WAWASAN ASIS

Ujian Sekolah untuk Kelulusan: Penyusun dan Materinya

Ujian sekolah untuk kelulusan: siapa yang menyusun, apa yang diujikan, bentuk asesmennya, posisi TKA, dan langkah penyelenggaraan di sekolah.

Tim Wawasan ASIS Diperbarui Wawasan

Ujian sekolah untuk kelulusan disusun dan diselenggarakan oleh satuan pendidikan itu sendiri, bukan oleh pemerintah pusat. Sekolah menetapkan mekanisme kelulusan berdasarkan pedoman dari kementerian, lalu guru menyusun asesmen yang mengukur capaian pembelajaran murid di akhir jenjang. Bentuknya tidak harus tes tertulis: penugasan, praktik, proyek, dan portofolio juga sah. Sementara itu, Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang diatur Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2025 bukan syarat kelulusan secara nasional.

Artikel ini menjelaskan siapa yang berwenang, apa yang diujikan, bagaimana menyusunnya, dan kesalahan yang sering terjadi.

Dasar kewenangan sekolah

Sejak ujian nasional tidak lagi menjadi penentu kelulusan, kewenangan menentukan kelulusan ada di tangan satuan pendidikan. Permendikbudristek Nomor 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan menyebut bahwa satuan pendidikan menetapkan mekanisme kenaikan kelas dan kelulusan berdasarkan pedoman yang ditetapkan unit utama kementerian yang membidangi kurikulum dan asesmen.

Aturan yang sama menyebut kelulusan ditentukan dengan mempertimbangkan laporan kemajuan belajar yang mencerminkan pencapaian murid pada semua mata pelajaran, ekstrakurikuler, dan prestasi lain. Artinya, ujian di akhir jenjang hanyalah salah satu bahan pertimbangan, bukan satu-satunya.

Di mana posisi TKA?

TKA diatur dalam Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2025. Kementerian menjelaskan bahwa TKA bukan syarat kelulusan; untuk TKA SD dan SMP 2026, hasilnya dipakai untuk memetakan kemampuan akademik dan memperbaiki pembelajaran. Mulai 2026 pelaksanaan Asesmen Nasional juga digabung dengan TKA. Hasilnya dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain sesuai ketentuan, misalnya seleksi jenjang berikutnya. Karena aturan turunannya bisa diperbarui, Kepala Sekolah sebaiknya selalu merujuk juknis terbaru.

Siapa yang menyusun ujian sekolah

Penyusunan biasanya dilakukan oleh tim yang ditetapkan dengan SK Kepala Sekolah. Susunan yang umum:

Peran Tugas
Kepala Sekolah Menetapkan kebijakan, SK panitia, dan kriteria kelulusan
Wakil bidang kurikulum Mengoordinasikan jadwal, kisi-kisi, dan standar mutu soal
Guru mata pelajaran Menyusun kisi-kisi dan instrumen sesuai capaian pembelajaran
Tim telaah Memeriksa kesesuaian soal dengan kisi-kisi, bahasa, dan keadilan
Panitia pelaksana Mengatur ruang, pengawas, berita acara, dan pengolahan nilai
TU atau operator Menyiapkan daftar peserta, kartu, dan rekap nilai

Di beberapa daerah, forum MGMP atau KKG kecamatan menyusun soal bersama agar mutu setara. Ini boleh dilakukan selama keputusan akhir tetap di tangan sekolah dan instrumen sesuai dengan pembelajaran yang benar-benar terjadi.

Apa yang diujikan

Prinsipnya, ujian mengukur capaian pembelajaran yang telah dipelajari murid, bukan materi yang belum diajarkan. Untuk Kurikulum Merdeka, acuannya adalah capaian pembelajaran (CP) fase terakhir jenjang dan tujuan pembelajaran yang tertuang dalam ATP sekolah.

