WAWASAN ASIS

Software SD: Pilih Web, Android, atau Instal di Komputer?

Software SD berbasis web, Android, atau instal di komputer: bandingkan akses, keamanan data, pembaruan, dan dukungan sebelum kepala sekolah memutuskan.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Digitalisasi Sekolah

Software SD hari ini datang dalam tiga bentuk: aplikasi web yang dibuka lewat peramban, aplikasi Android di ponsel, dan program yang diinstal di satu komputer sekolah. Ketiganya bisa mencatat data murid, nilai, presensi, dan keuangan, tetapi cara kerjanya sangat berbeda soal akses, keamanan, pembaruan, dan siapa yang menolong ketika ada masalah. Artikel ini membantu kepala sekolah menilai sisi teknisnya sebelum memutuskan, tanpa harus menjadi ahli komputer.

Kalau Bapak/Ibu masih menimbang modul apa saja yang dibutuhkan, baca juga "SIM Sekolah: Modul dan Urutan Prioritas Penerapan". Artikel ini fokus pada pertanyaan teknis: di mana aplikasi berjalan dan bagaimana data dijaga.

Masalah yang sering muncul di SD

Banyak SD pernah memakai program yang diinstal di komputer TU. Awalnya lancar. Masalah muncul ketika komputer rusak, operator pindah tugas, atau guru ingin mengisi nilai dari rumah. Data hanya ada di satu hard disk, cadangannya tidak jelas, dan versi program tidak pernah diperbarui.

Di sisi lain, ada sekolah yang langsung memakai aplikasi ponsel gratis dari sumber yang tidak jelas. Aplikasi itu meminta izin akses berlebihan, tidak punya kebijakan privasi, dan berhenti diperbarui setahun kemudian. Data anak, yang menurut UU 27/2022 tergolong data pribadi spesifik, ikut tersimpan entah di mana.

Tiga bentuk aplikasi dan perbedaannya

Aspek Web (peramban) Aplikasi Android Instal di komputer
Cara akses Laptop, komputer, atau ponsel dengan internet Ponsel Android Hanya komputer tempat dipasang
Lokasi data Server penyedia Server penyedia (umumnya) Hard disk sekolah
Pembaruan Otomatis dari penyedia Lewat Google Play Manual oleh operator
Cadangan Tanggung jawab penyedia Tanggung jawab penyedia Tanggung jawab sekolah
Risiko utama Bergantung internet Ponsel hilang tanpa kunci layar Komputer rusak, virus, data hilang
Cocok untuk Operator, TU, Bendahara Guru, wali murid Sekolah tanpa internet sama sekali

Tidak ada bentuk yang sempurna. Untuk kebanyakan SD yang sudah punya sinyal ponsel, kombinasi web untuk pekerjaan administrasi dan Android untuk guru serta orang tua biasanya paling praktis.

Kapan aplikasi instal masih masuk akal

Program instal masih masuk akal bila sekolah benar-benar tanpa internet dan hanya satu orang yang mengolah data. Namun sekolah wajib membuat cadangan rutin ke diska lepas dan menyimpannya di tempat terpisah. Tanpa disiplin ini, satu kerusakan komputer bisa menghapus data bertahun-tahun.

Kriteria teknis yang perlu dicek

1. Keamanan akun

Tanyakan apakah setiap pengguna punya akun sendiri, bukan satu akun dipakai bersama. Cek juga pilihan masuk yang aman, misalnya kode OTP, dan apakah guru hanya melihat data kelasnya sendiri. Pembagian hak akses per peran adalah fondasi keamanan, bukan fitur tambahan.

2. Lokasi dan kepemilikan data

Pastikan penyedia menyatakan secara tertulis bahwa data milik sekolah, tidak dijual, dan tidak dipakai untuk iklan. Tanyakan juga apakah data bisa diekspor bila suatu saat sekolah berhenti memakai layanan.

3. Pembaruan dan kesesuaian aturan

Aplikasi sekolah harus mengikuti perubahan kebijakan, misalnya format rapor Kurikulum Merdeka. Aplikasi web dan Android umumnya diperbarui penyedia, sedangkan program instal sering tertinggal versi.

4. Dukungan

Siapa yang membantu ketika operator bingung? Cari panduan tertulis, kursus daring, forum pengguna, dan kanal bantuan. Software yang bagus tetapi tanpa dukungan akan ditinggalkan dalam satu semester.

