara menyusun kisi-kisi.
Level kognitif soal adalah pengelompokan butir soal berdasarkan proses berpikir yang dituntut dari murid. Dalam kisi-kisi asesmen di Indonesia, pengelompokan yang lazim dipakai ada tiga: Level 1 pengetahuan dan pemahaman, Level 2 aplikasi, dan Level 3 penalaran. Singkatnya, L1 meminta murid mengingat atau menjelaskan, L2 meminta murid memakai konsep untuk menyelesaikan masalah yang sudah dikenal, dan L3 meminta murid menganalisis, menilai, atau menyimpulkan dalam situasi baru. Artikel ini menjelaskan ciri tiap level, contoh soal di beberapa mapel, kaitannya dengan taksonomi Bloom, dan cara menyusun kisi-kisi yang seimbang.
Tanpa pemetaan level, guru cenderung menulis soal yang paling mudah dibuat: soal hafalan. Akibatnya, nilai ulangan tinggi tetapi murid kesulitan ketika menghadapi soal cerita atau asesmen yang menuntut penalaran. Sebaliknya, ulangan yang hampir semuanya L3 membuat murid yang sedang membangun dasar merasa gagal.
Dengan memetakan level kognitif soal di kisi-kisi, guru bisa:
Murid menunjukkan bahwa ia tahu dan mengerti fakta, konsep, atau prosedur. Jawabannya biasanya bisa ditemukan langsung di materi yang sudah diajarkan.
Kata kerja yang sering dipakai: menyebutkan, mengidentifikasi, menjelaskan, membedakan, mengklasifikasikan.
Murid memakai pengetahuan untuk menyelesaikan masalah yang konteksnya rutin atau mirip latihan di kelas. Ada langkah pengerjaan, tetapi jalannya sudah dikenal.
Kata kerja yang sering dipakai: menghitung, menerapkan, menggunakan, mendemonstrasikan, menentukan.
Murid menghadapi situasi baru atau tidak rutin. Ia harus menganalisis informasi, menghubungkan beberapa konsep, menilai, membuat keputusan, atau menyimpulkan dengan alasan.
Kata kerja yang sering dipakai: menganalisis, membandingkan, mengevaluasi, memprediksi, merancang, menyimpulkan.
Banyak guru sudah akrab dengan taksonomi Bloom revisi (C1–C6). Pemetaan berikut sering dipakai sebagai patokan praktis, bukan aturan kaku.
| Level kognitif soal | Padanan Bloom | Pertanyaan kunci |
|---|---|---|
| L1 Pengetahuan dan pemahaman | C1 mengingat, C2 memahami | Apakah murid tahu dan mengerti? |
| L2 Aplikasi | C3 menerapkan | Bisakah murid memakainya di situasi yang dikenal? |
| L3 Penalaran | C4 menganalisis, C5 mengevaluasi, C6 mencipta | Bisakah murid berpikir di situasi baru? |
Perlu diingat, kata kerja saja tidak menentukan level. Soal "Analisislah..." yang jawabannya tinggal menyalin dari buku tetap L1. Yang menentukan adalah proses berpikir yang benar-benar dibutuhkan.
Tidak ada satu proporsi yang wajib untuk semua asesmen di kelas. Proporsi bergantung pada tujuan: ulangan harian awal bab mungkin lebih banyak L1, sedangkan asesmen sumatif akhir semester perlu lebih banyak L2 dan L3. Berikut contoh pembagian yang bisa disesuaikan.
| Jenis asesmen | L1 | L2 | L3 |
|---|---|---|---|
| Kuis awal bab | 60% | 30% | 10% |
| Asesmen sumatif lingkup materi | 30% | 40% | 30% |
| Asesmen akhir semester | 25% | 45% | 30% |
Angka di atas hanya contoh. Untuk ujian yang diatur dinas atau kementerian, ikuti kisi-kisi resmi yang diterbitkan.
| No | Tujuan pembelajaran | Materi | Indikator soal | Level | Bentuk | No soal |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Murid dapat menyelesaikan masalah perbandingan senilai | Perbandingan | Disajikan harga beberapa barang, murid menentukan harga sejumlah barang lain | L2 | PG | 4 |
| 2 | Murid dapat membandingkan dua penawaran harga | Perbandingan | Disajikan dua penawaran, murid memilih yang lebih hemat dengan alasan | L3 | Uraian | 12 |
Menyamakan sulit dengan L3. Soal hitungan panjang dengan angka rumit tetap L2 bila langkahnya rutin. Sulit tidak sama dengan menalar.
Menyamakan soal cerita dengan L3. Soal cerita yang polanya sama persis dengan contoh di buku termasuk L2.
Stimulus tidak dipakai. Soal L3 yang diberi bacaan panjang tetapi bisa dijawab tanpa membacanya sebenarnya L1.
Pengecoh asal-asalan. Pada pilihan ganda L2 dan L3, pengecoh sebaiknya berasal dari kesalahan berpikir yang umum, agar hasilnya bisa dianalisis.
Tidak ditelaah sejawat. Penentuan level sering bias. Minta rekan satu mapel menebak level soal tanpa melihat kisi-kisi, lalu bandingkan.
Tidak persis. Soal HOTS umumnya berada di L3 penalaran, tetapi tidak semua soal L3 otomatis disebut HOTS. Istilah HOTS menekankan berpikir tingkat tinggi dalam konteks baru.
Perlu, dalam bentuk sederhana dan konteks dekat, misalnya memilih cara terbaik membagi kue kepada teman dan memberi alasan. Porsinya disesuaikan dengan perkembangan murid.
Tanyakan: apakah murid pernah mengerjakan soal yang polanya sama? Jika ya, kemungkinan L1 atau L2. Jika murid harus menyusun cara sendiri, kemungkinan L3.
Sebaiknya tidak. AI bisa membantu membuat draf, tetapi guru tetap perlu meninjau kebenaran isi, kesesuaian level, dan bahasa sebelum soal dipakai.
Tidak ada angka baku untuk asesmen kelas. Mulailah dengan sebagian kecil soal L3, lalu tingkatkan seiring murid terbiasa.
Masalah yang sering dihadapi guru bukan tidak paham level kognitif soal, melainkan soal yang tercecer di banyak berkas tanpa label. Setiap semester guru mengetik ulang soal lama, menebak lagi levelnya, dan menyusun kisi-kisi dari nol.
ASIS memegang prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Di bank soal ASIS, guru menyimpan butir soal beserta materi dan levelnya, sehingga kisi-kisi berikutnya tinggal memilih. Bantuan AI dapat membuat draf soal, dan setiap draf wajib ditinjau guru sebelum dipakai. Untuk ujian kertas, ASIS bisa mencetak lembar jawaban ber-QR, dan nilainya bisa mengalir ke e-Rapor Kurikulum Merdeka. Untuk latihan interaktif, guru dapat memanfaatkan aktivitas dan lab di Studio ASIS.
ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Mulai susun bank soal yang rapi di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.