WAWASAN ASIS

Rekomendasi Hasil Akreditasi untuk Peningkatan Mutu

Cara mengolah rekomendasi hasil akreditasi menjadi program peningkatan mutu: pilah prioritas, tetapkan indikator, masukkan ke RKAS, dan pantau.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Panduan

Rekomendasi hasil akreditasi adalah daftar catatan perbaikan dari asesor yang menunjukkan bagian mana dari layanan sekolah yang belum optimal. Cara memanfaatkannya: baca seluruh rekomendasi bersama tim, kelompokkan menurut tema, pilih tiga sampai lima prioritas, ubah setiap prioritas menjadi program dengan indikator dan penanggung jawab, lalu masukkan ke rencana kerja dan RKAS. Rekomendasi yang hanya disimpan dalam map tidak akan mengubah apa pun sampai visitasi berikutnya.

Panduan ini ditujukan untuk Kepala Sekolah yang ingin hasil akreditasi benar-benar menjadi bahan bakar perbaikan, bukan sekadar sertifikat di dinding.

Mengapa rekomendasi sering terabaikan

Setelah visitasi, energi sekolah biasanya terkuras. Begitu peringkat keluar, perhatian beralih ke rutinitas. Ada beberapa pola yang sering terjadi:

  • Rekomendasi hanya dibaca Kepala Sekolah dan operator, tidak sampai ke guru.
  • Bahasa rekomendasi terasa umum, misalnya "perlu peningkatan pembelajaran yang berpusat pada murid", sehingga sulit diterjemahkan menjadi tindakan.
  • Tidak ada anggaran yang disiapkan, karena RKAS sudah disusun sebelum hasil akreditasi keluar.
  • Tidak ada yang ditugasi memantau.

Akibatnya, catatan yang sama muncul lagi pada akreditasi berikutnya. Padahal sistem akreditasi saat ini menekankan perbaikan berkelanjutan, bukan sekadar pemenuhan dokumen.

Langkah 1: Baca rekomendasi bersama tim

Bentuk tim kecil berisi Kepala Sekolah, wakil bidang kurikulum, wakil bidang kemuridan, perwakilan guru, dan TU. Bila sekolah di bawah Yayasan, undang perwakilan Yayasan.

Bacakan setiap butir rekomendasi hasil akreditasi, lalu ajukan tiga pertanyaan:

  1. Apa bukti di lapangan yang membuat asesor menulis catatan ini?
  2. Apakah tim setuju dengan temuan tersebut?
  3. Siapa yang paling dekat dengan masalahnya?

Diskusi ini penting agar rekomendasi tidak dianggap "kesalahan Kepala Sekolah" atau "urusan operator". Mutu adalah kerja seluruh warga sekolah.

Langkah 2: Kelompokkan menurut tema

Rekomendasi biasanya tersebar. Kelompokkan ke dalam tema yang mudah dikelola, misalnya:

Tema Contoh rekomendasi Pemilik utama
Proses pembelajaran Variasi metode belum terlihat; asesmen formatif belum dimanfaatkan Wakil kurikulum, guru
Iklim sekolah Program pencegahan perundungan belum terdokumentasi Wakil kemuridan, guru BK
Kinerja pendidik Refleksi dan tindak lanjut supervisi belum berjalan Kepala Sekolah
Manajemen Perencanaan belum berbasis data Kepala Sekolah, TU, Bendahara
Kemitraan Keterlibatan orang tua masih terbatas pada rapat awal tahun Wali kelas, komite

Contoh di atas fiktif. Gunakan kalimat persis dari laporan sekolah Bapak/Ibu.

Langkah 3: Tetapkan prioritas

Tidak mungkin semua rekomendasi dikerjakan dalam satu tahun. Pilih tiga sampai lima prioritas dengan matriks sederhana: dampak terhadap murid dan kemudahan dilakukan.

Mudah dilakukan Sulit dilakukan
Dampak besar ke murid Kerjakan segera Rencanakan bertahap
Dampak kecil ke murid Kerjakan bila ada waktu Tunda

Prioritas utama adalah rekomendasi berdampak besar yang mudah dilakukan. Misalnya, membiasakan asesmen formatif sederhana di awal pelajaran tidak butuh biaya tetapi langsung terasa di kelas.

Cocokkan dengan Rapor Pendidikan

Sebelum menetapkan prioritas, bandingkan rekomendasi hasil akreditasi dengan Rapor Pendidikan sekolah. Bila keduanya menunjuk masalah yang sama, misalnya literasi atau iklim keamanan, prioritas itu makin kuat. Pendekatan perencanaan berbasis data membuat program sekolah tidak hanya didasarkan pada perasaan.

Langkah 4: Ubah prioritas menjadi program

Setiap prioritas ditulis sebagai program dengan unsur berikut: tujuan, kegiatan, indikator, penanggung jawab, waktu, dan anggaran.

