WAWASAN ASIS

Soal Uraian Pedoman Penskoran: Cara Membuat dan Contohnya

Cara membuat soal uraian pedoman penskoran yang adil: langkah menyusun kisi-kisi, menulis soal, rubrik analitik dan holistik, serta contoh untuk SMP.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Panduan

Soal uraian pedoman penskoran adalah pasangan yang tidak boleh dipisahkan: soal uraian mengukur kemampuan murid menjelaskan, menganalisis, dan berargumen, sedangkan pedoman penskoran memastikan jawaban yang beragam dinilai dengan ukuran yang sama. Cara membuatnya adalah menentukan tujuan pembelajaran yang diukur, menulis soal dengan perintah yang jelas, menyusun jawaban model, lalu membuat rubrik berisi kriteria dan skor untuk tiap tingkat jawaban. Artikel ini membahas langkahnya dan memberi contoh lengkap untuk jenjang SMP.

Kapan soal uraian dipakai

Soal uraian cocok untuk mengukur kemampuan yang sulit dijangkau pilihan ganda:

  • menjelaskan sebab dan akibat,
  • membandingkan dua konsep,
  • memecahkan masalah dengan langkah,
  • menyampaikan pendapat beserta alasan,
  • merancang sesuatu, misalnya percobaan sederhana.

Kelemahannya, penilaian bisa subjektif dan memakan waktu. Di sinilah pedoman penskoran berperan. Tanpa pedoman, jawaban yang sama bisa diberi skor berbeda oleh guru yang berbeda, atau bahkan oleh guru yang sama di jam berbeda.

Uraian terbatas dan uraian bebas

Jenis Ciri Contoh perintah
Uraian terbatas Ruang jawaban dibatasi, jawaban benar relatif seragam "Sebutkan dan jelaskan dua penyebab banjir di perkotaan."
Uraian bebas Murid menyusun jawaban sendiri, banyak kemungkinan benar "Menurutmu, apa yang paling efektif dilakukan warga untuk mencegah banjir di lingkunganmu? Jelaskan alasanmu."

Uraian terbatas lebih mudah diskor dengan pedoman berbasis poin. Uraian bebas lebih cocok dinilai dengan rubrik kriteria.

Langkah membuat soal uraian

1. Tentukan tujuan pembelajaran dan indikator

Mulai dari tujuan pembelajaran yang ingin diukur, lalu turunkan menjadi indikator soal. Contoh: "Murid dapat menjelaskan hubungan antara alih fungsi lahan dan risiko banjir."

2. Susun kisi-kisi

Kisi-kisi memuat tujuan, materi, indikator, level kognitif, dan nomor soal. Kisi-kisi membantu guru memastikan soal tidak menumpuk di satu materi.

3. Tulis soal dengan kata kerja yang jelas

Hindari perintah samar seperti "Bagaimana pendapatmu tentang banjir?" Gunakan kata kerja operasional: jelaskan, bandingkan, analisis, rancang, simpulkan. Sebutkan juga apa yang diharapkan, misalnya "sertakan dua alasan".

4. Beri stimulus bila perlu

Stimulus berupa teks pendek, tabel, grafik, atau gambar membuat soal lebih kontekstual dan mendorong penalaran, bukan hafalan.

5. Telaah soal

Minta rekan guru membaca soal. Jika rekan bisa menafsirkan perintah dengan dua cara berbeda, perbaiki kalimatnya.

Langkah membuat pedoman penskoran

1. Tulis jawaban model

Jawaban model adalah jawaban ideal yang diharapkan. Untuk uraian bebas, tulis beberapa kemungkinan jawaban yang benar.

2. Pilih jenis rubrik

  • Rubrik analitik: jawaban dipecah menjadi beberapa kriteria, masing-masing diberi skor. Cocok untuk umpan balik yang rinci.
  • Rubrik holistik: jawaban dinilai secara keseluruhan dengan satu skor berdasarkan deskripsi tingkat. Lebih cepat, tetapi kurang rinci.

3. Tetapkan skor maksimal dan deskripsi tiap tingkat

Setiap tingkat skor perlu deskripsi yang membedakan jawaban satu dengan lainnya. Hindari deskripsi seperti "cukup baik" tanpa penjelasan.

4. Uji coba pada beberapa jawaban

Ambil 5–6 lembar jawaban acak, nilai dengan rubrik, lalu periksa apakah ada jawaban yang sulit dimasukkan ke tingkat mana pun. Jika ada, revisi rubrik sebelum menilai seluruh kelas.

Contoh soal uraian pedoman penskoran untuk SMP

Mata pelajaran: IPS kelas VIII

Stimulus: "Dalam sepuluh tahun terakhir, sawah di pinggiran Kota Sukamaju banyak berubah menjadi perumahan. Setiap musim hujan, beberapa kampung di sekitarnya kini tergenang air."

Soal: Jelaskan hubungan antara perubahan lahan sawah menjadi perumahan dengan genangan air di kampung tersebut. Sertakan satu usulan yang bisa dilakukan pemerintah daerah atau warga.

