Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Contoh projek berekayasa dan berteknologi membuat penyaring air sederhana: alur 6 pekan, alat bahan, lembar uji, rubrik, dan penyesuaian kokurikuler.
Projek berekayasa dan berteknologi membuat penyaring air sederhana adalah contoh projek yang murah, aman, dan kaya pembelajaran: murid mengenali masalah air keruh di lingkungannya, merancang penyaring dari botol bekas, kerikil, pasir, dan arang, lalu menguji dan memperbaiki rancangannya. Tema ini dulu populer di Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Sejak Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, P5 diganti dengan kegiatan kokurikuler, salah satunya pembelajaran kolaboratif lintas disiplin. Projek ini tetap sangat cocok, tinggal dibingkai ulang. Di bawah ini contoh alur enam pekan yang siap diadaptasi untuk SD kelas atas sampai SMP.
Permendikdasmen 13/2025 menggeser P5 menjadi kegiatan kokurikuler yang dapat berupa pembelajaran kolaboratif lintas disiplin, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, atau cara lain. Arah capaiannya kini merujuk pada delapan dimensi profil lulusan. Penjelasan lengkap perubahan ini ada di artikel apakah P5 masih ada.
Artinya, sekolah tidak wajib memakai nama tema lama. Namun semangat rekayasa dan teknologi tetap relevan, dan projek berekayasa dan berteknologi bisa dijalankan sebagai kokurikuler lintas mapel IPA/IPAS, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Seni Budaya. Cara merancang kolaborasinya dibahas di kokurikuler lintas mata pelajaran.
| Komponen | Isi |
|---|---|
| Judul | Air Jernih dari Botol Bekas |
| Jenjang | SD kelas 5–6 atau SMP kelas 7–8 |
| Durasi | 6 pekan, 2–3 jam pelajaran per pekan |
| Bentuk | Kokurikuler lintas disiplin, kelompok 4–5 murid |
| Mapel terkait | IPA/IPAS, Matematika, Bahasa Indonesia, Seni Budaya |
| Dimensi profil lulusan yang ditekankan | Penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi |
| Produk | Prototipe penyaring, lembar data uji, poster atau presentasi |
Setelah projek, murid diharapkan dapat:
Ajak murid mengamati sumber air di sekitar sekolah atau rumah. Diskusikan: kapan air menjadi keruh, apa dampaknya, dan bagaimana warga mengatasinya. Murid menulis rumusan masalah sederhana, misalnya "Bagaimana membuat air keruh menjadi lebih jernih dengan bahan di sekitar kita?".
Murid mencari informasi tentang fungsi tiap bahan: kerikil menahan kotoran besar, pasir menahan partikel lebih kecil, arang membantu mengurangi bau dan warna, kapas menahan sisa partikel. Kelompok menggambar rancangan lengkap dengan urutan dan ketebalan lapisan, lalu menuliskan alasannya.
Guru memotong bagian dasar botol. Botol dibalik dengan mulut di bawah. Contoh susunan dari bawah (dekat mulut botol) ke atas: kapas, arang, pasir halus, pasir kasar, kerikil kecil, kerikil sedang. Kelompok boleh mengubah susunan sesuai rancangan mereka.
Setiap kelompok menuang air keruh dengan volume yang sama, misalnya 500 ml, lalu mencatat hasilnya.
Lembar data uji
| Percobaan | Susunan lapisan | Waktu menetes habis (menit) | Kejernihan (skala 1–5) | Bau (ada/tidak) | Catatan |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Rancangan awal | ||||
| 2 | Arang ditebalkan | ||||
| 3 | Tanpa kerikil |
Untuk kejernihan, kelompok bisa membuat skala bersama: letakkan kertas bertulisan di belakang gelas, lalu nilai seberapa terbaca tulisannya. Murid SMP bisa menghitung persentase perubahan waktu penyaringan.
Berdasarkan data, kelompok mengubah satu hal, menguji ulang, dan membandingkan. Di sinilah inti projek berekayasa dan berteknologi: rancangan pertama jarang langsung terbaik. Dorong murid menulis refleksi singkat tentang apa yang berubah dan mengapa.
