WAWASAN ASIS

Membuat Soal HOTS: Cara Menyusun beserta Contohnya

Panduan membuat soal HOTS langkah demi langkah: memilih stimulus, merumuskan pertanyaan analisis hingga mencipta, dan contoh untuk berbagai mapel.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Kurikulum & Pembelajaran

Membuat soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) berarti menyusun soal yang menuntut murid menganalisis, mengevaluasi, atau mencipta, bukan sekadar mengingat dan memahami. Kuncinya ada pada dua hal: stimulus yang kontekstual dan pertanyaan yang memaksa murid bernalar dengan informasi dari stimulus itu. Soal HOTS tidak harus sulit atau panjang. Soal pendek pun bisa HOTS bila jawabannya tidak bisa ditemukan hanya dengan hafalan.

Berikut langkah praktis, contoh dari beberapa mata pelajaran, dan cara memeriksa apakah soal Bapak/Ibu benar-benar HOTS.

Memahami tingkat berpikir

Taksonomi Bloom yang direvisi oleh Anderson dan Krathwohl membagi proses kognitif menjadi enam tingkat:

Kode Tingkat Kata kerja contoh Termasuk HOTS?
C1 Mengingat menyebutkan, mendefinisikan Tidak
C2 Memahami menjelaskan, merangkum Tidak
C3 Menerapkan menghitung, menggunakan Sebagian menganggap batas
C4 Menganalisis membandingkan, menemukan pola, menguraikan sebab Ya
C5 Mengevaluasi menilai, memilih dengan alasan, mengkritik Ya
C6 Mencipta merancang, menyusun solusi baru Ya

Kata kerja hanya petunjuk. Soal yang memakai kata "analisislah" tetapi jawabannya ada persis di buku tetap bukan HOTS.

Ciri soal HOTS yang baik

  • Ada stimulus: teks, tabel, grafik, gambar, kasus, atau data yang perlu diolah.
  • Kontekstual: dekat dengan kehidupan murid atau isu nyata.
  • Menuntut transfer: murid memakai konsep di situasi baru.
  • Tidak bisa dijawab dari ingatan saja: informasi dari stimulus wajib dipakai.
  • Bahasa jelas: tingkat kesulitan berasal dari penalaran, bukan dari kalimat yang membingungkan.

Enam langkah membuat soal HOTS

1. Pilih tujuan pembelajaran yang tepat

Tidak semua tujuan pembelajaran cocok untuk HOTS. Pilih TP yang memang menuntut analisis atau evaluasi, misalnya "menganalisis faktor penyebab perubahan harga" atau "mengevaluasi argumen dalam teks".

2. Tentukan tingkat kognitif

Tetapkan dari awal: soal ini untuk C4, C5, atau C6. Ini membantu memilih bentuk pertanyaan.

3. Cari stimulus yang hidup

Sumber stimulus yang mudah didapat: berita lokal, data dari kantor desa atau sekolah, tabel harga di pasar, denah lingkungan, potongan cerita rakyat, hasil percobaan sederhana. Pastikan data yang dipakai benar atau jelas dinyatakan sebagai data rekaan untuk keperluan soal.

4. Rumuskan pertanyaan yang memaksa bernalar

Pola pertanyaan yang sering efektif:

  • "Berdasarkan data, apa kesimpulan yang paling tepat? Mengapa?"
  • "Manakah keputusan terbaik bagi ... dan apa alasannya?"
  • "Apa yang akan terjadi jika ... diubah?"
  • "Temukan kesalahan dalam langkah berikut dan perbaiki."
  • "Rancang ... yang memenuhi syarat berikut."

5. Susun pilihan jawaban atau pedoman penskoran

Untuk pilihan ganda, pengecoh harus masuk akal dan mencerminkan kesalahan berpikir yang umum. Untuk uraian, siapkan pedoman penskoran yang menjelaskan apa yang dinilai: ketepatan kesimpulan, kekuatan alasan, dan pemakaian data.

6. Telaah bersama rekan

Minta rekan guru mengerjakan soal tanpa melihat kunci. Bila rekan bisa menjawab tanpa membaca stimulus, soal belum HOTS.

Contoh soal HOTS per mata pelajaran

Matematika (SMP, C4)

Stimulus: Toko A menjual paket 3 buku tulis Rp13.500. Toko B memberi diskon 20% dari harga Rp5.000 per buku untuk pembelian minimal 5 buku.

Pertanyaan: Rani butuh 6 buku. Toko mana yang lebih hemat, dan berapa selisihnya? Tunjukkan perhitunganmu.

Mengapa HOTS: murid harus membandingkan dua skema harga, bukan sekadar menghitung satu rumus.

