WAWASAN ASIS

Projek Murid Berkebutuhan Khusus: 6 Contoh Kegiatan

Enam contoh projek murid berkebutuhan khusus untuk SLB dan sekolah inklusi: tujuan, langkah, adaptasi per hambatan, dan cara menilai sebagai kokurikuler.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Panduan

Projek murid berkebutuhan khusus adalah kegiatan belajar berbasis karya yang dirancang dengan tujuan, langkah, dan peran yang disesuaikan dengan kemampuan serta hambatan setiap murid. Di SLB maupun sekolah inklusi, projek seperti berkebun, membuat jajanan sederhana, atau pameran karya bisa menjadi bagian kegiatan kokurikuler yang bermakna. Artikel ini memberi enam contoh kegiatan lengkap dengan langkah, adaptasi, dan cara menilainya.

Dari P5 ke kegiatan kokurikuler

Sejak Permendikdasmen 13/2025 berlaku pada 15 Juli 2025, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila digantikan oleh kegiatan kokurikuler. Bentuknya bisa berupa pembelajaran kolaboratif lintas disiplin, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, atau cara lain yang dipilih sekolah. Kegiatan berbasis projek tetap relevan, hanya kerangkanya kini mengacu pada kokurikuler dan delapan dimensi profil lulusan.

Bagi SLB, perubahan ini memberi ruang luas. Projek tidak harus besar, yang penting murid terlibat aktif dan mengalami kemajuan sesuai profilnya.

Prinsip merancang projek untuk murid berkebutuhan khusus

  1. Berangkat dari asesmen dan minat murid. Murid dengan autisme yang menyukai urutan bisa diberi peran menyusun langkah kerja bergambar.
  2. Pecah menjadi langkah kecil. Satu tugas besar dipecah menjadi tugas pendek dengan petunjuk visual.
  3. Beri peran sesuai kemampuan. Dalam satu kelompok, ada murid yang mengukur, menempel, menghitung, atau menyapa pengunjung.
  4. Gunakan media multisensori. Benda nyata, gambar, suara, dan gerak.
  5. Nilai proses dan kemajuan individual. Bandingkan murid dengan dirinya sendiri, bukan dengan teman.

Enam contoh kegiatan

1. Kebun mini sekolah

  • Tujuan: mengenal tanaman, melatih tanggung jawab dan motorik.
  • Langkah: menyiapkan pot dari botol bekas, mengisi tanah, menanam bibit kangkung atau cabai, menyiram terjadwal, mencatat pertumbuhan dengan foto atau gambar.
  • Adaptasi: murid dengan hambatan penglihatan meraba tekstur daun dan tanah; murid dengan hambatan intelektual memakai jadwal siram bergambar.

2. Warung kelas

  • Tujuan: berhitung uang, berkomunikasi, keterampilan hidup.
  • Langkah: membuat jajanan sederhana seperti es buah atau roti isi, membuat label harga, melayani pembeli dari kelas lain.
  • Adaptasi: murid dengan hambatan pendengaran memakai kartu menu bergambar dan bahasa isyarat; uang mainan untuk latihan awal sebelum uang sungguhan.

3. Buku cerita kelas

  • Tujuan: literasi, ekspresi diri.
  • Langkah: tiap murid membuat satu halaman tentang dirinya lewat gambar, foto, atau tulisan, lalu dijilid menjadi satu buku.
  • Adaptasi: murid dengan hambatan motorik menempel stiker atau mendikte cerita kepada guru; murid dengan hambatan penglihatan membuat halaman bertekstur.

4. Daur ulang menjadi karya

  • Tujuan: kepedulian lingkungan, kreativitas, motorik halus.
  • Langkah: mengumpulkan sampah plastik bersih, memilah, membuat celengan atau tempat pensil.
  • Adaptasi: gunting khusus atau bahan yang sudah dipotong untuk murid dengan hambatan motorik.

5. Pentas musik dan gerak

  • Tujuan: ekspresi seni, percaya diri, kerja sama.
  • Langkah: memilih lagu daerah, latihan alat musik sederhana seperti angklung atau rebana, tampil di depan orang tua.
  • Adaptasi: murid dengan hambatan pendengaran merasakan getaran alat musik dan mengikuti isyarat visual dari guru.

6. Kebiasaan pagi sehat

  • Tujuan: membentuk kebiasaan bangun pagi, sarapan, dan berolahraga sesuai Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
  • Langkah: jurnal bergambar harian yang diisi bersama orang tua selama empat pekan, senam pagi bersama, perayaan kecil di akhir pekan keempat.
  • Adaptasi: jurnal berupa stiker atau cap tangan bagi murid yang belum menulis.