Jawaban model: Sawah berfungsi sebagai daerah resapan dan penampung air. Ketika berubah menjadi perumahan, permukaan tanah tertutup bangunan dan jalan sehingga air hujan tidak meresap dan mengalir ke saluran. Jika saluran tidak cukup besar, air meluap ke kampung. Usulan: membuat sumur resapan atau biopori, menyediakan ruang terbuka hijau, dan memperbesar saluran air.

Rubrik analitik

Kriteria Skor 3 Skor 2 Skor 1 Skor 0
Fungsi sawah Menjelaskan fungsi resapan dan penampung air dengan tepat Menyebut fungsi resapan tanpa penjelasan Menyebut fungsi lain yang kurang relevan Tidak menjawab
Hubungan sebab akibat Menjelaskan rantai: lahan tertutup, air tidak meresap, limpasan meluap Menjelaskan sebagian rantai Menyebut banjir tanpa sebab Tidak menjawab
Usulan Usulan relevan disertai alasan Usulan relevan tanpa alasan Usulan kurang relevan Tidak ada usulan
Bahasa Runtut dan jelas Cukup jelas, ada bagian melompat Sulit dipahami Tidak menjawab

Skor maksimal 12. Nilai = skor perolehan dibagi 12 dikali 100.

Contoh penerapan

Jawaban Nadia: "Karena sawah jadi rumah, air tidak bisa masuk ke tanah, jadi banjir. Sebaiknya dibuat biopori." Skor: fungsi sawah 2, hubungan sebab akibat 2, usulan 2, bahasa 2. Total 8 dari 12, nilai 67. Umpan balik: jelaskan bagaimana air yang tidak meresap akhirnya sampai ke kampung, dan beri alasan mengapa biopori membantu.

Daftar cek sebelum soal dipakai

Sebelum soal uraian pedoman penskoran dibagikan kepada murid, periksa hal berikut:

  • Setiap soal mengukur satu tujuan pembelajaran yang jelas.
  • Perintah memakai kata kerja operasional dan menyebut apa yang diharapkan.
  • Stimulus relevan dan bisa dipahami tanpa penjelasan tambahan.
  • Jawaban model sudah ditulis untuk setiap soal.
  • Rubrik memiliki skor untuk jawaban sebagian benar.
  • Rubrik sudah diuji pada beberapa jawaban.
  • Waktu pengerjaan cukup untuk jumlah soal.

Simpan soal dan pedomannya bersama-sama agar mudah dipakai ulang dan diperbaiki pada semester berikutnya.

Tips agar penskoran konsisten

  • Nilai per nomor, bukan per murid. Selesaikan nomor 1 untuk semua murid dulu, baru nomor 2. Ini menjaga ukuran tetap sama.
  • Tutup nama murid. Mengurangi bias terhadap murid tertentu.
  • Diskusikan jawaban yang meragukan. Bila dinilai bersama, samakan persepsi dengan beberapa contoh jawaban terlebih dahulu.
  • Catat umpan balik singkat. Murid lebih terbantu oleh satu kalimat saran daripada angka saja.

Kesalahan umum

  • Soal uraian yang sebenarnya hanya meminta hafalan satu kata.
  • Skor maksimal tidak sebanding dengan tingkat kesulitan.
  • Rubrik ditulis setelah menilai, sehingga menyesuaikan dengan jawaban murid tertentu.
  • Tidak ada skor untuk jawaban sebagian benar.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa bedanya pedoman penskoran dan kunci jawaban?

Kunci jawaban hanya berisi jawaban benar. Pedoman penskoran berisi kriteria dan skor untuk berbagai tingkat jawaban, termasuk jawaban yang sebagian benar.

Berapa skor maksimal yang ideal untuk satu soal uraian?

Tidak ada angka baku. Sesuaikan dengan jumlah kriteria dan tingkat kesulitan soal, lalu jaga perbandingannya tetap wajar antarsoal.

Lebih baik rubrik analitik atau holistik?

Rubrik analitik lebih baik untuk umpan balik dan asesmen formatif. Rubrik holistik lebih cepat dan cocok untuk penilaian yang membutuhkan gambaran umum.

Berapa jumlah soal uraian dalam satu asesmen?

Umumnya lebih sedikit dari pilihan ganda karena butuh waktu menjawab lebih lama. Perhitungkan waktu baca, berpikir, dan menulis jawaban.

Bolehkah memakai AI untuk membuat soal uraian?

Boleh sebagai bantuan awal, tetapi guru wajib meninjau soal, jawaban model, dan rubriknya agar sesuai tujuan pembelajaran dan konteks murid.

ASIS: Bank Soal yang Menyimpan Soal sekaligus Rubriknya

Masalah yang sering dialami guru adalah soal dan pedoman penskoran tersimpan terpisah. Soal ada di dokumen ujian, rubrik di buku catatan, dan tahun berikutnya guru harus menyusun ulang dari awal karena berkasnya tidak ditemukan.

ASIS menyediakan bank soal dengan bantuan AI yang membantu guru menyusun draf soal lebih cepat, dengan catatan penting: setiap soal wajib ditinjau guru sebelum dipakai. Soal yang sudah rapi bisa dipakai ulang, lembar jawaban ber-QR bisa dicetak, dan hasil penilaian mengalir ke e-Rapor Kurikulum Merdeka tanpa diketik ulang. Guru juga bisa memperdalam keterampilan menyusun asesmen lewat kursus daring di Akademi ASIS.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.