Contoh terisi:

Unsur Isi
Rekomendasi Asesmen formatif belum dimanfaatkan untuk menyesuaikan pembelajaran
Tujuan Guru memakai hasil asesmen formatif untuk membentuk kelompok belajar
Kegiatan Lokakarya internal dua kali; komunitas belajar guru setiap dua minggu; supervisi kelas dengan fokus asesmen formatif
Indikator Minimal 80% guru menunjukkan contoh pengelompokan berdasarkan asesmen pada supervisi semester genap
Penanggung jawab Wakil kurikulum
Waktu Agustus–Mei
Anggaran Konsumsi lokakarya dan penggandaan bahan, masuk RKAS

Indikator harus bisa diamati. Hindari indikator seperti "guru makin paham". Gantilah dengan perilaku atau dokumen yang bisa diperiksa.

Langkah 5: Masukkan ke RKAS dan rencana kerja

Program yang tidak punya anggaran akan kalah oleh kebutuhan rutin. Bila RKAS tahun berjalan sudah ditetapkan, gunakan mekanisme perubahan sesuai ketentuan yang berlaku, atau siapkan untuk RKAS tahun berikutnya.

Program tanpa biaya pun tetap perlu masuk rencana kerja tahunan. Dengan begitu, program punya jadwal resmi dan tidak tergeser kegiatan lain.

Langkah 6: Pantau dan dokumentasikan

Tetapkan ritme pemantauan, misalnya setiap rapat bulanan. Setiap penanggung jawab menyampaikan tiga hal: apa yang sudah dilakukan, bukti apa yang ada, dan hambatan apa yang muncul.

Kumpulkan bukti sejak awal: daftar hadir lokakarya, foto kegiatan, contoh hasil kerja murid, catatan supervisi. Bukti yang dikumpulkan rutin jauh lebih meyakinkan daripada dokumen yang disusun mendadak menjelang visitasi berikutnya.

Kesalahan umum dalam menindaklanjuti akreditasi

Mengerjakan semua sekaligus. Tim kelelahan dan tidak ada yang tuntas.

Menyerahkan semuanya ke operator. Operator bisa merapikan dokumen, tetapi tidak bisa mengubah praktik mengajar.

Fokus pada dokumen, bukan praktik. Membuat SOP baru tanpa mengubah kebiasaan hanya menambah tumpukan kertas.

Tidak melibatkan guru. Guru yang tidak tahu isi rekomendasi tidak akan merasa memiliki programnya.

Lupa merayakan kemajuan. Sampaikan capaian kecil di rapat agar tim tetap bersemangat.

Contoh lini masa satu tahun

Bulan Kegiatan
Bulan 1 Rapat tim membaca rekomendasi, kelompokkan tema
Bulan 2 Tetapkan prioritas, susun program, sosialisasi ke guru
Bulan 3–10 Pelaksanaan program dan pemantauan bulanan
Bulan 6 Evaluasi tengah tahun, sesuaikan program
Bulan 11 Refleksi dan kumpulkan bukti
Bulan 12 Laporan ke Yayasan atau komite, rencana tahun berikutnya

Dengan siklus ini, rekomendasi hasil akreditasi berubah dari catatan yang ditakuti menjadi peta jalan perbaikan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Kapan sebaiknya rekomendasi hasil akreditasi ditindaklanjuti?

Secepatnya setelah hasil diterima, idealnya dalam satu sampai dua bulan. Makin lama ditunda, makin sulit mengingat konteks temuan asesor.

Apakah semua rekomendasi wajib dikerjakan?

Semua perlu ditanggapi, tetapi tidak harus selesai dalam satu tahun. Tetapkan prioritas dan susun rencana bertahap untuk sisanya.

Siapa yang bertanggung jawab atas tindak lanjut akreditasi?

Kepala Sekolah memimpin, tetapi setiap program perlu penanggung jawab yang jelas, misalnya wakil kurikulum atau koordinator BK.

Bagaimana jika sekolah tidak setuju dengan rekomendasi?

Diskusikan dengan bukti. Bila sekolah memiliki data yang berbeda, dokumentasikan. Namun sebaiknya tetap lakukan refleksi, karena pandangan dari luar sering menangkap hal yang tidak terlihat dari dalam.

Apakah tindak lanjut perlu dilaporkan?

Rujuk ketentuan terbaru dari BSANP (pengganti BAN-PDM sesuai Permendikdasmen Nomor 14 Tahun 2026) dan dinas atau kantor Kemenag setempat. Terlepas dari kewajiban, laporan internal ke Yayasan atau komite membantu menjaga akuntabilitas.

ASIS: Tindak Lanjut Akreditasi yang Terpantau Setiap Hari

Akar masalah tindak lanjut akreditasi jarang soal niat. Biasanya, data dan bukti tercecer di banyak tempat: catatan supervisi di buku Kepala Sekolah, presensi di lembar kertas, laporan BK di laptop guru, anggaran di berkas Bendahara. Saat dibutuhkan, semuanya harus dikumpulkan ulang.

ASIS memegang prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Dashboard Goal membantu sekolah menetapkan target per peran, sehingga program dari rekomendasi akreditasi bisa dipantau oleh penanggung jawabnya masing-masing. Presensi, layanan BK, keuangan termasuk RKAS dan SPJ, serta profil murid yang utuh tercatat dalam satu sistem, sehingga bukti kemajuan sudah tersedia tanpa disusun mendadak. Yayasan dan Pengawas dapat melihat ringkasannya melalui Ruang Yayasan/Pengawas sesuai perannya.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

Sumber: Permendikdasmen Nomor 14 Tahun 2026 (Komunitas Belajar)

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.