Pajak Belanja Dana BOS: Cara Menghitung dan Menyetor
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
10 aktivitas berpikir komputasional SD tanpa komputer untuk melatih dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma lewat permainan di kelas.
Berpikir komputasional bukan berarti murid harus langsung belajar memprogram komputer. Berpikir komputasional adalah cara memecahkan masalah secara runtut, seperti yang dilakukan seorang pemrogram. Kemampuan ini bisa dilatih sejak SD, bahkan tanpa komputer sama sekali.
Perhatian terhadap kemampuan ini juga makin besar sejak Kemendikdasmen memperkenalkan mata pelajaran pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial. Tulisan ini berisi 10 aktivitas berpikir komputasional SD yang mudah dilakukan di kelas.
Setiap aktivitas di bawah ini melatih satu atau beberapa pilar tersebut.
Satu murid menjadi "robot", murid lain menjadi "pemrogram". Pemrogram memberi perintah sederhana seperti "maju dua langkah" atau "belok kanan" agar robot sampai ke tujuan. Robot hanya boleh melakukan persis apa yang diperintahkan.
Pilar: algoritma. Murid belajar bahwa perintah harus tepat dan runtut.
Minta murid menuliskan langkah membuat roti isi selai. Guru lalu memperagakan langkahnya persis seperti yang tertulis. Jika murid menulis "oles selai" tanpa membuka tutup toples, guru tidak bisa melanjutkan. Biasanya kelas akan tertawa, dan murid langsung memahami pentingnya langkah yang lengkap.
Pilar: algoritma dan dekomposisi.
Berikan deretan gambar, warna, atau bentuk, misalnya merah-biru-biru-merah-biru-biru. Murid menebak kelanjutannya, lalu membuat pola sendiri untuk ditebak teman.
Pilar: pengenalan pola.
Gambar petak di lantai atau kertas. Murid menulis rute menuju "harta karun" dengan simbol panah. Untuk tantangan lebih tinggi, tambahkan rintangan yang harus dihindari.
Pilar: algoritma.
Minta murid memecah kegiatan seperti "bersiap ke sekolah" menjadi langkah-langkah kecil: bangun, mandi, berpakaian, sarapan, dan seterusnya. Lalu tanyakan langkah mana yang bisa ditukar urutannya dan mana yang tidak.
Pilar: dekomposisi.
Satu murid memikirkan seekor hewan. Teman-temannya hanya boleh bertanya dengan jawaban ya atau tidak, misalnya "Apakah hewan ini bisa terbang?" Tantang mereka menebak dengan pertanyaan sesedikit mungkin.
Pilar: abstraksi dan algoritma. Murid belajar memilih pertanyaan yang paling membedakan.
Bagikan kartu angka acak. Murid menyusunnya dari kecil ke besar, lalu menjelaskan cara yang mereka pakai. Bandingkan cara yang berbeda: mana yang lebih cepat?
Pilar: algoritma.
Seorang murid menggambar bentuk sederhana tanpa dilihat teman. Ia lalu memberi instruksi lisan agar temannya menggambar bentuk yang sama. Bandingkan hasilnya.
Pilar: algoritma dan abstraksi.
Siapkan berbagai benda: daun, batu, tutup botol, dan lainnya. Murid mengelompokkan benda berdasarkan ciri tertentu, lalu menjelaskan aturan pengelompokannya.
Pilar: pengenalan pola dan abstraksi.
Berikan urutan langkah yang sengaja dibuat keliru, misalnya cara menanam biji yang urutannya terbalik. Murid mencari dan memperbaiki kesalahannya.
Pilar: algoritma. Murid belajar bahwa menemukan kesalahan adalah bagian normal dari memecahkan masalah.
Tidak sama. Koding adalah salah satu cara menerapkan berpikir komputasional. Berpikir komputasional adalah cara berpikirnya, yang juga berguna di luar komputer.
Sejak kelas awal SD, dengan aktivitas yang konkret seperti permainan dan gerakan tubuh. Tingkat kesulitan dinaikkan sesuai usia.
Tidak. Banyak aktivitas berpikir komputasional bisa dilakukan tanpa komputer. Perangkat digital membantu, tetapi bukan syarat untuk memulai.
Amati proses murid saat memecahkan masalah: apakah ia bisa memecah masalah, menemukan pola, dan menyusun langkah yang runtut. Rubrik sederhana dan catatan observasi lebih tepat daripada tes pilihan ganda.
Banyak sekolah ingin mengenalkan berpikir komputasional dan teknologi kepada murid, tetapi terkendala laboratorium dan media pembelajaran yang mahal. Akibatnya, kesenjangan antara sekolah yang mampu dan yang tidak semakin lebar.
ASIS hadir dengan visi agar teknologi pendidikan bisa dinikmati semua sekolah, tanpa biaya. Lewat Studio, murid bisa mencoba puluhan lab interaktif langsung di layar ponsel atau laptop. Lewat Pustaka, guru dan murid bisa membaca buku pelajaran dari pemerintah. Semuanya dengan satu akun ASIS, bersama aplikasi administrasi sekolah yang membuat guru punya lebih banyak waktu untuk menyiapkan pembelajaran yang menarik.
ASIS gratis untuk semua sekolah. Untuk pesantren, madrasah diniyah, dan TPQ, tersedia Basmalah yang juga gratis. Mulai di asis.id.
Panduan pajak belanja dana BOS untuk Bendahara: kapan memungut PPN, PPh 21, PPh 22, PPh 23, dan PPh 4 ayat 2, contoh hitungan, belanja SIPLah, dan pelaporan.
Aplikasi MA gratis bisa aman, bisa juga berisiko. Kenali model gratis yang sehat, tanda aplikasi abal-abal, dan cara mengujinya sebelum dipakai madrasah.
Cara membuat kartu inventaris ruangan KIR sekolah: kolom yang umum dipakai, contoh pengisian, kode kondisi barang, jadwal pemutakhiran, dan kesalahan umum.
Daftarkan sekolah Anda dan rasakan bagaimana satu sumber kebenaran meringankan pekerjaan sehari-hari.