Beberapa keputusan yang perlu diambil sekolah:

  • Mata pelajaran yang diujikan. Semua mata pelajaran atau sebagian. Mata pelajaran yang tidak diujikan secara khusus tetap dinilai melalui nilai rapor.
  • Cakupan materi. Seluruh fase atau fokus pada kompetensi kunci.
  • Bobot. Seberapa besar nilai ujian dibanding nilai rapor semester sebelumnya dalam menentukan nilai akhir.

Bentuk asesmen yang bisa dipakai

Ujian sekolah tidak identik dengan lembar pilihan ganda. Pilih bentuk yang paling cocok dengan karakter mata pelajaran.

Bentuk Cocok untuk Contoh
Tes tertulis Konsep dan penalaran Pilihan ganda, isian, uraian
Praktik Keterampilan Praktik laboratorium IPA, praktik olahraga, membaca Al-Qur'an
Penugasan atau proyek Penerapan dan kolaborasi Laporan penelitian sederhana, karya seni
Portofolio Perkembangan selama periode tertentu Kumpulan tulisan, karya desain di SMK
Lisan Komunikasi dan pemahaman mendalam Presentasi, wawancara bahasa asing

Kombinasi bentuk lebih adil karena murid yang lemah di tes tertulis punya kesempatan menunjukkan kemampuannya lewat jalur lain.

Langkah menyelenggarakan ujian sekolah

  1. Tetapkan kebijakan dan kriteria kelulusan dalam rapat dewan guru, lalu tuangkan dalam keputusan Kepala Sekolah.
  2. Bentuk panitia dan tim penyusun dengan pembagian tugas yang jelas.
  3. Susun kisi-kisi yang mengacu pada CP dan TP. Kisi-kisi memuat kompetensi, materi, indikator, bentuk, dan nomor soal.
  4. Tulis dan telaah instrumen. Telaah memeriksa kesesuaian dengan kisi-kisi, kejelasan bahasa, kunci jawaban, dan bebas bias.
  5. Sosialisasikan ke murid dan orang tua: jadwal, bentuk, tata tertib, dan cara penilaian.
  6. Laksanakan dengan berita acara dan daftar hadir.
  7. Olah nilai sesuai bobot yang disepakati, lalu bahas dalam rapat penentuan kelulusan.
  8. Umumkan hasil sesuai jadwal yang ditetapkan, dengan cara yang menjaga privasi murid.

Contoh pembobotan nilai akhir

Berikut contoh ilustrasi, bukan ketentuan resmi:

Komponen Bobot contoh
Rata-rata nilai rapor semester sebelumnya 60%
Nilai ujian sekolah 40%

Sekolah lain mungkin memilih 70:30 atau memasukkan nilai praktik secara terpisah. Yang penting, bobot ditetapkan sebelum ujian dan diketahui semua pihak.

Variasi per jenjang

SD dan MI. Fokus pada literasi, numerasi, dan mata pelajaran inti. Bentuk praktik dan lisan sangat cocok untuk anak usia ini.

SMP dan MTs. Kombinasikan tes tertulis dengan proyek sederhana. Perhatikan beban, karena murid kelas 9 juga sedang mempersiapkan seleksi jenjang berikutnya.

SMA dan MA. Ujian bisa mencerminkan mata pelajaran pilihan murid. Portofolio dan karya tulis memberi gambaran kemampuan yang lebih utuh.

SMK. Selain ujian sekolah, ada uji kompetensi keahlian yang mekanismenya diatur tersendiri. Pastikan jadwal keduanya tidak bertabrakan dengan PKL.

Menyiapkan murid tanpa tekanan berlebihan

Karena tidak lagi menjadi satu-satunya penentu, ujian sekolah untuk kelulusan sebaiknya tidak diperlakukan seperti ujian nasional masa lalu. Tidak perlu jam tambahan berbulan-bulan atau rangkaian uji coba yang menguras tenaga murid dan guru.