Kelompok memamerkan prototipe, data, dan poster di depan kelas lain atau orang tua. Setiap kelompok menjelaskan masalah, rancangan, data, perbaikan, dan batas penyaring mereka.
Air hasil penyaringan sederhana tidak aman untuk diminum. Penyaring ini hanya mengurangi kekeruhan dan bau, tidak membunuh kuman. Sampaikan ini berulang, tuliskan di poster, dan pastikan tidak ada murid yang mencicipi hasil saringan. Ini sekaligus menjadi pelajaran penting: teknologi punya batas, dan jujur tentang batas itu adalah bagian dari sikap ilmiah.
Guru juga yang mengambil sampel air dari selokan atau sungai, bukan murid. Gunakan sarung tangan dan cuci tangan setelah praktik.
| Aspek | Mulai berkembang | Berkembang | Cakap | Mahir |
|---|---|---|---|---|
| Rancangan | Gambar tanpa alasan | Ada alasan sebagian | Alasan setiap lapisan jelas | Alasan didukung sumber dan dibandingkan |
| Uji adil | Variabel berubah banyak | Sebagian variabel dijaga | Satu variabel diubah | Mengulang uji untuk memastikan |
| Data dan perbaikan | Data tidak lengkap | Data lengkap tanpa perbaikan | Perbaikan berdasarkan data | Perbaikan dan penjelasan sebab-akibat |
| Kolaborasi | Dikerjakan satu orang | Peran belum merata | Peran jelas dan dijalankan | Saling membantu dan menyelesaikan perbedaan |
| Komunikasi | Penjelasan belum runtut | Runtut tetapi kurang data | Runtut dengan data | Menjawab pertanyaan dan menyebut batas produk |
SD kelas 4–5. Fokus pada pengamatan dan perbandingan kualitatif. Guru menyiapkan susunan dasar, murid mengubah satu lapisan.
SD kelas 6. Tambahkan pengukuran waktu dan tabel data sederhana.
SMP. Murid merancang sendiri, menghitung volume dan laju aliran, serta membandingkan dengan informasi tentang pengolahan air bersih di daerahnya.
Minta setiap kelompok memotret tahap penting: rancangan, prototipe, uji, dan perbaikan. Dokumentasi ini memudahkan penilaian dan menjadi bahan refleksi. Tips merapikannya ada di artikel dokumentasi projek murid. Bila memungkinkan, undang petugas puskesmas atau PDAM setempat untuk berbagi cara pengolahan air yang aman.
Bisa. Setelah Permendikdasmen 13/2025, kegiatan semacam ini dijalankan sebagai kokurikuler, misalnya pembelajaran kolaboratif lintas disiplin, dengan arah capaian pada delapan dimensi profil lulusan.
Tidak. Penyaring sederhana hanya mengurangi kekeruhan dan bau, tidak menghilangkan kuman. Air minum harus dimasak atau diolah dengan cara yang aman.
Biasanya arang aktif. Arang kayu yang ditumbuk dan dicuci dapat menjadi pengganti untuk keperluan percobaan.
Gabungkan penilaian produk kelompok dengan pengamatan peran individu, jurnal refleksi, serta penilaian antarteman.
Sangat murah karena memakai botol bekas dan bahan alam. Sebagian besar sekolah cukup menyiapkan arang dan perlengkapan kebersihan.
Projek yang hebat sering berakhir dengan administrasi yang berat: foto tersebar di ponsel guru, rubrik ditulis di kertas, lalu nilai diketik ulang ke rapor. Guru akhirnya enggan membuat projek berikutnya karena beban pencatatannya.
ASIS membantu guru mencatat sekali dan memakai berkali-kali. Perangkat ajar Kurikulum Merdeka bisa disusun dan disimpan di satu tempat, catatan perkembangan masuk ke profil murid yang utuh, dan nilai mengalir ke e-Rapor Kurikulum Merdeka. Untuk memperkaya pembelajaran sains, guru juga bisa memakai Studio di studio.asis.id dengan 9 jenis aktivitas dan 57 lab interaktif, serta buku pelajaran pemerintah di pustaka.asis.id.
ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Mulai rancang kegiatan kokurikuler yang lebih rapi di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.