WAWASAN ASIS

RKAS Berbasis PBD: Cara Menyusun dari Rapor Pendidikan

Panduan menyusun RKAS berbasis PBD: membaca Rapor Pendidikan, menentukan akar masalah, memilih kegiatan benahi, dan menautkannya ke anggaran sekolah.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Wawasan

Menyusun RKAS berbasis PBD berarti setiap kegiatan dan rupiah dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah berangkat dari masalah nyata yang terbaca di data, terutama Rapor Pendidikan. Alurnya mengikuti siklus Perencanaan Berbasis Data: identifikasi indikator yang perlu diperbaiki, refleksi untuk menemukan akar masalah, lalu benahi dengan kegiatan yang dimasukkan ke anggaran.

Masalah yang sering terjadi, RKAS disusun dengan menyalin RKAS tahun lalu lalu menyesuaikan angka. PBD dikerjakan terpisah hanya sebagai syarat administrasi. Akibatnya, anggaran tidak menyentuh masalah utama sekolah. Panduan ini menunjukkan cara menghubungkan keduanya secara praktis.

Memahami tiga tahap PBD

Tahap Pertanyaan kunci Hasil
Identifikasi Indikator mana yang paling perlu diperbaiki? Daftar indikator prioritas
Refleksi Mengapa capaian indikator itu rendah? Akar masalah
Benahi Apa yang akan kita lakukan, siapa, kapan, dengan biaya berapa? Kegiatan dan anggaran

Banyak panduan menambahkan dua tahap lanjutan, yaitu memasukkan kegiatan ke RKAS lalu ke aplikasi ARKAS, serta pelaksanaan dan monitoring-evaluasi. Jadi siklus lengkapnya: identifikasi, refleksi, benahi, RKAS, lalu monev.

Kunci dari RKAS berbasis PBD ada pada tahap refleksi. Tanpa akar masalah yang tepat, kegiatan benahi hanya menjadi daftar program umum seperti "pelatihan guru" yang tidak jelas arahnya.

Langkah 1: Identifikasi indikator prioritas

Buka Rapor Pendidikan sekolah. Perhatikan indikator yang berwarna merah atau kuning, dan indikator yang turun dibanding tahun sebelumnya. Indikator yang biasanya dilihat antara lain kemampuan literasi, kemampuan numerasi, karakter, iklim keamanan, iklim kebinekaan, iklim inklusivitas, dan kualitas pembelajaran.

Jangan memilih terlalu banyak. Dua sampai tiga indikator prioritas sudah cukup untuk satu tahun anggaran. Pertimbangkan:

  • seberapa besar dampaknya terhadap murid,
  • seberapa jauh dari target,
  • apakah sekolah punya kendali untuk memperbaikinya.

Langkah 2: Refleksi untuk menemukan akar masalah

Ajak guru, tenaga kependidikan, dan bila memungkinkan perwakilan wali murid. Gunakan pertanyaan "mengapa" berulang. Contoh:

Indikator: Kemampuan numerasi rendah.

  • Mengapa? Banyak murid kesulitan soal cerita.
  • Mengapa? Murid tidak terbiasa membaca soal panjang dan menerjemahkannya ke operasi hitung.
  • Mengapa? Pembelajaran matematika didominasi latihan prosedur tanpa konteks.
  • Mengapa? Guru belum punya contoh dan bahan ajar kontekstual, serta tidak ada forum berbagi praktik.

Akar masalah yang ditemukan: guru belum memiliki bahan ajar kontekstual dan forum belajar bersama. Akar masalah ini bisa ditangani sekolah sendiri, sehingga cocok menjadi dasar kegiatan.

Lengkapi dengan data internal sekolah, misalnya hasil asesmen formatif, presensi, atau catatan supervisi. Rapor Pendidikan menunjukkan gejala, data internal membantu memastikan penyebabnya.

Langkah 3: Rancang kegiatan benahi

Kegiatan benahi yang baik bersifat spesifik dan bisa diukur. Dari contoh di atas:

Akar masalah Kegiatan benahi Indikator keberhasilan
Guru belum punya bahan ajar kontekstual Lokakarya internal penyusunan soal cerita kontekstual per fase Setiap guru matematika menghasilkan minimal 10 soal kontekstual
Tidak ada forum berbagi praktik Komunitas belajar guru dua minggu sekali 16 pertemuan dalam setahun, notula tersimpan
Murid jarang membaca soal panjang Program 15 menit literasi numerasi di awal pelajaran Dilaksanakan di semua kelas minimal 3 kali seminggu

Perhatikan bahwa tidak semua kegiatan membutuhkan biaya besar. Komunitas belajar internal bisa nyaris tanpa biaya, sedangkan lokakarya mungkin butuh konsumsi, narasumber, dan bahan cetak.