Persiapan yang lebih sehat adalah memastikan pembelajaran di kelas 6, 9, atau 12 berjalan tuntas sesuai ATP, lalu memberi murid gambaran bentuk soal dan tata tertib beberapa minggu sebelumnya. Bagi murid yang tertinggal, siapkan pendampingan terarah berdasarkan hasil asesmen formatif, bukan les massal untuk semua.

Kesalahan umum

Menganggap ujian sekolah sebagai satu-satunya penentu. Aturan meminta pertimbangan menyeluruh atas kemajuan belajar.

Soal tidak sesuai pembelajaran. Mengambil soal dari bank luar tanpa telaah sering menghasilkan materi yang belum diajarkan.

Kisi-kisi dibuat setelah soal. Urutannya harus kisi-kisi dulu, baru soal.

Bobot berubah setelah nilai keluar. Ini merusak kepercayaan murid dan orang tua.

Mengumumkan hasil secara terbuka dengan nama dan nilai. Gunakan cara yang menjaga kerahasiaan, misalnya akses individual.

Dengan perencanaan yang matang, ujian sekolah untuk kelulusan menjadi asesmen yang adil dan bermakna, bukan formalitas tahunan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah ujian sekolah untuk kelulusan masih wajib?

Kewenangan menentukan mekanisme kelulusan ada di satuan pendidikan sesuai pedoman kementerian. Bentuk dan teknisnya mengikuti kebijakan sekolah dan juknis terbaru.

Apakah TKA menentukan lulus atau tidaknya murid?

Tidak. Kementerian menyatakan TKA bukan syarat kelulusan; kelulusan tetap ditetapkan satuan pendidikan.

Bolehkah soal ujian disusun bersama sekolah lain?

Boleh, misalnya melalui MGMP atau KKG. Namun sekolah tetap bertanggung jawab memastikan soal sesuai pembelajaran yang dilaksanakan.

Apakah ujian harus berbasis komputer?

Tidak harus. Sekolah memilih moda sesuai kesiapan sarana. Ujian kertas, praktik, maupun berbasis komputer sama-sama sah.

Bagaimana jika murid tidak bisa mengikuti ujian karena sakit?

Sediakan ujian susulan dengan instrumen setara. Aturannya sebaiknya sudah tercantum dalam tata tertib ujian.

ASIS: Ujian Sekolah yang Tertata dari Kisi-kisi sampai Rapor

Penyelenggaraan ujian sekolah sering melelahkan karena datanya berpindah-pindah: soal di laptop guru, daftar peserta di berkas TU, nilai di lembar kerja wali kelas, lalu diketik ulang ke rapor. Setiap pemindahan membuka peluang salah ketik dan memakan waktu berhari-hari.

ASIS dibangun dengan prinsip "Data dicatat sekali, dipakai berkali-kali." Bank soal ASIS membantu guru menyusun dan menyimpan butir soal, termasuk dengan bantuan AI yang wajib ditinjau guru sebelum dipakai. Ujian bisa dijalankan berbasis komputer atau HP lewat CBT ASIS dengan token dan proktor, atau sekolah dapat mencetak lembar jawaban ber-QR untuk ujian kertas, sementara nilai yang sudah dicatat guru di ASIS dipakai untuk e-Rapor Kurikulum Merdeka tanpa perlu disalin ke berkas lain. Setiap peran hanya melihat yang ia perlukan, sehingga kerahasiaan soal dan nilai lebih terjaga.

ASIS gratis untuk semua sekolah, dan Basmalah gratis untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ. Silakan mulai di asis.id.

Sumber: Permendikbudristek Nomor 21 Tahun 2022 (Komunitas Belajar); Penjelasan Kemendikdasmen tentang TKA (GNFI); Bisnis.com, TKA SD dan SMP 2026

BACA JUGA

Artikel lain untuk sekolah.

MULAI DARI SATU DATA

Cukup catat sekali, pakai di mana saja.

Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.