Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Tahapan gerakan literasi sekolah: pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran, beserta contoh kegiatan, indikator, dan cara tahu sekolah siap naik tahap.
Tahapan gerakan literasi sekolah terdiri atas tiga tahap: pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Pada tahap pembiasaan, sekolah menumbuhkan minat baca lewat kegiatan rutin seperti membaca 15 menit sebelum pelajaran. Pada tahap pengembangan, murid mulai menanggapi bacaan secara lisan maupun tertulis. Pada tahap pembelajaran, literasi menyatu dengan semua mata pelajaran dan menghasilkan karya yang dinilai. Ketiga tahap ini berurutan, tetapi tidak kaku: sekolah boleh menjalankan unsur tahap berikutnya selama fondasi tahap sebelumnya sudah kuat.
Artikel ini menjelaskan tujuan tiap tahap, contoh kegiatan, indikator untuk mengetahui apakah sekolah siap naik tahap, dan kesalahan umum. Untuk pilihan aplikasi pendukung, lihat "Aplikasi Literasi Sekolah: Kriteria dan Cara Memakainya", dan untuk meningkatkan minat murid, "Cara Meningkatkan Minat Baca Murid yang Malas Membaca".
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah upaya menyeluruh agar sekolah menjadi tempat warga sekolah gemar membaca dan belajar sepanjang hayat. Kegiatan membaca buku nonpelajaran 15 menit sebelum pembelajaran, yang dikenal luas sejak dicanangkan pemerintah, menjadi pintu masuknya. GLS melibatkan murid, guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
Panduan GLS dan istilahnya dapat diperbarui dari waktu ke waktu. Rujuk panduan resmi terbaru dari kementerian bila sekolah perlu dasar formal.
| Aspek | Pembiasaan | Pengembangan | Pembelajaran |
|---|---|---|---|
| Tujuan | Menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca | Mengembangkan kemampuan memahami dan menanggapi bacaan | Literasi untuk mencapai tujuan pembelajaran semua mapel |
| Kegiatan inti | Membaca 15 menit, membacakan nyaring | Menanggapi bacaan, jurnal membaca, diskusi buku | Membaca teks pengayaan mapel, menulis karya, proyek |
| Penilaian | Tidak dinilai akademik | Tanggapan bisa dinilai nonakademik | Dinilai sebagai bagian asesmen mapel |
| Lingkungan | Pojok baca, area baca nyaman | Papan karya, majalah dinding | Perpustakaan aktif, publikasi karya |
| Peran guru | Teladan membaca | Fasilitator diskusi | Merancang literasi dalam pembelajaran |
Tujuan tahap ini sederhana: membaca menjadi kebiasaan yang menyenangkan, bukan tugas.
Contoh di sebuah SD di Kabupaten Lombok Tengah: koleksi perpustakaan terbatas, sehingga sekolah memutar buku antarkelas setiap dua minggu dan meminta orang tua menyumbang satu buku bacaan anak per keluarga. Dalam satu semester, setiap kelas punya sekitar 40 judul yang terus berganti.
Di tahap ini, murid tidak hanya membaca, tetapi juga menanggapi. Tanggapan bisa lisan, tertulis, atau gambar, dan boleh dinilai secara nonakademik untuk memberi umpan balik.
Pada tahap ini, literasi menjadi alat belajar di semua mapel. Murid membaca buku pengayaan, artikel, data, dan teks informasi untuk menyelesaikan tugas mapel, lalu menghasilkan karya yang dinilai.
Cara mengintegrasikan literasi ke setiap mapel dibahas di artikel tentang integrasi literasi numerasi lintas mapel di blog ini.
| Pihak | Pembiasaan | Pengembangan | Pembelajaran |
|---|---|---|---|
| Kepala sekolah | Menetapkan waktu baca, menyediakan buku | Membentuk tim literasi | Memasukkan literasi ke KSP dan supervisi |
| Guru | Teladan dan pendamping | Fasilitator tanggapan | Perancang kegiatan literasi mapel |
| Pustakawan | Mengatur rotasi buku | Program kunjungan kelas | Layanan referensi untuk tugas mapel |
| Orang tua | Membaca bersama di rumah | Menyumbang buku, menjadi relawan | Narasumber dan audiens karya |
Tidak ada patokan baku. Sekolah naik tahap ketika indikator tahap sebelumnya sudah tercapai secara konsisten, bisa satu semester atau lebih.
Pada dasarnya berurutan, tetapi kegiatan dari tahap berikutnya boleh dimulai lebih awal di kelas yang siap, asalkan kebiasaan membaca tetap terjaga.
Buku nonpelajaran yang sesuai usia dan minat murid: cerita, buku bergambar, komik edukatif, atau buku pengetahuan populer.
Putar buku antarkelas, ajak orang tua menyumbang, manfaatkan buku digital pemerintah, dan bekerja sama dengan perpustakaan daerah.
Pada tahap pembelajaran, karya literasi bisa menjadi bagian asesmen mapel. Pada tahap pembiasaan, kegiatan tidak dinilai secara akademik.
Gerakan literasi sering berhenti di tahap pembiasaan karena buku terbatas dan tidak ada catatan siapa membaca apa. Sekolah sulit membuktikan kemajuan, apalagi naik tahap.
Pustaka di pustaka.asis.id menyediakan buku pelajaran pemerintah yang bisa dibaca murid dan guru kapan saja. Modul perpustakaan ASIS mencatat koleksi dan peminjaman buku fisik, portofolio menyimpan karya tulis murid, dan situs sekolah dengan subdomain gratis bisa menjadi tempat memublikasikan karya literasi. Perangkat ajar membantu guru merancang kegiatan literasi di setiap mapel.
ASIS gratis untuk semua sekolah, tanpa iklan, dan data tidak dijual. Pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ bisa memakai Basmalah, aplikasi gratis dari ekosistem ASIS. Mulai di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.