Langkah 4: Terjemahkan ke anggaran RKAS

Setiap kegiatan benahi diturunkan menjadi rincian belanja. Contoh untuk lokakarya soal kontekstual:

Uraian Volume Keterangan
Konsumsi peserta 12 orang x 2 hari Sesuai standar harga daerah
Honor narasumber 1 orang x 2 hari Bila narasumber dari luar sekolah
Penggandaan bahan 12 paket ATK dan fotokopi
Cetak soal hasil lokakarya 1 kali Untuk dipakai di kelas

Nominal mengikuti standar satuan harga daerah dan ketentuan juknis BOSP yang berlaku. Daftar kegiatan dan belanja ini kemudian diinput ke aplikasi ARKAS sesuai ketentuan. Pastikan setiap kegiatan benahi tercermin pada RKAS yang diinput, sehingga hubungan antara masalah dan belanja terlihat jelas.

Langkah 5: Pantau dan evaluasi

RKAS berbasis PBD tidak selesai saat anggaran disahkan. Tetapkan jadwal pemantauan:

  • Bulanan: apakah kegiatan berjalan sesuai jadwal dan anggaran terserap wajar?
  • Semesteran: apakah indikator internal, misalnya hasil asesmen formatif, mulai membaik?
  • Tahunan: bandingkan Rapor Pendidikan tahun berikutnya dengan kondisi awal.

Hasil evaluasi menjadi bahan identifikasi di siklus PBD berikutnya.

Contoh kedua: indikator iklim keamanan

Agar terlihat bahwa tidak semua RKAS berbasis PBD berujung pada pelatihan guru, berikut contoh dari indikator non-kognitif.

Indikator: Iklim keamanan sekolah rendah, terutama terkait perundungan.

Hasil refleksi: Murid tidak tahu harus melapor ke siapa, guru piket jarang berada di area rawan saat istirahat, dan belum ada kesepakatan kelas tentang perilaku yang diharapkan.

Kegiatan benahi Kebutuhan biaya Indikator keberhasilan
Menyusun dan menyosialisasikan alur pelaporan perundungan Rendah: cetak poster dan selebaran Alur terpasang di setiap kelas
Jadwal piket istirahat di titik rawan Hampir tanpa biaya Piket terisi setiap hari
Penyusunan kesepakatan kelas oleh wali kelas dan murid Tanpa biaya Semua rombel memiliki kesepakatan tertulis
Pelatihan guru BK dan wali kelas tentang penanganan kasus Sedang: narasumber dan konsumsi Seluruh wali kelas mengikuti pelatihan

Contoh ini menunjukkan bahwa anggaran yang tepat sasaran sering kali justru kecil, asalkan akar masalahnya tepat.

Kesalahan umum

Memilih semua indikator merah. Anggaran terpecah ke banyak kegiatan kecil tanpa dampak berarti.

Kegiatan tidak terkait akar masalah. Misalnya akar masalahnya iklim keamanan, tetapi kegiatannya pembelian proyektor.

Mengabaikan kegiatan tanpa biaya. Perubahan praktik mengajar sering tidak butuh uang, tetapi butuh waktu dan kesepakatan.

Tidak melibatkan guru. RKAS yang disusun hanya oleh Kepala Sekolah dan Bendahara cenderung tidak dijalankan sepenuh hati.

Menyalin RKAS tahun lalu. Kebutuhan rutin memang berulang, tetapi kegiatan perbaikan harus mengikuti data terbaru.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa itu RKAS berbasis PBD?

RKAS yang kegiatan dan anggarannya disusun dari hasil Perencanaan Berbasis Data, yaitu identifikasi, refleksi, dan benahi berdasarkan Rapor Pendidikan dan data sekolah.

Apakah semua belanja RKAS harus berasal dari PBD?

Belanja rutin seperti listrik, air, dan kebutuhan operasional tetap ada. PBD terutama mengarahkan kegiatan peningkatan mutu.

Berapa indikator prioritas yang ideal?

Dua sampai tiga indikator per tahun agar sumber daya terfokus dan hasilnya terlihat.

Siapa yang terlibat dalam penyusunan?

Kepala Sekolah, Bendahara, guru, tenaga kependidikan, dan komite sekolah. Pengawas dapat mendampingi proses refleksi.

Bagaimana jika Rapor Pendidikan belum menggambarkan kondisi terbaru?

Lengkapi dengan data internal sekolah, seperti asesmen formatif, presensi, dan hasil supervisi, untuk memastikan akar masalah masih relevan.

ASIS: Dari Data Sekolah ke Anggaran yang Tepat Sasaran

Akar masalah perencanaan sekolah adalah data yang terpisah dari anggaran. Hasil asesmen ada di buku guru, presensi di rekap kelas, target di dokumen PBD, dan RKAS di lembar kerja Bendahara. Ketika semua terpisah, sulit membuktikan bahwa uang benar-benar dipakai untuk masalah yang paling penting.

ASIS menghubungkan data sekolah dalam satu akun. Dashboard Goal membantu sekolah menetapkan dan memantau target per peran, sementara modul keuangan mencakup RKAS dan SPJ sehingga rencana dan realisasi belanja bisa dipantau bersama. Data presensi, profil murid, dan asesmen tersedia sebagai bahan refleksi tanpa harus dikumpulkan ulang. Pelaporan resmi tetap mengikuti aplikasi dan juknis pemerintah.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

Sumber: Yunandra, Tahapan Perencanaan Berbasis Data

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.