WAWASAN ASIS

Penilaian Diri dan Antarteman: Contoh Lembar Siap Pakai

Contoh lembar penilaian diri dan antarteman untuk SD, SMP, dan SMA, lengkap dengan cara memakai, contoh kalimat umpan balik, dan cara mengolah hasilnya.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Kurikulum & Pembelajaran

Penilaian diri dan antarteman adalah bentuk asesmen formatif di mana murid menilai hasil kerja atau proses belajarnya sendiri, lalu menilai karya temannya, berdasarkan kriteria yang sudah dijelaskan guru. Tujuannya bukan untuk menghasilkan angka rapor, tetapi melatih murid mengenali kualitas kerja, memantau kemajuan sendiri, dan memberi umpan balik yang membangun.

Di bawah ini Bapak/Ibu akan menemukan contoh lembar siap pakai untuk SD, SMP, dan SMA/SMK, contoh kalimat umpan balik, serta cara mengolah hasilnya agar benar-benar berguna untuk pembelajaran berikutnya.

Prinsip sebelum memakai lembar penilaian

  1. Kriteria dijelaskan di awal. Murid harus tahu seperti apa hasil kerja yang baik sebelum mulai bekerja, bukan setelahnya.
  2. Bahasa sesuai usia. Murid SD kelas rendah cukup memakai gambar wajah atau bintang. Murid SMA bisa memakai rubrik bertingkat.
  3. Wajib ada alasan. Nilai tanpa alasan tidak melatih apa-apa. Minta murid menyebut bukti dari hasil kerjanya.
  4. Bukan untuk nilai rapor. Hasilnya dipakai guru untuk memahami murid dan menyesuaikan pembelajaran.
  5. Latih dulu. Sebelum dipakai sungguhan, latih murid menilai contoh karya anonim bersama-sama.

Contoh 1: Penilaian diri SD kelas rendah (fase A)

Kegiatan: Menulis kalimat tentang hewan peliharaan.

Pernyataan Belum Sedikit Sudah
Aku menulis huruf dengan rapi
Aku memakai huruf kapital di awal kalimat
Aku memberi titik di akhir kalimat
Kalimatku bisa dibaca teman

Yang paling aku sukai dari tulisanku: ...........................

Untuk kelas 1, guru bisa membacakan pernyataan satu per satu dan murid cukup mewarnai kolom.

Contoh 2: Penilaian antarteman SD kelas tinggi (fase B–C)

Kegiatan: Presentasi hasil pengamatan tumbuhan.

Nama teman yang dinilai: ...........................

Kriteria Bintang (1–3) Alasanku
Suara jelas dan bisa didengar seluruh kelas
Menjelaskan hasil pengamatan dengan urut
Menunjukkan gambar atau data
Menjawab pertanyaan teman

Satu hal yang sudah bagus: ...........................

Satu saran untuk temanku: ...........................

Contoh 3: Penilaian diri SMP (fase D)

Kegiatan: Proyek kelompok membuat poster kampanye hemat air.

Aspek 4 Sangat baik 3 Baik 2 Cukup 1 Perlu usaha
Kontribusi ide Ideku banyak dipakai kelompok Aku memberi beberapa ide Aku memberi sedikit ide Aku belum memberi ide
Tanggung jawab tugas Tugasku selesai tepat waktu dan rapi Selesai tepat waktu Selesai tetapi terlambat Belum selesai
Kerja sama Aku membantu teman yang kesulitan Aku bekerja sama dengan baik Aku kadang sulit diajak kerja sama Aku lebih banyak bekerja sendiri
Pemahaman materi Aku bisa menjelaskan isi poster ke orang lain Aku paham sebagian besar Aku paham sebagian Aku belum paham

Refleksi:

  • Bagian proyek yang paling aku kuasai: ...........................
  • Hal yang ingin aku perbaiki di proyek berikutnya: ...........................

Contoh 4: Penilaian antarteman SMA/SMK (fase E–F)

Kegiatan: Esai argumentasi atau laporan praktik.