Contoh pembagian peran dalam warung kelas

Murid (fiktif) Profil singkat Peran
Bima Hambatan intelektual ringan, suka bercakap Menyapa dan menawarkan menu
Sari Hambatan pendengaran, teliti Menghitung uang dengan kalkulator bergambar
Dafa Autisme, menyukai urutan Menyusun roti isi sesuai kartu langkah
Nisa Hambatan motorik Menempel label harga dan mencatat penjualan

Pembagian seperti ini membuat setiap murid merasa penting dalam kelompok.

Cara menilai projek

Gunakan rubrik sederhana yang menggambarkan kemajuan individual:

Aspek Perlu bantuan penuh Perlu bantuan sebagian Mandiri
Mengikuti langkah kerja
Berinteraksi dengan teman
Menyelesaikan bagian tugas
Menunjukkan sikap peduli

Lengkapi dengan catatan anekdot, foto proses, dan hasil karya. Bahan ini menjadi dasar deskripsi kegiatan kokurikuler di rapor dan bahan diskusi dengan orang tua.

Contoh jadwal projek tiga pekan

Pekan Kegiatan Catatan guru
1 Mengenalkan tema dengan benda nyata, memilih peran Amati minat dan kenyamanan tiap murid
2 Mengerjakan bagian projek dalam sesi pendek 20–30 menit Catat kemandirian dan bantuan yang diberikan
3 Menyelesaikan karya, gladi, pameran untuk orang tua Foto proses dan hasil, refleksi bersama

Jadwal ini bisa dipadatkan atau diperpanjang. Untuk murid dengan rentang perhatian sangat pendek, bagi sesi menjadi dua kali 15 menit dengan jeda gerak di antaranya. Kunci keberhasilan projek murid berkebutuhan khusus adalah ritme yang dapat diprediksi, sehingga murid merasa aman mengikuti setiap tahap.

Melibatkan orang tua

Orang tua murid berkebutuhan khusus sering menjadi pendamping utama di rumah. Undang mereka di awal projek untuk berbagi minat anak, libatkan dalam kegiatan rumah seperti jurnal kebiasaan, dan undang pada hari pameran. Projek murid berkebutuhan khusus yang dilihat langsung orang tua sering menjadi momen membanggakan bagi keluarga.

Kesalahan umum

  • Guru mengerjakan sebagian besar karya agar hasil terlihat rapi.
  • Semua murid diberi tugas yang sama tanpa adaptasi.
  • Penilaian membandingkan murid satu dengan yang lain.
  • Projek terlalu panjang sehingga murid kehilangan minat.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah SLB masih wajib melaksanakan P5?

Sejak berlakunya Permendikdasmen 13/2025, P5 digantikan oleh kegiatan kokurikuler. SLB dapat memilih bentuk kegiatan yang sesuai, termasuk kegiatan berbasis projek.

Berapa lama satu projek untuk murid berkebutuhan khusus?

Sesuaikan dengan rentang perhatian murid. Projek pendek 2–4 pekan dengan sesi singkat sering lebih efektif daripada projek panjang.

Bagaimana jika murid tidak mau ikut kegiatan kelompok?

Mulai dari peran individual di dekat kelompok, lalu tingkatkan interaksi secara bertahap. Hargai setiap kemajuan kecil.

Bagaimana menulis deskripsi kegiatan kokurikuler di rapor?

Gunakan catatan anekdot dan rubrik kemajuan. Tulis apa yang sudah bisa dilakukan murid dan apa yang perlu dikembangkan, dengan bahasa positif.

Apakah projek murid berkebutuhan khusus bisa digabung dengan murid reguler?

Bisa, terutama di sekolah inklusi. Pastikan peran murid berkebutuhan khusus bermakna, bukan sekadar pelengkap.

ASIS: Catatan Perkembangan Murid yang Utuh untuk Sekolah Inklusi

Guru SLB dan guru pendamping khusus biasanya mencatat kemajuan murid di banyak tempat: buku penghubung, lembar observasi, foto di ponsel pribadi, dan catatan rapat dengan orang tua. Saat harus menulis deskripsi rapor atau berganti guru, catatan itu sulit dirangkai.

ASIS menyediakan modul inklusi dan profil murid yang utuh, tempat catatan perkembangan dari berbagai kegiatan, termasuk projek dan layanan pendampingan, tersimpan dalam satu riwayat. Data itu kemudian bisa dipakai untuk e-Rapor Kurikulum Merdeka dan komunikasi dengan orang tua lewat notifikasi aplikasi atau surel. Prinsipnya sederhana: data dicatat sekali, dipakai berkali-kali.

ASIS gratis untuk semua sekolah, termasuk SLB, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.