Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Segitiga restitusi untuk murid yang melanggar aturan: tiga sisi, contoh dialog guru, kapan dipakai, beda dengan hukuman, dan kesalahan saat menerapkannya.
Segitiga restitusi adalah cara guru membimbing murid yang melanggar aturan agar memperbaiki kesalahannya dan kembali ke kelompok dengan karakter yang lebih kuat, bukan sekadar menjalani hukuman. Konsep ini berasal dari pemikiran Diane Gossen tentang restitusi dan banyak dikenal guru Indonesia melalui materi budaya positif. Segitiganya terdiri dari tiga sisi: menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan. Artikel ini menjelaskan tiap sisi, contoh dialog untuk berbagai situasi, kapan restitusi tepat dipakai, dan kesalahan yang sering terjadi.
Sebelum masuk ke segitiganya, penting memahami posisi restitusi di antara cara lain menangani pelanggaran.
| Pendekatan | Fokus | Pesan yang diterima murid |
|---|---|---|
| Hukuman | Membuat murid jera lewat rasa tidak nyaman | "Saya dihukum karena ketahuan." |
| Konsekuensi | Akibat yang disepakati dan logis | "Saya menanggung akibat dari pilihan saya." |
| Restitusi | Memperbaiki kesalahan dan memulihkan diri | "Saya bisa memperbaiki dan menjadi orang yang saya inginkan." |
Restitusi tidak berarti membiarkan pelanggaran. Murid tetap bertanggung jawab, tetapi tanggung jawab itu diarahkan pada perbaikan, bukan pada rasa malu.
Murid yang melanggar biasanya defensif, takut, atau malu. Dalam kondisi seperti itu, ia sulit berpikir jernih. Tujuan sisi pertama adalah membuat murid tenang dan merasa bahwa kesalahan tidak membuatnya menjadi "anak nakal".
Contoh kalimat:
Setiap perilaku punya alasan, biasanya untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti ingin diterima, ingin bebas, ingin merasa berkuasa, atau ingin bersenang-senang. Memvalidasi bukan membenarkan, tetapi mengakui bahwa ada kebutuhan di balik tindakan itu.
Contoh kalimat:
Sisi terakhir mengajak murid mengingat nilai yang ia yakini atau keyakinan kelas yang sudah disepakati, lalu memikirkan cara memperbaiki kesalahan sesuai keyakinan itu.
Contoh kalimat:
Solusi sebaiknya datang dari murid. Guru membantu memastikan solusinya masuk akal dan benar-benar memperbaiki kerugian.
Guru: "Raka, Ibu lihat pensil warna Dinda ada di tasmu. Ibu tidak marah. Semua orang pernah berbuat salah." (stabilkan identitas)
Guru: "Mungkin kamu sangat ingin memakai pensil warna yang bagus itu, ya?" (validasi)
Guru: "Di kelas kita, kita sepakat menjaga barang milik teman. Menurutmu apa yang bisa kamu lakukan sekarang?" (keyakinan)
Raka: "Saya kembalikan dan minta maaf ke Dinda."
Guru: "Bagus. Lain kali kalau ingin meminjam, apa yang bisa kamu lakukan?"
Guru menemui murid secara pribadi, bukan di depan kelas. Ia menstabilkan identitas, lalu mengakui bahwa murid mungkin ingin terlihat lucu di depan teman. Setelah itu guru menanyakan keyakinan kelas tentang saling menghargai. Murid mengusulkan menghapus unggahan, meminta maaf secara pribadi, dan menyampaikan permintaan maaf di grup.
Murid mematahkan sandaran kursi saat bercanda. Setelah tiga sisi dijalankan, murid mengusulkan membantu tukang sekolah memperbaiki kursi pada jam istirahat dan menyisihkan uang untuk membeli baut pengganti. Perbaikan ini nyata dan berkaitan langsung dengan kesalahannya.
Restitusi cocok untuk pelanggaran yang dampaknya bisa diperbaiki, misalnya merusak barang, mengganggu teman, tidak menyelesaikan tugas kelompok, atau berkata kasar.
Restitusi bukan pengganti prosedur resmi untuk kasus berat seperti kekerasan fisik serius, perundungan berulang, atau pelecehan. Kasus seperti itu ditangani sesuai prosedur sekolah dan ketentuan pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan, dengan melibatkan Kepala Sekolah, guru BK, dan orang tua. Restitusi bisa menjadi bagian pemulihan setelah prosedur itu dijalankan.
Restitusi bekerja paling baik di kelas yang sudah punya budaya positif. Di awal tahun, wali kelas bisa memandu murid menyusun keyakinan kelas, misalnya "Kami saling menghargai", "Kami menjaga barang bersama", dan "Kami berani mengakui kesalahan". Keyakinan ditulis dalam kalimat positif, ditempel di dinding, dan ditandatangani bersama.
Latih juga kosakata perasaan dan kebutuhan. Murid yang terbiasa mengatakan "Saya kesal karena merasa tidak didengar" akan lebih mudah diajak menjalani segitiga restitusi dibandingkan murid yang hanya bisa membentak atau diam.
Bisa sangat singkat, sekitar lima menit untuk pelanggaran ringan. Untuk kasus yang lebih rumit, bisa lebih lama atau dilakukan bertahap.
Kembali ke sisi pertama. Murid yang belum merasa aman biasanya belum siap mengakui. Beri waktu, lalu lanjutkan percakapan saat suasana lebih tenang.
Tidak. Restitusi tetap menuntut tanggung jawab, tetapi bentuknya perbaikan. Sekolah juga bisa tetap menerapkan konsekuensi yang sudah disepakati dalam aturan kelas.
Semua guru bisa, terutama wali kelas. Guru BK dapat mendampingi untuk kasus yang lebih kompleks.
Untuk pelanggaran ringan yang sudah diperbaiki, cukup dicatat. Untuk pelanggaran yang berulang atau berdampak besar, orang tua sebaiknya diajak bicara agar penanganan sejalan di rumah.
Penerapan segitiga restitusi sering berhenti di percakapan. Setelah itu, tidak ada catatan yang bisa dilihat wali kelas lain atau guru BK, sehingga ketika perilaku berulang, guru memulai dari nol.
ASIS menyediakan layanan BK dan profil murid yang utuh dengan catatan perkembangan, sehingga kejadian, percakapan, dan perbaikan yang disepakati tercatat sekali dan bisa dilihat pihak yang berwenang. Akses diatur per peran, jadi catatan sensitif tidak terbuka untuk semua orang. Kabar kepada orang tua dapat dikirim lewat notifikasi aplikasi yang gratis tanpa batas, dengan jam tenang.
ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.