5. Kebutuhan perangkat

Hitung perangkat yang benar-benar ada di sekolah. Jika guru sebagian besar memakai ponsel Android kelas menengah ke bawah, pastikan aplikasinya ringan dan tetap nyaman di layar kecil.

Cara kerja software SD berbasis web dan Android

Pada model web dan Android, data tersimpan di server penyedia dan semua perangkat membaca data yang sama. Contoh di sebuah SD dengan 12 rombel:

  1. Operator mengimpor file ekspor Dapodik sebagai data awal murid dan rombel lewat komputer TU.
  2. Wali kelas membuka aplikasi Android dan mencatat presensi pagi dengan pindai QR.
  3. Kepala sekolah melihat rekap kehadiran dari laptop di rumah tanpa menunggu laporan kertas.
  4. Orang tua menerima notifikasi bila anaknya tidak hadir.

Tidak ada pengiriman file bolak-balik. Jika satu ponsel hilang, data tetap aman di server, cukup keluarkan akun dari perangkat tersebut dan ganti kata sandi.

Kesalahan saat memilih aplikasi

  • Memilih hanya dari tampilan demo tanpa mencoba dengan data sekolah sendiri.
  • Tidak bertanya soal ekspor data, sehingga sekolah "terkunci" di satu aplikasi.
  • Memakai satu akun admin bersama untuk semua guru.
  • Mengabaikan biaya tersembunyi seperti biaya per murid yang naik setiap tahun.
  • Tidak menyiapkan penanggung jawab data di sekolah.

Checklist teknis sebelum memutuskan

  • Bisa diakses lewat peramban dan ponsel Android yang dimiliki guru.
  • Setiap pengguna punya akun sendiri dengan hak akses sesuai peran.
  • Ada pilihan masuk aman seperti OTP.
  • Penyedia menyatakan data milik sekolah, tidak dijual, tanpa iklan.
  • Data bisa diekspor.
  • Pembaruan dilakukan penyedia secara rutin.
  • Ada panduan tertulis, kursus, dan kanal bantuan.
  • Biaya jelas per lembaga, bukan berubah-ubah per murid.

Pertanyaan yang sering diajukan

Software SD mana yang lebih aman, web atau instal?

Tergantung pengelolaannya. Aplikasi web dari penyedia yang jelas biasanya lebih aman karena cadangan dan pembaruan diurus penyedia. Program instal aman hanya bila sekolah disiplin membuat cadangan dan merawat komputernya.

Apakah software SD bisa dipakai tanpa internet?

Program instal bisa. Aplikasi web dan Android membutuhkan koneksi internet untuk menyimpan data. Sebelum memilih, cek kualitas sinyal di sekolah dan di rumah guru.

Apakah guru wajib punya laptop?

Tidak. Banyak pekerjaan guru seperti presensi dan catatan harian bisa dilakukan lewat ponsel Android. Laptop lebih diperlukan untuk operator dan Bendahara.

Bagaimana jika operator sekolah berganti?

Pada model web, akun operator lama cukup dinonaktifkan dan operator baru diberi peran yang sama. Data tidak ikut pergi bersama orangnya.

Apakah data Dapodik bisa diimpor?

Umumnya lewat impor file ekspor Dapodik. Pastikan Bapak/Ibu bertanya apakah aplikasinya hanya mengimpor atau mengklaim terhubung langsung, karena keduanya berbeda.

ASIS: Aplikasi Berbasis Web dan Android yang Dijaga Bersama

Akar masalah software SD yang gagal biasanya bukan fiturnya, melainkan data yang hanya ada di satu komputer, akun yang dipakai bersama, dan tidak ada yang membantu ketika macet. Sekolah akhirnya kembali ke Excel.

ASIS berjalan di web (asis.id) dan Android (ASIS Mobile) dengan satu akun. Setiap guru dan tenaga kependidikan mendapat peran sendiri dari 45 peran pengguna, sehingga hanya melihat menu dan data yang ia perlukan. Data awal diimpor dari file ekspor Dapodik, masuk bisa dengan OTP WhatsApp/SMS atau Google, data tidak dijual dan tanpa iklan. Panduan ASIS, Akademi ASIS, dan forum tersedia untuk operator yang baru belajar.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.