Kriteria Skor (1–4) Bukti dari karya teman
Tesis atau tujuan dinyatakan dengan jelas
Argumen didukung data atau sumber yang kredibel
Alur antarparagraf runtut
Kesimpulan menjawab tesis
Bahasa baku dan ejaan tepat

Umpan balik model "dua bintang satu harapan":

  • Bintang 1: ...........................
  • Bintang 2: ...........................
  • Harapan: ...........................

Untuk SMK, kriteria bisa diganti dengan aspek kerja praktik, misalnya keselamatan kerja, ketepatan prosedur, dan kerapian hasil.

Contoh kalimat umpan balik yang membangun

Murid sering kesulitan menulis umpan balik. Berikan bank kalimat pembuka:

Untuk memuji Untuk memberi saran
"Bagian ... sudah jelas karena ..." "Mungkin bisa ditambahkan ..."
"Aku suka cara kamu ..." "Bagaimana jika bagian ... dibuat ..."
"Datamu meyakinkan karena ..." "Aku masih bingung di bagian ..."

Larang komentar yang menyerang pribadi, seperti "jelek" atau "malas". Fokuskan pada hasil kerja.

Cara mengolah hasil penilaian diri dan antarteman

Bandingkan dengan pengamatan guru

Jika penilaian diri murid jauh lebih tinggi atau lebih rendah daripada pengamatan guru, itu informasi penting. Murid yang menilai dirinya terlalu rendah mungkin butuh dukungan rasa percaya diri. Murid yang menilai terlalu tinggi mungkin belum memahami kriteria.

Cari pola di kelas

Jika banyak murid menilai dirinya rendah pada kriteria yang sama, berarti bagian itu perlu diajarkan ulang.

Tindak lanjuti dengan murid

Kembalikan lembar kepada murid dan minta mereka menuliskan satu target untuk tugas berikutnya. Tanpa tindak lanjut, penilaian hanya menjadi formalitas.

Kesalahan umum

Memakai hasil antarteman sebagai nilai rapor. Murid akan saling memberi nilai tinggi atau justru menjatuhkan teman.

Kriteria terlalu banyak. Tiga sampai lima kriteria sudah cukup.

Tidak menjaga suasana aman. Jika murid takut dinilai teman, mereka tidak akan jujur. Bangun kesepakatan kelas terlebih dahulu.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah penilaian diri dan antarteman wajib di Kurikulum Merdeka?

Tidak ada bentuk asesmen tunggal yang diwajibkan. Penilaian diri dan antarteman adalah salah satu teknik asesmen formatif yang bisa dipilih guru sesuai tujuan pembelajaran.

Sejak kelas berapa murid bisa menilai diri?

Sejak kelas 1 SD, dengan bentuk yang sangat sederhana seperti gambar wajah dan pernyataan yang dibacakan guru.

Bagaimana jika murid hanya memberi nilai tinggi pada teman dekat?

Wajibkan alasan dan bukti untuk setiap skor, rotasi pasangan penilai, dan jelaskan bahwa hasilnya bukan untuk nilai rapor.

Berapa sering sebaiknya dilakukan?

Cukup pada tugas atau proyek penting, misalnya sekali atau dua kali per bab, agar murid tidak jenuh.

Apakah hasilnya perlu disimpan?

Sebaiknya disimpan sebagai catatan perkembangan murid, agar guru dan murid bisa melihat kemajuan dari waktu ke waktu.

ASIS: Catatan Perkembangan yang Tidak Hilang di Laci

Akar masalah asesmen formatif adalah catatan yang tercecer. Lembar penilaian diri dan antarteman dikumpulkan, dibaca sekali, lalu tersimpan di map tanpa pernah dibuka lagi. Padahal catatan itulah yang paling jujur menggambarkan perkembangan murid.

ASIS menyediakan profil murid yang utuh, tempat catatan perkembangan dari berbagai kegiatan dikumpulkan dalam satu tempat. Guru juga bisa memakai perangkat ajar Kurikulum Merdeka dan e-Rapor Kurikulum Merdeka di akun yang sama, sehingga catatan formatif bisa menjadi bahan deskripsi rapor tanpa harus dicari ulang.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.