IPA (SMP, C5)

Stimulus: Dua kelompok murid menanam kacang hijau. Kelompok 1 menyiram setiap pagi dan menaruh pot di dekat jendela. Kelompok 2 menyiram setiap pagi dan menaruh pot di lemari tertutup. Setelah lima hari, tanaman kelompok 2 lebih tinggi tetapi pucat.

Pertanyaan: Seorang murid menyimpulkan "tanaman tumbuh lebih baik di tempat gelap." Apakah kesimpulan itu tepat? Berikan alasan berdasarkan data.

Bahasa Indonesia (SMA, C5)

Stimulus: Dua paragraf opini tentang larangan ponsel di sekolah, masing-masing dengan argumen berbeda.

Pertanyaan: Paragraf mana yang argumennya lebih kuat? Jelaskan dengan menunjukkan bukti dan logika yang dipakai masing-masing penulis.

IPS (SMA, C4)

Stimulus: Tabel jumlah pengunjung pasar tradisional di sebuah kecamatan selama lima tahun, yang menurun setelah sebuah pusat belanja dibuka.

Pertanyaan: Selain pembukaan pusat belanja, sebutkan dua faktor lain yang mungkin menjelaskan penurunan tersebut, dan data tambahan apa yang diperlukan untuk memastikannya.

Pendidikan Agama (MA, C6)

Stimulus: Kasus sampah plastik yang menumpuk setelah kegiatan pengajian akbar di desa.

Pertanyaan: Rancang tiga langkah program kebersihan untuk kegiatan berikutnya yang selaras dengan nilai menjaga kebersihan dalam ajaran agama, beserta cara mengukur keberhasilannya.

Daftar periksa soal HOTS

  1. Apakah stimulus benar-benar diperlukan untuk menjawab?
  2. Apakah konteksnya dikenal murid di sekolah Bapak/Ibu?
  3. Apakah tingkat kognitifnya sesuai rencana?
  4. Apakah hanya ada satu jawaban terbaik (untuk pilihan ganda)?
  5. Apakah bahasanya sesuai jenjang?
  6. Apakah ada pedoman penskoran untuk uraian?

Kesalahan umum

  • Menyamakan HOTS dengan soal sulit. Soal hitungan panjang tetap bisa C3.
  • Stimulus hanya hiasan. Soal bisa dijawab tanpa membaca teksnya.
  • Konteks terlalu jauh dari pengalaman murid.
  • Kalimat berbelit sehingga yang diuji justru kemampuan membaca soal.
  • Semua soal dibuat HOTS. Asesmen tetap butuh campuran tingkat kognitif.

Variasi per jenjang

  • SD kelas rendah: stimulus gambar sederhana, pertanyaan "mengapa" dan "mana yang lebih baik".
  • SD kelas tinggi: tabel sederhana dan cerita pendek.
  • SMP: data dan percobaan sederhana.
  • SMA/SMK: kasus nyata, data majemuk, dan konteks dunia kerja untuk SMK.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah soal pilihan ganda bisa HOTS?

Bisa, asalkan murid harus mengolah stimulus dan pengecohnya mencerminkan kesalahan berpikir yang masuk akal.

Berapa proporsi soal HOTS dalam satu ujian?

Tidak ada angka baku. Sesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan kesiapan murid, dan tetap campur dengan soal tingkat lain.

Bagaimana cara cepat membuat soal HOTS?

Kumpulkan stimulus lebih dulu, misalnya data, kasus, atau gambar dari lingkungan sekitar, lalu rumuskan pertanyaan analisis atau evaluasi dari stimulus itu.

Apakah AI bisa membantu membuat soal HOTS?

AI bisa membantu membuat draf, tetapi guru wajib memeriksa kebenaran stimulus, kesesuaian tingkat kognitif, dan kuncinya.

Bagaimana menilai jawaban uraian HOTS?

Gunakan pedoman penskoran yang menilai ketepatan kesimpulan, kekuatan alasan, dan pemakaian data dari stimulus.

ASIS: Soal Bernalar yang Tersimpan dan Terus Membaik

Akar masalah dalam membuat soal HOTS bukan kurangnya kemauan guru, melainkan waktu. Mencari stimulus, merumuskan pertanyaan, dan menelaah bersama rekan memakan jam kerja, lalu soal yang sudah bagus sering hilang di laptop pribadi dan dibuat ulang tahun depan.

ASIS menyediakan bank soal dengan bantuan AI untuk mempercepat penyusunan draf berdasarkan tujuan pembelajaran dan tingkat kognitif yang guru tentukan. Setiap draf wajib ditinjau guru sebelum disimpan, sehingga keputusan mutu tetap di tangan Bapak/Ibu. Soal yang sudah ditelaah tersimpan di bank soal sekolah, bisa dicetak bersama lembar jawaban ber-QR, dan dipakai ulang tahun berikutnya. Untuk latihan bernalar di kelas, Studio menyediakan 9 jenis aktivitas dan 57 lab interaktif.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.